<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173</id><updated>2011-07-31T04:36:24.710+07:00</updated><title type='text'>Mathematic Education              ( Nyoto adi saputro )</title><subtitle type='html'>Selamat Datang di Gubuk Reyot ini

Anda akan dijamu dengan ramuan nikmat semoga anda senang dan puas dengan sajian kami..

Selamat menikmati

 Blog ini menyimpan dan memodifikasi tentang pembahasan materi matematika</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>24</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2387108031429787384</id><published>2010-04-11T01:16:00.000+07:00</published><updated>2010-04-11T01:16:04.623+07:00</updated><title type='text'>PENGEMBANGAN PENGALAMAN BELAJAR YANG KONSTRUKTIF DAN REFLEKTIF</title><content type='html'>PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh aliran konstruktifis dalam proses belajar dan mengajar di pendidikan kedokteran membawa perubahan paradigma pendidikan kedokteran dari teacher centre kearah student centre. Mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, sedangkan peran dosen adalah sebagai fasilitator. Mahasiswa akan belajar untuk membangun pengetahuan, ketrampilan dan perilakunya berdasarkan pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang telah mereka miliki. Artinya mahasiswa akan belajar membangun suatu pengetahuan baru berdasarkan pengalaman belajar dahulu dan sekarang. Dalam proses belajar ini mahasiswa akan merasakan adanya suatu siklus pembelajaran yang akan mereka jalani. Mereka nantinya diharapkan akan memandang belajar itu bukan hanya untuk mencapai tujuan pembelajaran saja, akan tetapi mereka merasakan belajar itu sebuah proses bagaimana mereka belajar. Oleh karena itu, maka dosen harus mampu untuk menyusun kegiatan belajar yang mendorong mahasiswa menjadi aktif, berorientasi pada tujuan dan juga proses serta sesuai dengan siklus belajar (learning cycle).1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal di atas, Penulis akan mencoba untuk menyusun rencana kegiatan belajar yang akan diterapkan pada Blok Respirasi. Rencana kegiatan ini penulis susun berdasarkan learning theory, Design Instructional dan learning cycle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencana Proses Belajar Blok Respirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok Respirasi ini berjalan selama 5 minggu pada semester keempat yang terdiri dari 4 modul. Minggu satu sampai minggu ke empat adalah minggu kegiatan belajar dan mengajar. Sedangkan minggu ke lima adalah minggu penilaian untuk memutuskan kelulusan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan pembelajaran (Learning Objectives) dari Blok Respirasi yang ingin dicapai adalah :2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu melakukan anamnesis yang baik kepada pasien dengan penyakit sistem respirasi melalui penerapan prinsip komunikasi efektif.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan THT dengan benar.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan Fisik thorak (Paru-paru) dengan benar.&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu menjelaskan organ-organ yang terlibat dalam sistem respirasi dan fungsi normalnya.&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu menjelaskan etiologi, patogenesis serta patofisiologi dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;   6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu menjelaskan dan mampu merencanakan prosedur klinik dan laboratorium untuk menegakkan diagnosis dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;   7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu menjelaskan differential diagnosis, prognosis dan komplikasi dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;   8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu merencanakan manajemen (treatment, rehabilitation, prevention) dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;   9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu menjelaskan epidimiologi klinik dari dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;  10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu mendapatkan dan mengakses informasi melalui internet, on line library serta informasi-informasi baru mengenai penyakit sistem respirasi.&lt;br /&gt;  11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa mampu melakukan mawas diri sehingga dapat selalu mengembangkan dirinya dalam mempelajari masalah kesehatan sistem respirasi.&lt;br /&gt;  12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Memahami aspek etika, moral, medikolegal serta sosial yang terjadi dalam mengelola masalah dari penyakit sistem repirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok respirasi ini memiliki 12 learning objectives yang diturunkan dari tujuh area kompetensi dokter Indonesia. Untuk mencapai semua learning objectives ini, maka direncanakanlah beberapa metode kegiatan pembelajaran yaitu, Kuliah, PBL, Skill Lab, Logs Book, belajar mandiri dan pengalaman di praktek sore. Kegiatan pembelajaran ini akan didukung dengan sumber belajar/Learning Resources yaitu Dosen Pakar, Tutor, Instruktur, Website Fakultas yang terhubung dengan Internet dan LAN, Perpustakaan, study guide, Computer Assist Learning (CAL) dengan menggunakan CD-Interactive Clinical Skill dan klinik praktek sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Learning objectives (LO) yang bersifat pengetahuan (knowledge) seperti LO nomor 4, 5, 6, 7, 8 dan 9 akan dicapai dengan metode kuliah, PBL dan belajar mandiri. Tujuan pembelajaran yang bersifat ketrampilan (skill) seperti LO nomor 1, 2 dan 3 akan dicapai melalui metode belajar di laboratorium ketrampilan dan juga melalui Computer Assist Learning (CAL) dengan menggunakan CD-Interactive Clinical Skill serta klinik praktek sore. Tujuan pembelajaran yang bersifat pengembangan profesionalisme behavioral seperti LO nomor 12 dapat dicapai dengan metode PBL dan magang di klinik praktek sore. Untuk tujuan pembelajaran nomor 10 yaitu penggunaan teknologi informasi dapat diraih dengan pengalaman belajar menggunakan internet, searching literature di internet dan perpustakaan, diskusi on-line. Sedangkan untuk tujuan pembelajaran nomor 11 yaitu mahasiswa mampu melakukan mawas diri sehingga dapat selalu mengembangkan dirinya dapat diraih dengan pengalaman belajar membuat Logs Book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah merupakan metode pengajaran yang telah lama diterapkan di dunia pendidikan kedokteran. Kuliah yang diterapkan pada metode lama bersifat satu arah dan lebih bersifat mengajarkan informasi faktual saja. Dengan penerapan PBL maka metode kuliah yang diterapkan bersifat dua arah dan lebih student centre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah blok ini terdiri dari tiga bagian :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kuliah introduksi blok Respirasi. Kuliah ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai materi blok respirasi ini. Kuliah ini berdurasi selama 2×50 menit dan diberikan hanya sekali pada waktu awal blok respirasi. Kuliah ini pada satu sesi pertama (1×50 menit) akan diberikan dari bagian Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokkan (THT) yang membahas tentang saluran napas bagian atas secara umum. Sesi kedua (1×50 menit) akan diberikan dari bagian Ilmu Penyakit Dalam yang membahas tentang saluran napas bagian bawah secara umum. Kuliah introduksi ini juga menjelaskan bagaimana cara belajar dan mencari sumber belajar di blok ini.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kuliah introduksi modul. Kuliah ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum mengenai materi modul. Kuliah ini berdurasi selama 2×50 menit dan diberikan setiap awal minggu.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kuliah Konfirmasi. Kuliah ini bertujuan untuk memberikan kesamaan persepsi terhadap hal-hal yang telah didapat selama diskusi tutorial. Mahasiswa dapat menanyakan isu-isu pembelajaran yang belum jelas dan menyatukan persepsi yang berbeda mengenai suatu isu pembelajaran. Kuliah ini disampaikan dalam bentuk kuliah panel dimana ada beberapa pakar yang akan membahas masalah yang ditanyakan oleh mahasiswa. Kuliah ini berdurasi selama 2×50 menit dan dilaksanakan diakhir setiap minggu dari Blok ini. Pada kuliah ini dominasi dua arah sangat ditekankan antara mahasiswa dengan dosen pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam metode penyampaian kuliah adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kuliah introduksi Blok dan Introduksi Modul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen harus mengetahui bahwa tujuan kuliah ini adalah sebagai overview. Karena kuliah ini diberikan diawal maka diharapkan dosen yang menyampaikan kuliah ini dapat memberikan kesan yang bisa memotivasi mahasiswa untuk ingin tahu dan ingin mempelajari blok ini dengan dalam dan penuh arti. Dosen dapat menggunakan gambar, video atau multimedia lain untuk menarik perhatian mahasiswa. Konsep ini sesuai dengan prinsip Gagne’s nine even Instructional Design pada even pertama yaitu gaining attention. Kuliah ini juga menjelaskan tujuan pembelajaran dari blok ini sesuai dengan prinsip Gagne’s nine even Instructional Design pada even kedua yaitu inform the learner of the objective. Kuliah ini juga harus memberikan informasi bagaimana caranya mahasiswa belajar untuk mencari informasi atau sumber belajar yang bisa dilakukan dengan memberikan judul buku utama dan buku tambahan yang berhubungan dengan Blok ini.1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Kuliah Konfirmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen pakar yang terdiri dari beberapa orang di bidang THT, Penyakit Dalam dan Penyakit Paru diharapkan memiliki kesamaan pandangan dalam membahas suatu masalah dan mampu saling mengintegrasikan ilmu mereka dalam bentuk konsep-konsep yang mudah dipahami oleh mahasiswa. Pada kuliah konfirmasi ini penting sekali proses pembentukkan konsep di dalam pikiran mahasiswa daripada memberikan informasi yang bersifat faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang bahwa Blok ini sedikit sekali metode kuliah maka blok ini akan didukung dengan penerapan Teknologi Informasi berupa Website yang terhubung secara internet dan Local Area Network (LAN). Isi Website ini lebih dominan tentang informasi faktual seperti anatomi, histology, fisiologi dan farmakologi sistem respirasi. Dengan adanya website ini dapat mengakomodasi cara belajar mahasiswa. Metode kuliah biasanya efektif selama 45-50 menit dimana mahasiswa belum merasa bosan. Dengan website ini, dosen tidak perlu lagi menyampaikan kuliah yang berisi fact karena mahasiswa dapat membacanya di website yang telah disediakan, sehingga dengan waktu yang disediakan terbatas dosen diharapkan dapat menyampaikan konsep dan key poin dari sistem respirasi secara efektif. Website ini juga akan berisi link-link website lain yang dapat menunjang materi blok ini.1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Website ini juga akan memberikan diskusi on-line yang diadakan sekali dalam seminggu (diakhir skenario). Diskusi on-line ini bertujuan untuk membantu mahasiswa dalam merefleksikan hasil diskusi tutorial yang telah dilalui dan cara belajar mereka. Diskusi ini menggunakan forum chat dan diutamakan bagi mahasiswa yang tingkat kemandirian belajarnya lemah dimana perlu banyak bimbingan dosen. Karakteristik mahasiswa yang kemandirian belajarnya lemah dapat didiagnosis dengan menggunakan Self Directness Learning Scale. 5,6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBL Small Group Discussion&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem Based Learning (PBL) merupakan salah satu metode belajar yang diterapkan di blok ini. PBL dapat meningkatkan critical thingking, problem solving dan reflective thingking para mahasiswa. PBL diterapkan dengan cara diskusi dalam kelompok kecil (10 orang mahasiswa per kelompok). PBL di blok ini terdiri dari empat skenario, dimana satu skenario berjalan selama satu minggu. 1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema skenario pertama dan kedua adalah masalah saluran napas bagian atas, dengan kasus skenarionya berupa video klip singkat berdurasi 15 menit yang dibuat berdasarkan masalah kesehatan sehari-hari di puskesmas khususnya mengenai penyakit saluran napas bagian atas. Tema skenario ketiga dan keempat adalah mengenai masalah kesehatan saluran pernapasan bagian bawah, dengan penyajian kasusnya berupa video klip singkat berdurasi 15 menit yang diambil dengan latar belakang kasus penyakit saluran napas bagian bawah di rumah sakit primer tipe satu. Akan tetapi pada akhir Blok ini, setiap kelompok harus mengumpulkan 5 kasus masalah kesehatan saluran napas bagian atas dan 5 kasus masalah saluran napas bagian bawah disertai analisa mengenai kasus tersebut. Kasus – kasus tersebut bisa diambil dari website, majalah, surat khabar atau media lain. Tujuan mahasiswa ditugaskan untuk mencari kasus-kasus ini adalah agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan di diskusi skenario pertama, kedua, ketiga dan keempat pada kontek yang kemungkinan agak berbeda atau dengan kata lain untuk pengayaan materi pembelajaran dan retensi. Hal ini sesuai dengan prinsip Gagne’s nine even Instructional Design pada even ke Sembilan yaitu enhancing retention and transfer.1,3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBL ini akan menggunakan metode seven jumps yang terdiri :1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Identifikasi dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada di dalam skenario. (sekretaris mencatat kata-kata yang masih belum dimengerti setelah didiskusikan)&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Penentuan masalah. Setiap anggota memiliki bermacam perspektif masalah, akan tetapi harus dicari masalah yang disepakati bersama. (sekretaris mencatat daftar masalah yang telah disetujui).&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Brainstorming. Anggota kelompok mendiskusikan dan menjelaskan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki (prior knowledge). Identifikasi area pengetahuan yang kurang. (sekretaris menulis yang didiskusikan).&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Berdasarkan langkah 2 dan 3 maka disusun penjelasan masalah dalam bentuk penjelasan sementara (tentative solution). (sekretaris mencatat penjelasan masalah sementara yang telah didiskusikan).&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Penentuan Tujuan pembelajaran yang akan diraih. (Tutor mengarahkan agar tujuan pembelajaran fokus, dapat dicapai, komprehensip dan sesuai dengan yang diharapkan.)&lt;br /&gt;   6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Belajar mandiri. Mahasiswa belajar mandiri untuk mencari informasi yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.&lt;br /&gt;   7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Setiap anggota kelompok menjelaskan hasil belajar mandiri mereka dan saling berdiskusi. (Tutor menilai jalannya proses ini sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laboratorium Ketrampilan (Skill Lab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketrampilan klinik yang diajarkan di blok respirasi ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ketrampilan Komunikasi.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ketrampilan Pemeriksaan Fisik Telinga, Hidung dan tenggorokkan (THT).&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Ketrampilan pemeriksaan Fisik Thorak (Paru-paru).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ketrampilan akan memakan waktu dua minggu. Untuk ketrampilan komunikasi, para mahasiswa pada pertemuan minggu pertama akan diajarkan mengenai ketrampilan komunikasi oleh instruktur selama 2×50 menit. Instruktur akan memberi contoh cara berkomunikasi yang baik dan efektif dengan pasien. Pasien yang digunakan disini adalah para karyawan yang telah mendapat pelatihan untuk menjadi standar pasien. Instruktur disini adalah dosen klinik yang memiliki kredibilitas dan telah melalui pelatihan Instruktur Klinik sehingga mengerti cara mengajar suatu ketrampilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa dapat belajar mandiri mengenai ketrampilan ini di laboratorium ketrampilan pada waktu yang telah ditentukan. Dalam belajar mandiri ini mahasiswa saling melakukan refleksi mengenai pembelajaran yang telah mereka alami dan lalu diberi feedback oleh temannya sendiri. Untuk lebih menunjang proses belajar ini, mahasiswa dapat meminjam CD-Interactive Clinical Skill agar mereka dapat menggunakannnya di rumah untuk belajar. Pada minggu kedua mahasiswa akan melakukan ketrampilan komunikasi ini seperti minggu pertama, hanya saja mereka akan dinilai sebagai formatif test untuk menilai kemajauan belajar dan kekurangan mereka pada area ketrampilan ini oleh instruktur. Untuk ketrampilan pemeriksaan THT dan Paru juga mengikuti pola pembelajaran yang sama seperti ketrampilan komunikasi ini.1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman di Praktek Sore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengalaman belajar ini, setiap orang mahasiswa hanya akan mendapat dua hari untuk mengikuti praktek sore. Tempat praktek sore tersebut adalah di tempat praktek sore dokter yang menjadi tutor dan instruktur mahasiswa. Untuk melaksanakan program ini perlu mendapat kesepakatan bagi dokter tersebut. Pengalaman selama dua hari ini diharapkan dapat memperkenalkan masalah kesehatan di blok ini pada real setting dan menjadi pemicu motivasi mahasiswa untuk belajar. Program ini merupakan suatu jalan keluar di mana untuk memperkenalkan mahasiswa dengan real setting dapat dikelola dengan mudah, tidak seperti di rumah sakit dan puskesmas yang memerlukan pengelolaan dan supervisei yang tidak mudah. 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari pelaksanaan program ini adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk memperkenalkan kepada mahasiswa mengenai masalah kesehatan khususnya masalah kesehatan respirasi dalam setting sebenarnya sehingga mahasiswa mengerti apa, bagaimana dan mengapa perlunya mereka mempelajari blok respirasi ini.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Meningkatkan motivasi mahasiswa untuk belajar.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Memupuk rasa kolegalitas dan juga menghilangkan gap antara mahasiswa dan tutor serta instruktur sehingga dalam proses diskusi tutorial dan ketrampilan klinik mahasiswa tidak canggung karena para mahasiswa sudah dekat dengan tutor atau instrukturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaannya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dengan perkiraan tiap kelompok terdiri dari 10 mahasiswa dan dibimbing oleh minimal satu orang tutor dan minimal satu orang instruktur maka dibuat penjadwalan dimana 10 mahasiswa ini akan melihat praktek dokter (tutor) bergantian selama 10 hari. Artinya satu mahasiswa akan mendapat kesempatan melihat praktek dokter (tutor) satu hari. Lalu hari berikutnya digantikan oleh mahasiwa yang lainnya. Jadi dokter (tutor) hanya didampingi oleh satu orang mahasiswa saja agar tidak menganggu praktek dokter tersebut. Tugas mahasiswa melihat, membantu dokter dan mencatat pengalaman belajar apa saja yang mereka alami selama proses ini.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Begitu juga dengan dokter (instruktur), Mereka akan didampingi oleh satu orang mahasiwa tiap hari selama 10 hari (sama seperti pola di atas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menyadari bahwa program belajar ini masih berat diterapkan sehingga untuk memperkenalkan metode ini maka perlu perlahan-lahan. Oleh karena itu program ini memerlukan kesukarelaan dari tutor dan instruktur untuk memberikan kesempatan mahasiswa untuk belajar. Pihak Fakultas hendaknya dapat mendukung program ini dengan cara turut membantu dalam menyediakan fasilitas tempat praktek sore dokter tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logs Book&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logs Book adalah salah satu bentuk learning journal yang digunakan dalam proses pembelajaran di dalam blok ini. Para mahasiswa diminta untuk menggambarkan kembali tentang pengalaman belajar yang telah mereka alami berupa kelebihan, kekurangan dan seberapa jauh hasil yang telah dicapai. Logs Book ini dapat mendorong mahasiswa untuk menyadari dan merefleksikan pengalaman belajar yang telah mereka jalani. Logs Book ini merupakan langkah penting untuk mengajarkan kepada mahasiswa untuk mengontrol dan memanajemen proses belajar mereka.7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosedur :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Logs Book diberikan kepada setiap mahasiswa.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dosen menjelaskan tujuan, mamfaat dan petunjuk menggunakan Logs Book.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Logs Book bagi mahasiswa yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk merekam pengalaman belajar.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk meningkatkan kemampuan refleksi mahasiswa terhadap proses pembelajaran.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk membuat mahasiswa menyadari tentang proses belajarnya sendiri.&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk mengevaluasi kemajuan belajar mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Logs Book bagi Dosen yaitu sebagai alat bagi dosen untuk menilai dan mengevaluasi proses belajar yang telah dialami oleh mahasiswa sehingga dosen dapat memberikan feedback berdasarkan hasil refleksi mahasiswa tersebut di dalam Logs Book.8,9,10,11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk penggunaan Logs Book:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Mahasiswa diminta untuk menuliskan hal-hal yang mereka pikirkan dan rasakan tentang kegiatan belajar yang telah dialami. Mahasiswa menulis Logs Book-nya tidak dibatasi dan dibebani harus beberapa paragraf dan juga tidak perlu merasa khawatir dengan kesalahan tata penulisan dan ejaan. Cara pengisian Logs Book ini sama seperti cara pengisian buku diary atau mengisi catatan pengalaman pribadi di Blogger atau friendster. 8,9,10,11&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hal-hal yang perlu ditulis di dalam Logs Book secara umum yaitu : 8,9,10,11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hasil belajar yang ingin dicapai dan sudah berapa besar pencapaiannya&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Jenis aktivitas pembelajaran untuk mencapai hasil pembelajaran&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bagaimana kaitan antara pengalaman belajar dengan kehidupan atau pekerjaan mereka nantinya.&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Apa yang bisa dipetik dari pengalaman belajar yang telah mereka alami.&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hal-hal apakah yang masih perlu diperbaiki.&lt;br /&gt;   6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Rencana yang akan mereka kerjakan untuk memperbaiki proses belajar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Hal-hal yang perlu ditulis di dalam Logs Book secara khusus yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk pengalaman belajar berupa kuliah, mahasiswa dapat menuliskan masalah dan pertanyan-pertanyaan yang berkenaan isi kuliah tersebut yang sudah mereka pahami dan juga yang belum jelas bagi mereka atau apa yang tidak mereka setujui dari kuliah tersebut. Selanjutnya mereka membuat suatu perencanaan untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang tersebut pada kuliah berikutnya.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk pengalaman belajar berupa PBL diskusi tutorial, mahasiswa dapat menuliskan sasaran belajar dari diskusi, peran mahasiswa tersebut dalam diskusi (sebagai ketua,sekretaris atau anggota),hal-hal yang telah mereka kuasai atau dapatkan dari diskusi, hal-hal yang belum jelas atau hal-hal yang tidak disetujui dalam diskusi tersebut. Selanjutnya mereka membuat suatu perencanaan untuk memperbaiki hal-hal yang masih kurang tersebut pada diskusi berikutnya.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Untuk pengalaman belajar berupa skill labs mahasiswa dapat menuliskan tujuan belajar yang ingin dicapai, seberapa besar pencapaian, rencana apa yang akan dikerjakan bila pencapaian belum sesuai yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Pada akhir dua skenario PBL (setelah dua minggu) mahasiswa diminta menggumpulkan Logs Book mereka kepada Dosen atau Tutor yang akan memberikan feedback. Sebelum dikumpul mahasiswa diminta untuk melakukan peer-assesment untuk saling mendiskusikan dan memberi tanggapan terhadap isi Logs Book yang telah mereka tulis. Hasil penilaian teman berupa feedback ditulis dalam halaman yang telah disediakan. Selanjutnya Logs Book dikumpulkan kepada dosen. Dosen akan menuliskan feedback pada halaman yang telah disediakan di dalam Book Logs. 8,9,10,11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penilaian formatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penilaian formatif adalah untuk menilai sejauh mana kemajuan mahasiswa dalam belajar dan mengidentifikasi area-area kekurangan yang mahasiswa perlu kembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian formatif ini dilakukan melalui :1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Diskusi tutorial&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Logs Book&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penilaian Sumatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian Sumatif bertujuan untuk memutuskan kelulusan mahasiswa dalam blok ini. Komponen Penilaian Sumatif ini meliputi : 1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nilai Ujian tertulis&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nilai OSCE&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Nilai diskusi tutorial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori belajar Kontruktifis memandang bahwa belajar adalah proses aktif di mana mahasiswa mengkonstruksi ide, konsep atau pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang di dapat dahulu dan sekarang. Para mahasiswa dalam membangun pengetahuan baru tersebut akan menemukan sebuah siklus pembelajaran (learning cycle), yang mana Kolb menjelaskan proses belajar itu meliputi perencanaan (plan), pelaksanaan (do), refleksi, menyimpulkan dan lalu kembali lagi ke perencanaan. Penyusunan kegiatan belajar dan mengajar (Instructional Design) yang mendukung teori belajar Konstruktifis dan learning cycle salah satunya adalah Gagne’s nine even Instructional Design. Para Dosen dalam membuat rencana kegiatan proses pembelajaran dan pengajaran diharapkan harus memahami konsep tentang teori belajar, siklus belajar dan Instructional Design, sehingga para Dosen dapat membuat rencana kegiatan belajar dan mengajar yang memotivasi mahasiswa untuk belajar membangun pengetahuan dengan pendekatan belajar yang mendalam (deep learning) serta penuh makna (meaningful).1,3,4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Dent JA, Harden RM, Editors. A Practical Guide For Medical Teachers. Elsevier Churchill Livingstone, 2006.&lt;br /&gt;   2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Konsil Kedokteran Indonesia. Buku Standar Kompetensi Dokter Indonesia. Jakarta, 2006.&lt;br /&gt;   3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Gagne RM, Briggs LJ. and Wager WW. Principles of Instructional Design. Harcourt Brace Jovanovich College Publishers, 1992.&lt;br /&gt;   4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Amin Z, Eng KH. Basics in Medical Education. Singapore: World Scientific Publishing, 2003.&lt;br /&gt;   5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Brockett RG., Hiemstra R. Self Direction in Adult Learning: Perspectives on Theory, Research, and Practice. London and New York: Routledge, 1991.&lt;br /&gt;   6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Bransford JD, Brown AL, and Cocking RR, editors. How People Learn: Brain, Mind, Experience, and School. The National Academy of Sciences, 1999.&lt;br /&gt;   7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Silberman ML. Active Learning : 101 Sreategies to Teach Any Subject. Boston : Allyn and Bacon, 1996.&lt;br /&gt;   8.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      JMU. Overview: What Do We Mean By Reflective Learning?. [cited 2007 March 21 :19 screen]:Available from URL: http://cwis.livjm.ac.uk/lid/ltweb/ldu_14/annex1_02.htm&lt;br /&gt;   9.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Richards JC. Towards Reflective Teaching. [cited 2007 March 21 : 5 screen]:Available from URL: http://www.tttjournal.co.uk&lt;br /&gt;  10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      the IfL Centre for Learning Development. Reflective Learning. [cited 2007 March 21 : 3 screen]:Available from URL: www.hull.ac.uk/studyadvice&lt;br /&gt;  11.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Strauss et all, Reflective Learning in Community-Based Dental Education. Journal of Dental Education. 2003 November; 67(11): 1234-1242&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2387108031429787384?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2387108031429787384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2387108031429787384&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2387108031429787384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2387108031429787384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/04/pengembangan-pengalaman-belajar-yang.html' title='PENGEMBANGAN PENGALAMAN BELAJAR YANG KONSTRUKTIF DAN REFLEKTIF'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2332843964626457676</id><published>2010-02-19T23:22:00.000+07:00</published><updated>2010-02-19T23:22:24.409+07:00</updated><title type='text'>Strategi Pembelajaran Langsung melalui Berbagi Pengetahuan Secara Aktif</title><content type='html'>________________________________________&lt;br /&gt;Strategi Pembelajaran Langsung melalui Berbagi Pengetahuan Secara Aktif&lt;br /&gt;Cara lain untuk menjadikan siswa belajar aktif dari awal dapat menggunakan berbagai strategi, misalnya strategi pembelajaran langsung melalui berbagi pengetahuan secara aktif. Strategi pembelajaran langsung ini dirancang untuk mengenalkan siswa terhadap mata pelajaran guna membangun minat, menimbulkan rasa ingin tahu, dan merangsang mereka untuk berpikir. Siswa tidak bisa berbuat apa–apa jika pikiran mereka jika dikembangkan oleh guru. Banyak guru yang membuat kesalahan dengan mengajar, yakni sebelum siswa merasa terlibat dan siap secara mental guru langsung memberikan materi pelajaran. Penggunaan beberapa strategi berikut ini akan mengoreksi terjadi kecenderungan ini.&lt;br /&gt;Menurut Silbernam (2006), strategi pembelajaran langsung melalui berbagai pengetahuan secara aktif merupakan cara untuk mengenalkan siswa kepada materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru juga dapat menggunakannya untuk menilai tingkat pengetahuan siswa sambil melakukan kegiatan pembentukan tim. Cara ini cocok pada segala ukuran kelas dengan materi pelajaran apapun.&lt;br /&gt;PROSEDUR&lt;br /&gt;Sediakan daftar pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran yang akan diajarkan. Guru dapat menyertakan beberapa atau semua dari kategori–kategori berikut ini.&lt;br /&gt;• Kata-kata untuk mendefinisikan (misalnya. “apa arti ‘ambivalen’?) &lt;br /&gt;• Pertanyaan pilihan ganda mengenai fakta atau konsep (misalnya, “tes psikologi baru absah jika (a) secara konsisten mengukur atribut dan (b) mengukur apa yang memang hendak ia ukur”)&lt;br /&gt;• Orang yang hendak diidentifikasikan (misalnya, “Siapakah George Washington Carver?”) &lt;br /&gt;• Pertanyaan–pertanyaan tentang tindakan yang bisa diambil oleh seseorang dalam situasi tertentu (misalnya, “Bagaimana Anda mendaftarkan diri untuk mendapatkan hak pilih?”)&lt;br /&gt;• Kalimat tidak lengkap (misalnya, “________mengidentifikasi kategori dasar dari tugas yang dapat kalian kerjakan menggunakan program komputer”)&lt;br /&gt;Contohnya, seorang guru sejarah dapat memulai pembelajaran tentang abad ke-20 dengan membagikan kuis berikut ini.&lt;br /&gt;1. Apa yang terjadi dalam tahun–tahun berikut ini : 1928, 1945, 1965, 1998?&lt;br /&gt;2. Kenali nama–nama berikut ini: Mussolini, Chamberlain, Trotsky, atau McCarthy (Joseph dan Eugene)&lt;br /&gt;3. Menurut pendapat kalian, peristiwa terpenting apakah yang terjadi dalam abad ke-20?&lt;br /&gt;Guru meminta siswa untuk menjawab pertanyaan–pertanyaan itu menurut pengetahuannya masing-masing.&lt;br /&gt;Kemudian perintahkan para siswa untuk menyebar di dalam ruangan, mencari siswa yang dapat menjawab pertanyaan yang mereka sendiri tidak dapat menjawabnya. Pada kegiatan ini guru mendorong siswa untuk saling membantu.&lt;br /&gt;Guru memerintahkan para siswa untuk kembali ke tempat semula dan membahas jawaban yang telah mereka dapatkan. Jika pertanyaan tadi tidak ada satupun siswa mampu menjawabnya, guru dapat membantu dan membimbing siswa untuk menjawab pertanyaan itu. Guru dapat menggunakan informasi ini (terhadap pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh siswa) sebagai cara untuk memperkenalkan topik–topik penting dalam mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VARIASI&lt;br /&gt;1. Berikan satu lembar kartu indeks kepada tiap siswa. Perintahkan mereka untuk menuliskan satu informasi yang menurut mereka akurat tentang materi yang diajarkan. Suruhlah para siswa untuk berpencar di dalam kelas, berbagi pendapat tentang apa yang mereka tuliskan pada kartu tersebut. Doronglah mereka untuk menuliskan informasi baru yang dikumpulkan oleh siswa lain. Bila mereka sudah kembali ke kelompok masing masing bahaslah informasi yang berhasil dikumpulkan.&lt;br /&gt;2. Gunakan pertanyaan opini, bukannya pertanyaan faktual, atau gabungkan pertanyaan faktual dengan pertanyaan opini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2332843964626457676?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2332843964626457676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2332843964626457676&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2332843964626457676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2332843964626457676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/02/strategi-pembelajaran-langsung-melalui.html' title='Strategi Pembelajaran Langsung melalui Berbagi Pengetahuan Secara Aktif'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2895528108296460777</id><published>2010-01-27T22:20:00.002+07:00</published><updated>2010-01-27T22:20:24.284+07:00</updated><title type='text'>PENELITIAN ILMIAH</title><content type='html'>PENELITIAN ILMIAH &lt;br /&gt;Jenis Penelitian dapat kita klasifikasikan kedalam beberapa jenis :&lt;br /&gt;1. Bila ditinjau dari sudut data yang diperoleh maka penelitiandapat kita bagi menjadi dua jenis yaitu Penelitian Kualitatif dan Penelitian Kwantitatif.&lt;br /&gt;2. Bila ditinjau dari penerapannya maka dapat kita kelompokkan menjadi dua yaitu Penelitian Dasar (Basic Research) dan Penelitian Terapan (Applied Research).&lt;br /&gt;3. Bila ditinjau dari sudut proses, maka penelitian dapat kita bagi menjadi beberapa kelompok yaitu Penelitian Historis, Deskriptif, Eksperimen, Korelasional, Tindakan Kasus, Perkembangan dan lain-lain.&lt;br /&gt;Jenis penelitian Kuantitatif dapat kita bagi menjadi :&lt;br /&gt;1. Penelitian Fenomologi.&lt;br /&gt;2. Penelitian Sejarah.&lt;br /&gt;3. Studi Kasus (Case Study).&lt;br /&gt;4. Penelitian Etnografi.&lt;br /&gt;5. Grounded Theory.&lt;br /&gt;6. Penelitian Tindakan.&lt;br /&gt;Jenis penelitian Kuantitatif dapat kita bagi menjadi :&lt;br /&gt;1. Penelitian Deskriptif.&lt;br /&gt;2. Penelitian Komparatif.&lt;br /&gt;3. Penelitian Korelasi.&lt;br /&gt;4. Penelitian Eksperimen.&lt;br /&gt;5. Penelitian Espost Facto.&lt;br /&gt;Dalam topik ini saya akan membahas tentang penelitian kwantitatif, yang pada decade yang lalu sering dihindari oleh para mahasiswa baik yang mengambil S1, S2, maupun S3.&lt;br /&gt;Pertanyaannya kenapa dihindari?&lt;br /&gt;Jawabannya simple. Karena metode penelitian kwantitatif sangat jelimet sehingga para peneliti sering menghidari metode ini, disamping itu teknik analsisnya menggunakan matematika yang tidak semua orang suka akan matematika apalagi yang berhubungan dengan statistic. Tapi belakangan setelah program computer mudah didapat dengan biaya yang murah dan terjangkau maka para peneliti lebih menyukai metode kwantitatif.&lt;br /&gt;Berikut ini saya akan membahas penelitian Kwantitatif, bagaimana caranya menggunakan metode ini dan penerapannya untuk apa?&lt;br /&gt;Penelitian kuantitatif merupakan suatu penelitian yang dilakukan untuk mendapatkan jawaban dari suatu fenomena (kejadian) yang dilandasi oleh teori-teori yang sudah terbangun dan diteliti oleh para ahli sebelumnya (peneliti terdahulu). Untuk itu peneliti perlu membuat hipotesis terlebih dahulu dan selanjutnya membuktikan hipotesis tersebut dengan metode statistic.&lt;br /&gt;Jadi dengan kata lain penelitan kuantitatif bertujuan untuk membuktikan teori yang sudah terbangun dengan metode statistic dan mencari tau mengapa fenomena itu terjadi. Sementara metode Kwalitatif bertujuan untuk membagun teori baru yang berhubungan dengan fenomena yang teliti dan tidak menggunakan metode statistic untuk mengujinya.&lt;br /&gt;Penelitian Kwantitatif dapat kita bagi dua :&lt;br /&gt;1. Non Parametric Test&lt;br /&gt;2. Parametric Test&lt;br /&gt;NONPARAMETRIC TEST &lt;br /&gt;Statistik nonparametrik adalah analisis yang tidak menggunakan parameter-parameter dan tidak mensyaratkan data harus berdistribusi normal.&lt;br /&gt;Note : analisis statistik parametrik menggunakan parameter-parameter seperti mean, deviasi standar, variansi dll. &lt;br /&gt;Metode analisis non parametric menjadi analisis alternatif apabila persyaratan pada analisis parametri tidak terpenuhi, seperti data tidak berdistribusi normal atau tidak terpenuhinya asumsi-asumsi tertentu.&lt;br /&gt;Analisis Nonparametrik terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Analisis Chi Square.&lt;br /&gt;2. Binomial.&lt;br /&gt;3. Analisis Runs.&lt;br /&gt;4. One Sample Kolmogorov-Smirnov Test.&lt;br /&gt;5. Two Independent Samle Tests.&lt;br /&gt;6. K Independent Samlpe Tests.&lt;br /&gt;7. Two Related Samples Tests.&lt;br /&gt;8. K Related Samle Tests.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chi Square &lt;br /&gt;Analisis Chi Square adalah analisis untuk mengetahui apakah distribusi data seragam atau tidak, Uji ini juga disebut uji keselarasan (goodness of fit test).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BINOMIAL &lt;br /&gt;Uji Binomial digunakan untuk mengetahui apakah proporsi pengamatan sama dengan populasi yang dihipotesisiskan. Binomial ini untuk menguji data berskala nominal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUNS &lt;br /&gt;Uji Runs digunakan untuk mengetahui apakah suatu pengamatan, peristiwa, atau kejadian bersifat random.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One Sample Kolmogorov- Smirnov Test&lt;br /&gt;One Sample Kolmogorov-Smirnov Test digunakan untuk mengetahui distribusi populasi, apakah mengikuti distribusi secara teoritis (normal, poisson, uniform, atau exponential).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kosmogorov-Smirnov Test&lt;br /&gt;Kosmogorov-Smirnov Test digunakan untuk menguji data berskala interval dan rasio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two Independent Sample Tests &lt;br /&gt;Two Independent Sample Tests digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua kelompok data yang independen. &lt;br /&gt;Uji ini sama dengan Two Independent Sample T Tests, bedanya uji ini hanya dapat untuk mengukur data berskala ordinal dan tidak mensyarakan data berdistribusi normal.&lt;br /&gt;Uji Two Independent Sample T Tests yaitu Uji Mann Whitney U, Moses extreme reactions, Wald-Wolwofits run, dan Kolmogorov-Smirnov Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K Independent Sample Tests &lt;br /&gt;K Independent Sample Test digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua atau lebih kelompok data yang independen.&lt;br /&gt;Uji ini sama dengan uji One Way ANOVA, bedanya uji ini hanya dapat untuk mengukur data berskala ordinal dan tidak mensyaratkan data distribusi normal. Uji yang digunakan dalam K Independent Sampe Test adalah Uji Kruskal-Wallis H, Jonckheree-Terpstra, dan Uji Median.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Two Related Sample Tests &lt;br /&gt;Two Related Sample Tests digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara dua variabel yang berpasangan atau berhubungan. Uji ini sama dengan uji Uji Paired Samples T Test, bedanya uji ini hanya dapat untuk mengukur data berskala ordinal dan tidak menpersyaratkan data berdistribusi normal.&lt;br /&gt;Uji digunakan dalam Two Related Samples Test adalah Uji Wilcoxon, Uji Sign, Uji Mc Nemar, dan Marginal Homogeneity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K Related Sample Tests &lt;br /&gt;K Related Sample Tests adalah suatu pengujian untuk membandingkan distribusi antara dua variabel atau lebih yang berhubungan.&lt;br /&gt;Uji ini berguna untuk mengukur data berskala nominal dan ordinal. &lt;br /&gt;Uji yang digunakan dalam K Related Sample Tests adalah Uji Friedman, Kendall’s W dan Cochran’s Q.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALYSIS PARAMETRIC &lt;br /&gt;Analisis Statistik Parametrik adalah analisis yang menggunakan parameter-parameter seperti mean, deviasi standar, variansi, dan data harus berdistribusi secara normal.&lt;br /&gt;Analisis secara parametrik terdiri dari :&lt;br /&gt;1. DESCRIPTIVE STATISTICS&lt;br /&gt;2. COMPARE MEANS&lt;br /&gt;3. GENERAL LINEAR MODEL&lt;br /&gt;4. CORRELATE&lt;br /&gt;5. REGRESSION&lt;br /&gt;6. RELIABILITY ANALYSIS&lt;br /&gt;1. DESCRIPTIVESSTATISTICS &lt;br /&gt;Descriptive Statistics terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Frequencies&lt;br /&gt;2. Descriptives &lt;br /&gt;3. Explore&lt;br /&gt;4. Crosstabs &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FREQUENCIES&lt;br /&gt;Frequencies atau analisis frekuensi dipakai untuk menghitung frekuensi data pada variabel untuk analisis statistik seperti percentile value, central tencency, dispersion, dan distribution, serta untuk menampilkan grafik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DESCRIPTIVES &lt;br /&gt;Descriptive atau Analisis Deskriptif yaitu penggambaran tentang statistik data seperti mean, sum, standar deviasi, variance, range, dan lain-lain, serta untuk mengukur distribusi data dengan skewness dan kurtosis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANALYSIS EXPLORE &lt;br /&gt;Analisis eksplorasi adalah penggambaran tentang statistik data yang lebih mendalam dan untuk melakukan uju normalitas.&lt;br /&gt;Analisis Ekplorasi terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Analisis Eksplorasi tanpa faktor &lt;br /&gt;2. Analisis Eksplorasi dengan faktor &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Ekplorasi tanpa faktor &lt;br /&gt;Analisis Ekplorasi tanpa faktor adalah analisis tanpa menggunakan variabel faktor atau kategori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Ekplorasi dengan faktor &lt;br /&gt;Analisis Ekplorasi dengan faktor adalah analisis yang menggunakan variabel faktor atau kategori. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CROSSTABS &lt;br /&gt;Analisis Crosstab (tabel silang), merupakan alat analisis untuk menggambarkan tentang data yang berbentuk kolom dan baris serta berfungsi untuk menganalisis hubungan antara baris dan kolom dengan analisis statistik seperti Chi Square, Correlations, Contingency coefficient, Lambda, Eta, Kappa, McNemmar, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Analisis Crosstab dapat dibagi dua :&lt;br /&gt;1. Analisis Crosstab dengan menggunakan data nominal&lt;br /&gt;2. Analisis Crosstab dengan menggunakan data ordinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. COMPARE MEANS &lt;br /&gt;Compare Means terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Mean&lt;br /&gt;2. One Sample T Test&lt;br /&gt;3. Independent Samples T Test&lt;br /&gt;4. Paired Samples T Test&lt;br /&gt;5. One Way ANOVA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEANS &lt;br /&gt;Means merupakan alat analisis untuk menggambarkan statistik data pada variabel berkelompok, seperti rata-rata (mean), standar deviasi, sum, minimum, maksimum, dan analisis statistik lainnya, serta untuk menampilkan tabel ANOVA dan menguji linearitas antara variabel dependen dan independen. &lt;br /&gt;Biasanya data yang digunakan terdiri atas rasio (scale) sebagai variabel dependen dan data nominal atau ordinal (kategori) sebagai variabel independen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ONE SAMPLE T TEST &lt;br /&gt;One Sample T Test adalah analisis yang digunakan untuk menguji rata-rata sebuah sample yang dibandingkan dengan rata-rata populasi. &lt;br /&gt;Biasanya data yang digunakan adalah data populasi rasio (scale). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDEPENDENT SAMPLES T TEST &lt;br /&gt;Independent Samples T Test (Uji beda 2 rata-rata) digunakan untuk menguji dua rata-rata pada dua kelom data yang independen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAIRED SAMPLES T TEST &lt;br /&gt;Paired Samples T Test adalah analisis yang digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata antara dua sample yang berpasangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ONE WAY ANOVA &lt;br /&gt;One Way ANOVA (analisis variansi satu jalur) adalah analisis yang digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata dua atau lebih kelompok data yang independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. GENERAL LINEAR MODEL &lt;br /&gt;General Linear Model terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Univariate &lt;br /&gt;2. Multivariate&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UNIVARIATE &lt;br /&gt;Univariate adalah analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara satu atau lebih variabel faktor, variabel Random faktor, dan Covariate dengan satu variabel dependen. &lt;br /&gt;Univariate dapat digunakan untuk analisis sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. One Way ANOVA dengan menggunakan satu variabel faktor dan variabel dependen &lt;br /&gt;2. Two Way ANOVA dengan menggunakan dua variabel faktor dan variabel dependen &lt;br /&gt;3. ANOVA (Analysis of Covariance) dengan menggunakan satu variabel faktor, satu variabel Covariate, dan variabel dependen &lt;br /&gt;4. Account for Random Effects dengan menggunakan dua variabel faktor, satu variabel Random Faktor, dan variabel dependen &lt;br /&gt;5. Linear Regression dengan menggunakan variabel Covariate dan variabel dependen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MULTIVARIATE &lt;br /&gt;Mulltivariate adalah analisis yang digunkan untuk mengetahui hubungan antara satu atau lebih variabel faktor dan Covariate dengan dua atau lebih variabel dependen.&lt;br /&gt;Perbedaan dengan Univariate, yaitu jika analisis Univariate menggunakan satu variabel dependen, sedangkan Multivariate menggunakan lebih dari satu variabel dependen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. CORRELATE &lt;br /&gt;Correlate terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Correlation Bivariate &lt;br /&gt;2. Correlation Partial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Correlate Bivariate adalah hubungan antara dua variabel atau sering disebut korelasi sedehana.&lt;br /&gt;Dalam perhitungan korelasi akan didapat koefisien korelasi yang menunjukkan keeratan hubungan antara dua variabel tersebut. Nilai koefisien korelasi berkisar antara 0 sampai 1 atau o sampai -1.&lt;br /&gt;Jika nilai semakin mendekati 1 atau -1 , hubungan semakin erat, sebaliknya jika medekati 0, hubungan semakin lemah. &lt;br /&gt;Macam-macam Koefisien Korelasi yang digunakan adalah &lt;br /&gt;1. Product Movement Pearson (Korelasi Pearson) &lt;br /&gt;2. Kendall’s tau-b dan Spearman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Product Movement Pearson &lt;br /&gt;Korelasi Pearson (Product Movement Pearson) berguna untuk mengukur keeratan hubungan antara dua variabel yang mempunyai distribusi data normal.&lt;br /&gt;Data yang digunakan tipe interval atau rasio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendall’s tau-b dan Spearman &lt;br /&gt;Kendall’s tau-b dan Spearman berguna untuk mengukur keeratan hubungan antara peringkat-peringkat.&lt;br /&gt;Pada korelasi ini tidak mensyaratkan distribusi data normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partial Correlation &lt;br /&gt;Partial Correlation (Korelasi Parsial) adalah hubungan antara dua variabel yang dalam hal ini variabel lain yang dianggap mempengaruhi (sebagai variabel kontrol) akan dikeluarkan. &lt;br /&gt;Nilai koefisien korelasi berkisar antara 0 sampai 1 atau 0 sampai -1.&lt;br /&gt;Jika nilai mendekati 1 atau -1 hubungan semakin erat; jika mendekati 0, maka hubungan semakin lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. REGRESSION &lt;br /&gt;Analisis Regression terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Analisis Regresi Linear &lt;br /&gt;2. Uji Penyimpangan Asumsi Klasik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Regresi Linear &lt;br /&gt;Analysis Regression linear adalah hubungan secara linear antara variabel dependen dengan variabel independen yang digunakan untuk memprediksi atau meramalkan suatu nilai variabel dependen berdasarkan variabel independen. &lt;br /&gt;Analisis Regresi Linear terdiri dari :&lt;br /&gt;1. Analisis Regresi Linear Sederhana &lt;br /&gt;2. Analisis Regresi Linear Bergada &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Regresi Linear Sederhana &lt;br /&gt;Analisis Linear Sederhana dipakai untuk menganalisis hubungan linear antara 1 variabel independen dengan 1 variabel dependen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Regresi Linear Bergada &lt;br /&gt;Analisis Regresi Linear Berganda berguna untuk menganalisis hubungan linear antara 2 variabel independen atau lebih dengan satu variabel dependen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji Penyimpangan Asumsi Klasik &lt;br /&gt;Uji Penyimpangan Asumsi Klasik terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Multikolinearitas &lt;br /&gt;2. Autokorelasi &lt;br /&gt;3. Heteroskedastis &lt;br /&gt;Uji Penyimpangan Asumsi Klasik digunakan untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas , autokorelitas, dan heteroskedastis dalam model regresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. RELIABLILITY ANALYSIS &lt;br /&gt;Reliability Analysis adalah analisis yang banyak digunakan untuk mengetahui keajekan atau konsistensi alat ukur yang menggunakan skala kuesioner, atau angket.&lt;br /&gt;maksudnya untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut akan mendapatkan pengukuran yang tetap konsisten jika pengukuran diulang kembali.&lt;br /&gt;selain itu, analisis ini berguna pula untuk mengukur validitas item butir pertanyaan dengan teknik Corrected Item Total Correlation, yaitu mengkorelasikan antara skor item dengan total item, kemudian melakukan koreksi terhadap nilai koefisien korelasi. &lt;br /&gt;ada beberapa model analisis reliabilitas, yaitu :&lt;br /&gt;1. Cronbach Alpha&lt;br /&gt;2. Split half&lt;br /&gt;3. Guttman &lt;br /&gt;4. Parallel&lt;br /&gt;5. Strict Parallel&lt;br /&gt;SEKIAN DAN TERIMA KASIH &lt;br /&gt;Sampai disini dulu pokok pembahasannya dan tunggu pokok pembahasan selanjutnya mengenai masing-masing metode analisis.&lt;br /&gt;Catatan : tips bagi yang pemula membacanya harus perlahan-lahan karena butu konsentrasi dan selalu sabar serta belajarlah secara bertahap.&lt;br /&gt;Diposkan oleh Adolf Training Centre di 03:14 0 komentar  &lt;br /&gt;Sabtu, 17 Oktober 2009&lt;br /&gt;Analisis Butir Soal &lt;br /&gt;ANALISIS BUTIR SOAL&lt;br /&gt;Kegiatan analisis butir soal adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis.&lt;br /&gt;Kegiatan ini antara lain :&lt;br /&gt;1. Pengumpulan.&lt;br /&gt;2. Peringkasan.&lt;br /&gt;3. Penggunaan informasi dari jawaban siswauntuk membuat keputussan tentang setiap penilaian.&lt;br /&gt;Tujuan Analisis butir soal adalah :&lt;br /&gt;1. Tujuan Penelaan. Untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum digunakan.&lt;br /&gt;2. Tujuan Analisis Soal. Untuk meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan.&lt;br /&gt;Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya, diantaranya dapat menentukan siswa mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis Butir soal dapat kita bedakan menjadi dua&lt;br /&gt;1. Analisis Kwalitatif. Analisis yang berkaitan dengan isi dan bentuk.&lt;br /&gt;2. Analisis Kwantitatif. Analisis yang berkaitan dengan ciri-ciri statistik, atau prosedur secara judgment dan prosedur secara empirik.&lt;br /&gt;Analisis Kwalitatif mencakup pertimbangan validitas isinya, sedangkan analisis Kwantitatif mencakup kesulitian butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat Analisis Butir Soal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat analisis butir soal adalah :&lt;br /&gt;1. Membantu pengguna tes dalam evaluasi atas tes yang digunakan.&lt;br /&gt;2. Revisi seperti untuk tes informal dan lokal seperti tes yang disiapkan oleh guru di sekolah.&lt;br /&gt;3. Mendukung penulisan soal yang efektif.&lt;br /&gt;4. Memberikan masukan kepada guru tentang kesulitan siswa.&lt;br /&gt;5. Merevisi materi yang dinilai atau yang diukur.&lt;br /&gt;6. Meningkatkan ketrampilan penulisan soal.&lt;br /&gt;Menurut Linn dan Gronlund analisis penulisan soal didisain untuk menjawab pertanyaan sbb:&lt;br /&gt;1. Apakah fungsi soal sudah tepat.&lt;br /&gt;2. Apakah soal sudah memiliki tingkat kesukaran yang tepat.&lt;br /&gt;3. Apakah soal bebas dari hal-hal yang tidak relevan.&lt;br /&gt;4. Apakah pilihan jawaban efektif.&lt;br /&gt;Manfaat Anlisis butir soal bermanfaat sebagai :&lt;br /&gt;1. Mendiskusikan efisiensi tentang hasil tes.&lt;br /&gt;2. Untuk merakit soal remedial.&lt;br /&gt;3. Untuk meningkatkan pembelajaran kelas.&lt;br /&gt;4. Untuk meningkatkan pada konstrusi tes.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Analisis butir soal bermanfaat untuk :&lt;br /&gt;1. Menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi penggunaannya.&lt;br /&gt;2. Untuk meningkatkan butir soal melalui empat komponen analisis yaitu :&lt;br /&gt;• Tingkat kesukaran soal.&lt;br /&gt;• Daya pembeda.&lt;br /&gt;• Pengecoh soal.&lt;br /&gt;• Meningkatkan pembelajaran melalui ambiguitas dan keterampilan tertentu yang menyebabkan siswa kesulitan.&lt;br /&gt;Berikut ini disajikan contoh analisis soal.&lt;br /&gt;NAMA&lt;br /&gt;SISWA Nomor soal * SKOR&lt;br /&gt;TOTAL # KETERANGAN&lt;br /&gt; 4 6 8 5 1 2 3 10 4 7  &lt;br /&gt;Abang&lt;br /&gt;Bunga&lt;br /&gt;Cinta&lt;br /&gt;Doank&lt;br /&gt;Elang 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0 0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 1&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0&lt;br /&gt;0 7&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;3 Normal&lt;br /&gt;Normal&lt;br /&gt;Mengantuk&lt;br /&gt;Menebak&lt;br /&gt;Lambat, berat&lt;br /&gt; 4 4 4 3 2 2 2 2 2 1  &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;* Soal disusun dari yang paling mudah hingga yang paling sulit.&lt;br /&gt;# skor siswa disusun dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah.&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Soal nomor 4 dan 7 masing-masing hanya dapat dijawab oleh Cinta dan Abang, hal ini dapat memberikan informasi kepada guru tentang materi yang diajarkan kepada siswa.&lt;br /&gt;Untuk mengevaluasi maka perlu diadakan perbaikan diri melalui informasi berikut, dengan meberikan tanda centang pada kolom pertanyaan.&lt;br /&gt;Keterangan Ya Tidak&lt;br /&gt;1. Apakah guru telah membuat persiapan mengajar khususnya materi yang bersangkutan.  &lt;br /&gt;2. Apakah guru menguasai materi yang bersangkutan.  &lt;br /&gt;3. Apakah tutor telah mengajar secara maksimal.  &lt;br /&gt;4. Apakah prilaku yang ditanyakan dalam butir soal telah sudah tepat (harus dikuasai siswa).  &lt;br /&gt;5. Apakah materi yang ditanyakan merupakan materi urgen (penting sesuai dengan KD), kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian dalam kehidupan sehari-hari.  &lt;br /&gt;6. Apakah guru memiliki kreatifitas dalam mengajarkan materi yang bersangkutan.  &lt;br /&gt;7. Apakah guru mampu membangkitkan minat dan kegiatan belajar warga belajar khususnya materi yang diajarkan.  &lt;br /&gt;8. Apakah guru telah menyusun kisi-kis idan kaidah penulisan soal serta menyusun pedoman penskoran atau pedoman pengamatan.  &lt;br /&gt;9. Apakah guru menulis soal berdasarkan indicator dalam kisi-kisi dan kaidah penulisan soal serta menyusun pedoman penskoran atau pedoman pengamatan.  &lt;br /&gt;10. Apakah soal nomor 4 dan 7 valid memiliki daya pembeda tinggi, tidak salah kunci jawaban, pengecoh telah berfungsi dengan baik, atau memang materinya belum diajarkan   &lt;br /&gt;Dari kesepuluh pertanyaan diatas berikan tanda centang pada item soal sesuai dengan persiapan yang telah dilakukan. &lt;br /&gt;Bila dalam item tersebut masih banyak yang belum dilakukan maka segeralah perbaiki langkah-lankah tesebut, saya yakin dengan persiapan yang baik maka akan menghasilkan out put yang baik pula.&lt;br /&gt;Selamat mencobah.&lt;br /&gt;Bersambung ke tulisan saya berikutnya …. Kaidah penulisan soal yang baik.&lt;br /&gt;Banyak guru-guru maupun para dosen belum memahami kaidah penulisan soal yang baik sehingga terkadang tampilan rakitan soal acak-acakan dari sudut layout, akan tetapi yang paling menyedihkan adalah kaidah penulisan soal, baik kata opersional yang boleh dan tidak boleh digunakan, serta tanda baca dan ellipsis yang harus dibuat dalam soal sering tidak menggunakan kaidah-kaidah yang benar. Bahkan penulis buku sekalipun sering melakukan kesalahan apalagi guru yang sering melakukan jalan pintas dengan mengutip soal-soal yang dirakit oleh penulis buku.&lt;br /&gt;Lalu pertanyaannya apakah tidak boleh menggunakan soal yang telah dirakit oleh penulis buku paket? Jawabannya tentu saja boleh asalkan kaidah penulisannya telah benar, dan materi yang diajarkan disekolah sudah sesuai dengan KD yang disusun oleh pemerintah dan indikator yang disajikan di Sekolah yang merupakan wewenang guru (pihak sekolah) sudah sesuai dengan soal yang dirakit. Tapi sebaiknya gurulah yang merakit sendiri soal untuk diujikan karena guru tersebut lebih mengetahui indikator materi yang telah disajikannya di dalam kelas.&lt;br /&gt;Lalu bagaimana cara merakit soal yang baik? &lt;br /&gt;Nantikan pembahasannya di artikel selanjutnya….&lt;br /&gt;                                   @@@@@ By : Nyoto Adi Saputro @@@@@@&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2895528108296460777?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2895528108296460777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2895528108296460777&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2895528108296460777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2895528108296460777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/penelitian-ilmiah.html' title='PENELITIAN ILMIAH'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-8980057542595351565</id><published>2010-01-16T14:31:00.000+07:00</published><updated>2010-01-16T14:31:19.618+07:00</updated><title type='text'>Instrumen Penilaian</title><content type='html'>D. Instrumen Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap teknik penilaian harus dibuatkan instrumen penilaian yang sesuai. Tabel berikut menyajikan klasifikasi penilaian dan bentuk instrumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 5. Klasifikasi Teknik Penilaian dan Bentuk Instrumen &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik Penilaian  Bentuk Instrumen &lt;br /&gt;• Tes tertulis &lt;br /&gt; • Tes pilihan: pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan dll. &lt;br /&gt;• Tes isian: isian singkat dan uraian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tes lisan &lt;br /&gt; • Daftar pertanyaan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tes praktik (tes kinerja) &lt;br /&gt; • Tes identifikasi &lt;br /&gt;• Tes simulasi &lt;br /&gt;• Tes uji petik kinerja &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penugasan individual atau kelompok &lt;br /&gt; • Pekerjaan rumah &lt;br /&gt;• Projek &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penilaian portofolio &lt;br /&gt; • Lembar penilaian portofolio &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jurnal &lt;br /&gt; • Buku cacatan jurnal &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penilaian diri &lt;br /&gt; • Kuesioner/lembar penilaian diri &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Penilaian antarteman &lt;br /&gt; • Lembar penilaian antarteman &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen tes berupa perangkat tes yang berisi soal-soal, instrumen observasi berupa lembar pengamatan, instrumen penugasan berupa lembar tugas projek atau produk, instrumen portofolio berupa lembar penilaian portofolio, instrumen inventori dapat berupa skala Thurston, skala Likert atau skala Semantik, instrumen penilaian diri dapat berupa kuesioner atau lembar penilaian diri, dan instrumen penilaian antarteman berupa lembar penilaian antarteman. Setiap instrumen harus dilengkapi dengan pedoman penskoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini disajikan contoh-contoh instrumen penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Contoh instrumen observasi (lembar pengamatan) &lt;br /&gt;Lari 100 meter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor&lt;br /&gt;Butir Aspek Keterampilan Skor&lt;br /&gt;  5 4 3 2 1&lt;br /&gt;Starting Position     &lt;br /&gt;01 Waktu jongkok lutut kaki belakang ada di depan ujung kaki lainnya     &lt;br /&gt;02 Kedua tangan di tanah, siku lurus, empat jari agak rapat mengarah ke samping luar.     &lt;br /&gt;03 Waktu jongkok posisi punggung segaris dengan kepala     &lt;br /&gt;04 Pandangan kira-kira 1 meter di depan garis start     &lt;br /&gt;05 Waktu aba-aba siap, posisi tungkai depan ± 90° dan tungkai belakang 100°-120°     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;Skor 5 : sangat tepat, 4 : tepat, 3 : agak tepat, 2 : tidak tepat, dan skor 1 : sangat tidak tepat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan&lt;br /&gt;Skor yang dicapai peserta didik dapat diolah menjadi nilai sebagai berikut.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                 N  =  (Skor pencapaian : Skor maksimal)x 100.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Contoh instrumen penilaian tugas: Projek&lt;br /&gt;Dalam penilaian projek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan yaitu: &lt;br /&gt;• Kemampuan pengelolaan &lt;br /&gt;  Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan,&lt;br /&gt;•  Relevansi&lt;br /&gt;    Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap perkembangan kognitif peserta didik,&lt;br /&gt;•    Keaslian&lt;br /&gt;   Projek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya dengan bimbingan pendidik dan dukungan berbagai pihak yang terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Contoh soal tugas projek biologi mengenai isu salingtemas (sain, lingkungan, teknologi, masyarakat) di sekitar tempat tinggal peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Soal&lt;br /&gt; Carilah isu salingtemas (sain, lingkungan, teknologi, masyarakat) yang berkembang di sekitar tempat tinggalmu, rencanakan penelitian, lakukan penelitian, dan buatlah laporan hasil penelitian. Dalam membuat laporan perhatikan: kebenaran informasi/data, kelengkapan data, sistematika laporan, dan penggunaan bahasa!&lt;br /&gt; Catatan : Isu berhubungan dengan pro – kontra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman penskoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Aspek yang dinilai Skor&lt;br /&gt;1 Persiapan&lt;br /&gt;Rumusan masalah (tepat = 3; kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)&lt;br /&gt; 3&lt;br /&gt;1 - 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Pelaksanaan&lt;br /&gt;a. Pengumpulan informasi (tepat = 3; kurang tepat = 2, tidak tepat = 1)&lt;br /&gt;b. Keakuratan data/informasi (akurat = 3; kurang = 2; tidak akurat = 1)&lt;br /&gt;c. Kelengkapan data (lengkap = 3; kurang = 2; tidak lengkap = 1)&lt;br /&gt;d. Analisis data (baik = 3; cukup = 2; kurang = 1)&lt;br /&gt;e. Kesimpulan (tepat = 2; kurang tepat = 1)&lt;br /&gt;  14&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 - 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Pelaporan hasil&lt;br /&gt;Sistematika laporan (baik = 2;  tidak baik = 1)&lt;br /&gt;Penggunaan bahasa (komunikatif = 2; kurang komunikatif = 1)&lt;br /&gt;Penulisan/ejaan (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat/banyak kesalahan =1) &lt;br /&gt;Tampilan (menarik = 2; kurang menarik = 1)&lt;br /&gt; 9&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 - 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor maksimal 26&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Contoh instrumen penilaian tugas: Produk&lt;br /&gt;Penilaian produk terdiri atas 3 (tiga) tahap yaitu:&lt;br /&gt;• Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam merencanakan, menggali, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.&lt;br /&gt;• Tahap pelaksanaan (pembuatan produk), meliputi: penilaian kemampuan peserta didik dalam menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik pembuatan. &lt;br /&gt;• Tahap penilaian hasil karya (appraisal), dilakukan terhadap karya (produk) yang dihasilkan peserta didik sesuai kriteria yang ditetapkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor untuk setiap tahap dapat diberi bobot, misalnya untuk persiapan 20%, pelaksanaan 40%, dan hasil 40%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh soal produk mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan: membuat poster ”anti narkoba”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman penskoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Aspek yang dinilai Skor Bobot&lt;br /&gt;1 Tahap persiapan&lt;br /&gt;a. Memilih jenis bahan (tepat = 2; tidak tepat = 1)&lt;br /&gt;b. Kualitas bahan (baik = 3; cukup = 2; kurang = 1)&lt;br /&gt;c. Kelengkapan alat (lengkap = 2; tidak lengkap = 1)  7&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt; 20 %&lt;br /&gt;2 Tahap pelaksanaan&lt;br /&gt;a. Menentukan penulisan kalimat yang menarik (menarik = 3; cukup = 2; kurang = 1)&lt;br /&gt;b. Keterampilan menggunakan alat/bahan (terampil = 3; cukup = 2; kurang = 1) &lt;br /&gt;c. Memperhatikan keselamatan kerja (ya = 2; tidak = 1) 8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt; 40%&lt;br /&gt;3 Tahap hasil&lt;br /&gt;a. Selesai tepat waktu ( tepat = 2; tidak tepat = 1)&lt;br /&gt;b. Kesesuaian dengan tugas (sesuai = 3; kurang = 2; tidak = 1)&lt;br /&gt;c. Kerapian (rapi = 3; kurang = 2; tidak = 1) 8&lt;br /&gt;1 – 2&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt;1 – 3&lt;br /&gt; 40%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;4. Contoh instrumen inventori menggunakan skala beda (berdiferensi) Semantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk&lt;br /&gt;Berilah tanda V pada kolom berikut sesuai dengan pilihanmu terhadap pembelajaran ekonomi. Kolom a, b, dan c cenderung mendekati pernyataan di sebelah kiri, sedangkan kolom e, f, dan g cenderung mendekati pernyataan di sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiri a b c d e f g Kanan&lt;br /&gt;Membosankan        Menarik&lt;br /&gt;Bermanfaat        Tidak bermanfaat&lt;br /&gt;Menyenangkan        Merepotkan&lt;br /&gt;Menantang        Tidak menantang&lt;br /&gt;Tidak memberatkan        Memberatkan&lt;br /&gt;Membuang-buang waktu        Menguntungkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Contoh instrumen inventori menggunakan skala Likert, misalnya untuk kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran Sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk:&lt;br /&gt;Bacalah baik-baik setiap pernyataan dan berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan pendapatmu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SS  =  sangat setuju                                                     TS    =  tidak setuju&lt;br /&gt;S    =  setuju                                                                STS =  sangat tidak setuju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh inventori skala Likert&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Pernyataan SS S TS STS&lt;br /&gt;1 Saya senang melakukan penelitian sejarah    &lt;br /&gt;2 Pelajaran sejarah membosankan    &lt;br /&gt;3 Saya senang mengikuti acara televisi yang berhubungan dengan sejarah    &lt;br /&gt;4 Saya tidak menyukai karir di bidang kepurbakalaan    &lt;br /&gt;5 Saya suka berkunjung ke museum untuk menambah pengetahuan di bidang sejarah    &lt;br /&gt;6 Saya senang jika ada kesempatan untuk bekerja di bidang yang ada hubungannya dengan sejarah    &lt;br /&gt;7 Saya benci jika ada tugas untuk membuat ringkasan dari artikel yang berkaitan dengan sejarah dari koran    &lt;br /&gt;8 Saya suka membaca rubrik tentang sejarah     &lt;br /&gt;9 dsb    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan&lt;br /&gt;Pernyataan pada instrumen di atas ada yang bersifat positif (No.1, 3, 5, 6, 8) dan ada yang bersifat negatif (No 2, 4, 7). Pemberian skor untuk pernyataan yang bersifat positif : SS = 4, S = 3, TS = 2, STS = 1. Untuk  pernyataan  yang bersifat negatif adalah sebaliknya yaitu 4 = STS, 3 = TS, 2 = S, dan 1 = SS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Contoh instrumen penilaian diri (kuesioner), misalnya untuk kegiatan yang berhubungan dengan mata pelajaran biologi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk:&lt;br /&gt;a. Isilah semua pernyataan dengan jujur. &lt;br /&gt;b. Berilah tanda V pada kolom yang sesuai dengan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TP  =  Tidak pernah melakukan              SR  =  sering melakukan&lt;br /&gt; JR  =  Jarang melakukan                         SL  =  selalu melakukan&lt;br /&gt;  KD  =  Kadang-kadang melakukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Pernyataan TP JR KD SR SL&lt;br /&gt;1 Saya menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan biologi kepada teman-teman     &lt;br /&gt;2 Saya bertanya kepada guru hal-hal yang berhubungan dengan mata pelajaran biologi     &lt;br /&gt;3 Saya menyempatkan diri membaca artikel yang berkaitan dengan biologi di majalah/koran      &lt;br /&gt;4 Saya mendengarkan informasi yang berhubungan dengan biologi dari radio     &lt;br /&gt;5 Saya menonton tayangan di televisi yang berkaitan dengan biologi, misalnya fauna dan flora       &lt;br /&gt;6 Saya hadir setiap ada jam pelajaran biologi di sekolah     &lt;br /&gt;7 Saya membuat catatan yang rapi untuk mata pelajaran biologi     &lt;br /&gt;8 Saya menyerahkan tugas biologi tepat waktu     &lt;br /&gt;9 Saya menerapkan pengetahuan biologi dalam kehidupan sehari-hari     &lt;br /&gt;10 Dst     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan&lt;br /&gt;Pada contoh di atas penskoran untuk setiap pernyataan menggunakan rentang 1 – 5. Skor 1 untuk TP, 2 = JR, 3 = KD, 4 = SR, dan 5 = SL. Dengan 9 butir pernyataan rentang skor adalah 9 – 45.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualifikasi &lt;br /&gt;Berdasarkan jawaban, kegiatan setiap peserta didik untuk mata pelajaran biologi dikelompokkan sebagai berikut&lt;br /&gt;Amat Baik   :  Skor 37 – 45 &lt;br /&gt;Baik   :  Skor 28 – 36  &lt;br /&gt;Cukup  :  Skor 19 – 27 &lt;br /&gt;Kurang    :  Skor  &lt;  19    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Contoh instrumen penilaian (lembar pengamatan) antarteman untuk kegiatan diskusi kelompok mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk: &lt;br /&gt;a. Pada waktu melakukan diskusi kelompok, amatilah perilaku temanmu dengan cemat!&lt;br /&gt;b. Berilah tanda V pada kolom yang sesuai (ya atau tidak) berdasarkan hasil pengamatanmu! &lt;br /&gt;c. Serahkan hasil pengamatan kepada bapak/ibu guru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar periksa pengamatan sikap dalam diskusi kelompok&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : Pendidikan Kewarganegaraan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama siswa yang diamati : …………………………….., kelas ……………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No &lt;br /&gt;Perilaku / sikap Muncul/ dilakukan&lt;br /&gt;  Ya Tidak&lt;br /&gt;1 Memberi kesempatan teman untuk menyampaikan pendapat  &lt;br /&gt;2 Memotong pembicaraan teman lain  &lt;br /&gt;3 Menyampaikan pendapat dengan jelas  &lt;br /&gt;4 Mau menerima pendapat teman  &lt;br /&gt;5 Mau menerima kritik dari teman  &lt;br /&gt;6 Memaksa teman untuk menerima pendapatnya  &lt;br /&gt;7 Menyanggah pendapat teman dengan sopan  &lt;br /&gt;8 Mau mengakui kalau pendapatnya salah  &lt;br /&gt;9 Menerima kesepakatan hasil diskusi   &lt;br /&gt;10 Dst  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                                   Nama pengamat&lt;br /&gt;                                                                        &lt;br /&gt;……………………..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap instrumen penilaian harus memenuhi persyaratan substansi, konstruksi, dan bahasa. Persyaratan substansi merepresentasikan kompetensi yang dinilai. Persyaratan konstruksi merepresentasikan persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan. Persyaratan bahasa berhubungan dengan penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan taraf perkembangan peserta didik.  Instrumen penilaian dilengkapi dengan pedoman penskoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bab  IV&lt;br /&gt;Prosedur dan Mekanisme Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Prosedur Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Permendiknas No. 20 tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan menyatakan bahwa penilaian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas penilaian hasil belajar oleh: pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penilaian hasil belajar oleh pendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan, bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Penilaian ini dilaksanakan dalam bentuk penugasan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Berbagai macam ulangan dilaksanakan dengan menggunakan teknik dan instrumen yang sesuai dengan kebutuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk (a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik, (b) bahan penyusunan laporan hasil belajar, dan (c) memperbaiki proses pembelajaran. Penilaian dilakukan dengan menggunakan berbagai instrumen baik tes maupun nontes atau penugasan yang dikembangkan sesuai dengan karateristik kelompok mata pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian yang dilakukan oleh pendidik harus terencana, terpadu, menyeluruh, dan berskesinambungan. Dengan penilaian ini diharapkan pendidik dapat (a) mengetahui kompetensi yang telah dicapai peserta didik, (b) meningkatkan motivasi belajar peserta didik, (c) mengantarkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditentukan, (d) memperbaiki strategi pembelajaran, dan (e) meningkatkan akuntabilitas sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menilai pencapaian kompetensi peserta didik pada semua mata pelajaran. Penilaian ini  meliputi:&lt;br /&gt;a. Penilaian akhir untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan. Penilaian akhir digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan dan harus mempertimbangkan hasil penilaian peserta didik oleh pendidik; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Ujian Sekolah untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi (yang tidak dinilai melalui Ujian Nasional) dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian. Ujian Sekolah juga merupakan salah satu persyaratan untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penilaian hasil belajar oleh pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian hasil belajar oleh pemerintah bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional (UN). Pemerintah menugaskan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) untuk menyelenggarakan UN, dan dalam penyelenggaraannya BSNP bekerja sama dengan instansi terkait di lingkungan Pemerintah, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, dan satuan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UN didukung oleh sistem yang menjamin mutu kerahasiaan soal yang digunakan dan pelaksanaan yang aman, jujur, adil, dan akuntabel. Hasil UN digunakan sebagai salah satu pertimbangan untuk (a) pemetaan mutu satuan pendidikan, (b) dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya, (c) penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan, dan (d) pembinaan dan pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria kelulusan UN dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri. Peserta UN memperoleh Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) yang diterbitkan oleh satuan pendidikan penyelenggara UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah setelah (a) menyelesaikan seluruh program pembelajaran, (b) memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan, (c) lulus ujian sekolah/madrasah dan (d) lulus ujian nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Mekanisme Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem penilaian meliputi kegiatan perancangan dan pelaksanaan penilaian,  analisis dan tindak lanjut hasil penilaian, serta pelaporan penilaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mekanisme penilaian hasil belajar peserta didik digambarkan pada bagan berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Perencanaan Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan penilaian mencakup penyusunan kisi-kisi yang memuat indikator dan strategi penilaian. Strategi penilaian meliputi pemilihan metode dan teknik penilaian, serta pemilihan bentuk instrumen penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Perencanaan penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara teknis kegiatan pada tahap perencanaan penilaian oleh pendidik sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Menjelang awal tahun pelajaran, guru mata pelajaran sejenis pada satuan pendidikan (MGMP sekolah) melakukan :&lt;br /&gt;• pengembangan indikator pencapaian KD, &lt;br /&gt;• penyusunan rancangan penilaian (teknik dan bentuk penilaian) yang sesuai,&lt;br /&gt;• pembuatan rancangan program remedial dan pengayaan setiap KD,&lt;br /&gt;• penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) masing-masing mata pelajaran melalui analisis indikator dengan memperhatikan karakteristik peserta didik (kemampuan rata-rata peserta didik/intake), karakteristik setiap indikator (kesulitan/kerumitan atau kompleksitas), dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung, misalnya kompetensi guru, fasilitas sarana dan prasarana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pada awal semester pendidik menginformasikan KKM dan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pendidik mengembangkan indikator penilaian, kisi-kisi, instrumen penilaian (berupa tes, pengamatan, penugasan, dan sebagainya) dan pedoman penskoran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Perencanaan penilaian oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan penilaian oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan melakukan:&lt;br /&gt;• pendataan KKM setiap mata pelajaran&lt;br /&gt;• penentuan kriteria kenaikan kelas (bagi satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket) atau penetapan kriteria program pembelajaran (untuk satuan pendidikan yang melaksanakan Sistem Kredit Semester)&lt;br /&gt;• penentuan kriteria nilai akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan, dengan mempertimbangkan hasil penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;• penentuan kriteria kelulusan ujian sekolah&lt;br /&gt;• koordinasi ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Membentuk tim untuk menyusun instrumen penilaian (untuk ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ujian sekolah) yang meliputi: &lt;br /&gt;• pengembangan kisi-kisi penulisan soal (di dalamnya terdapat indikator soal),&lt;br /&gt;• penyusunan butir soal sesuai dengan indikator dan bentuk soal, serta mengikuti kaidah penulisan butir soal,&lt;br /&gt;• penelaahan butir soal secara kualitatif, dilakukan oleh pendidik lain (bukan penyusun butir soal) pengampu mata pelajaran yang sama dengan butir soal yang ditelaahnya,  &lt;br /&gt;• perakitan butir-butir soal menjadi perangkat tes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Perencanaan Penilaian oleh Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perencanaan penilaian oleh pemerintah meliputi kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Mengembangkan SKL untuk mata pelajaran yang diujikan dalam UN;&lt;br /&gt;2) Menyusun dan menetapkan spesifikasi tes UN berdasarkan SKL;&lt;br /&gt;3) Mengembangkan dan memvalidasi perangkat tes UN;&lt;br /&gt;4) Menentukan kriteria kelulusan UN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelaksanaan penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian adalah penyajian penilaian kepada peserta didik. Penilaian dilaksanakan dalam suasana kondusif, tenang dan nyaman dengan menerapkan prinsip valid, objektif, adil, terpadu, terbuka,  menyeluruh, menggunakan acuan criteria, dan akuntabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Pelaksanaan penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap ini meliputi:&lt;br /&gt;1) Melaksanakan penilaian menggunakan instrumen yang telah dikembangkan;&lt;br /&gt;2) Memeriksa hasil pekerjaan peserta didik mengacu pada pedoman penskoran, untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pekerjaan peserta didik untuk setiap penilaian dikembalikan kepada masing-masing peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik misalnya, mengenai kekuatan dan kelemahannya. Ini merupakan informasi yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik untuk (a) mengetahui kemajuan hasil belajarnya, (b) mengetahui kompetensi yang belum dan yang sudah dicapainya, (c) memotivasi diri untuk belajar lebih baik, dan (d) memperbaiki strategi belajarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Pelaksanaan penilaian oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian oleh satuan pendidikan meliputi kegiatan berikut:&lt;br /&gt;1) Melaksanakan koordinasi ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas;&lt;br /&gt;2) Melakukan penilaian akhir untuk mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan jasmani, olahraga, dan kesehatan;&lt;br /&gt;3) Menyelenggarakan ujian sekolah untuk mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan secara nasional, serta aspek kognitif dan/atau psikomotor untuk mata pelajaran dalam kelompok agama dan akhlak mulia, serta kewarganegaraan dan kepribadian. Penyelenggaraan ujian sekolah mengacu pada Prosedur Operasi Standar Ujian Sekolah (POS-US) yang diterbitkan oleh BSNP.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;c.   Pelaksanaan penilaian oleh pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan penilaian oleh pemerintah merupakan kegiatan pengelolaan dan pengendalian pelaksanaan UN mengacu Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional (POS-UN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Analisis hasil penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Analisis hasil penilaian oleh pendidik &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap analisis adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria yaitu membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk penilaian yang dilakukan oleh pendidik hasil penilaian masing-masing peserta didik dibandingkan dengan KKM. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik, serta untuk memperbaiki pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Analisis hasil penilaian oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan analisis hasil penilaian oleh satuan pendidikan meliputi:&lt;br /&gt;1) Menganalisis hasil belajar peserta didik kelas X dan XI dibandingkan dengan nilai KKM yang telah ditetapkan untuk masing-masing mata pelajaran;&lt;br /&gt;2) Menganalisis hasil ujian sekolah dengan membandingkan hasil ujian sekolah masing-masing peserta didik dengan batas kelulusan ujian sekolah yang telah ditentukan;  &lt;br /&gt;3) Menganalisis hasil penilaian kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, serta  jasmani, olahraga, dan kesehatan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan;&lt;br /&gt;4) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan menetapkan dapat tidaknya peserta didik kelas X dan kelas XI naik kelas berdasarkan kriteria kenaikan kelas yang telah ditetapkan;&lt;br /&gt;5) Melalui rapat dewan pendidik, satuan pendidikan menetapkan peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan yang telah ditetapkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;c.    Analisis hasil penilaian oleh pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan analisis hasil penilaian oleh pemerintah yaitu menganalisis hasil UN setiap sekolah untuk pemetaan daya serap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Tindak lanjut hasil analisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Analisis hasil penilaian telah dilakukan perlu ditindak lanjuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.   Tindak lanjut oleh pendidik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi:&lt;br /&gt;1) Pelaksanaan program remedial untuk peserta didik yang belum tuntas (belum mencapai KKM) untuk hasil ulangan harian dan memberikan kegiatan pengayaan bagi peserta didik yang telah tuntas; &lt;br /&gt;2) Pengadministrasian semua hasil penilaian yang telah dilaksanakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Tindak lanjut oleh satuan pendidikan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan sebagai tindak lanjut hasil analisis meliputi:&lt;br /&gt;1) Menyiapkan laporan hasil belajar (rapor) peserta didik; &lt;br /&gt;2) Satuan pendidikan penyelenggara ujian menerbitkan ijazah bagi peserta didik yang lulus dari satuan pendidikan sesuai dengan kriteria kelulusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   Tindak lanjut oleh pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut hasil penilaian yang dilakukan oleh pemerintah adalah: &lt;br /&gt;1) Membuat peta daya serap berdasarkan hasil UN;&lt;br /&gt;2) Menyusun peringkat hasil UN secara Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pelaporan hasil penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaporan hasil penilaian disajikan dalam bentuk profil hasil belajar peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.   Pelaporan hasil penilaian oleh pendidik&lt;br /&gt;Pada tahap pelaporan hasil penilaian, pendidik melakukan kegiatan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Menghitung/menetapkan nilai mata pelajaran dari berbagai macam penilaian (hasil ulangan harian, tugas-tugas, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester atau ulangan kenaikan kelas); &lt;br /&gt;2) Melaporkan hasil penilaian mata pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wali kelas atau wakil bidang akademik dalam bentuk nilai prestasi belajar (meliputi aspek pengetahuan, praktik, dan sikap) disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi yang utuh;&lt;br /&gt;3) Memberi masukan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik;&lt;br /&gt;4) Pendidik yang menilai ujian praktik melaporkan hasil penilaiannya kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wakil pimpinan bidang akademik (kurikulum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.   Pelaporan hasil penilaian oleh satuan pendidikan&lt;br /&gt;Kegiatan yang dilakukan oleh satuan pendidikan dalam tahap pelaporan:&lt;br /&gt;1) Melaporkan hasil penilaian untuk semua mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk Laporan Hasil Belajar (rapor). Bagi orang tua laporan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu dan memotivasi anaknya belajar;  &lt;br /&gt;2) Melaporkan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan lengkap dengan nilai yang dicapai kepada orangtua/walinya;&lt;br /&gt;3) Melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan setiap tahun kepada Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.   Pelaporan hasil penilaian oleh pemerintah&lt;br /&gt;Pemerintah menyampaikan laporan hasil analisis berupa daya serap dan peringkat UN secara nasional kepada pihak-pihak yang berkepentingan.   &lt;br /&gt;Bab  V&lt;br /&gt;Pengembangan Indikator, &lt;br /&gt;Kisi-kisi dan Instrumen Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mempersiapkan penilaian, pendidik harus mengembangkan indikator, kisi-kisi, dan instrumen penilaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengembangan Indikator Penilaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedalaman muatan kurikulum pada setiap satuan pendidikan dituangkan dalam kompetensi yang terdiri atas Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Kompetensi adalah kemampuan yang meliputi pengetahuan, keterampilan,  sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan melalui kebiasaan berpikir dan bertindak. Peserta didik dikatakan kompeten apabila memenuhi krireria mampu memahami konsep yang mendasari standar kompetensi yang harus dikuasai, mampu melakukan pekerjaan sesuai dengan tuntutan standar kompetensi yang harus dicapai dengan cara dan prosedur yang benar serta hasil yang baik, dan mampu mengaplikasikan kemampuannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam SI terdapat SK dan KD setiap mata pelajaran. SK merupakan ukuran kemampuan/kompetensi minimal yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dicapai dan dikuasai peserta didik. KD adalah penjabaran dari SK yang bermakna dan bermanfaat untuk mencapai SK terkait. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pendidik harus mengembangkan indikator dari setiap KD. Indikator merupakan rumusan yang menggambarkan karakteristik, ciri-ciri, perbuatan, atau respon yang harus ditunjukkan atau dilakukan oleh peserta didik dan digunakan sebagai penanda/indikasi pencapaian kompetensi dasar. Dari setiap KD dapat dikembangkan 2 (dua) atau lebih indikator penilaian dan atau indikator soal. Indikator digunakan sebagai dasar untuk menyusun instrumen penilaian. Ketercapaian indikator dapat diketahui dari perubahan perilaku peserta didik yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidik perlu menganalisis aspek dan tingkat kompetensi yang terdapat dalam kata kerja pada SK dan KD untuk mengembangkan indikator. Hal ini perlu dilakukan agar indikator yang dikembangkan dapat memenuhi kriteria sebagai penanda ketercapaian kompetensi yang diukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan indikator hendaknya memperhatikan UKRK (urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian). Urgensi, maksudnya penting dan harus dikuasai peserta didik. Kontinuitas, yaitu pendalaman dan/atau perluasan dari kompetensi pada jenjang/tingkat sebelumnya. Relevansi, diperlukan karena ada hubungannya untuk mempelajari atau memahami kompetensi dan/atau konsep mata pelajaran lain. Keterpakaian, artinya memiliki nilai terapan tinggi dalam kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat-syarat indikator soal (1) menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur, (2) ada keterkaitan dengan materi dan kompetensi yang diuji, dan (3) dapat dibuat soalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator soal pilihan ganda, menggunakan satu kata kerja operasional yang terukur, sedangkan untuk soal berbentuk uraian dan/atau soal praktik indikator yang dikembangkan dapat menggunakan lebih dari satu kata kerja operasional yang terukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator soal sebaiknya menggunakan stimulus (dasar pertanyaan) yang dapat berupa gambar, grafik, tabel, data hasil percobaan, atau kasus yang dapat merangsang/memotivasi peserta didik berpikir sebelum menentukan pilihan jawaban.  Rumusan indikator soal yang lengkap mencakup 4 komponen, yaitu A = audience, B = behaviour, C = condition, dan D = degree.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengembangan indikator mengacu pada SK dan KD mata pelajaran Biologi kelas XI IPA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator soal&lt;br /&gt;2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Saling -temas 2.1. Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkan dengan fungsinya&lt;br /&gt; Disajikan gambar penampang melintang daun tumbuhan, peserta didik dapat menentukan fungsi dari dua bagian yang ditunjuk dengan tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumusan indikator pada contoh di atas mencakup empat komponen secara lengkap.  A (Audience) adalah peserta didik, B (Behaviour) atau perilaku yang dituntut yaitu menentukan fungsi bagian yang ditunjuk, C (Condition) adalah stimulusnya yaitu gambar penampang melintang daun tumbuhan, dan D (Degree) adalah tingkat pencapaian yaitu dua bagian dengan tepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pengembangan Kisi-kisi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisi-kisi merupakan format yang memuat informasi mengenai ruang lingkup dan isi/kompetensi yang akan dinilai/diujikan. Kisi-kisi disusun berdasarkan tujuan penilaian dan digunakan sebagai pedoman untuk mengembangkan soal. Kisi-kisi harus mengacu pada SK-KD dan komponen-komponennya harus rinci, jelas, dan  bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh pengembangan kisi-kisi &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KISI-KISI PENULISAN SOAL ULANGAN TENGAH SEMESTER 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Sekolah : SMA Mandiri Alokasi waktu : ..............&lt;br /&gt;Mata Pelajaran : Biologi Jumlah soal : ..............&lt;br /&gt;Kurikulum acuan : KTSP SMA Mandiri Penyusun : ..............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Bahan Kelas Materi Indikator Soal Bentuk soal Nomor soal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;2.1 Mengidentifi-kasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkan dengan fungsinya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;XI / 1 &lt;br /&gt;Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Disajikan gambar penampang melintang daun tumbuhan, peserta didik dapat  menentukan fungsi dari dua bagian yang ditunjuk dengan tepat.&lt;br /&gt;• Diberikan gambar penampang melintang dua macam batang tum-buhan, peserta didik dapat menentukan jenis kedua batang tersebut, menyebutkan bagian-bagian yang ditunjuk, dan mendeskripsikan ciri-cirinya sesuai dengan kondisi bagian-bagian yang tertera pada gambar&lt;br /&gt;• Peserta didik dapat membuat preparat basah penampang melintang batang tumbuhan, mengamatinya menggunakan mikroskop, menggambarnya, dan menunjukkan bagian-bagiannya  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktik &lt;br /&gt;14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh kisi-kisi di atas dapat dilihat bahwa KD dikembangkan menjadi tiga indikator, dengan bentuk soal yang berbeda yaitu soal pilihan ganda, soal uraian, dan soal praktik. Untuk indikator soal berbentuk pilihan ganda hanya ada satu kata kerja operasional yaitu menentukan. Pada indikator soal uraian terdapat tiga kata kerja operasional yaitu menentukan, menyebutkan, dan mendeskripsikan. Sedangkan pada indikator soal praktik terdapat empat kata kerja operasional yaitu membuat preparat, mengamati menggunakan mikroskop, menggambar, dan menunjukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengembangan Instrumen Penilaian dan Pedoman Penskoran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Instrumen penilaian yang dikembangkan perlu memperhatikan hal-hal berikut :&lt;br /&gt;1. berhubungan dengan kondisi pembelajaran di kelas dan/atau di luar kelas.&lt;br /&gt;2. relevan dengan proses pembelajaran, materi, kompetensi dan kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;3. menuntut kemampuan berpikir berjenjang, berkesinambungan, dan bermakna dengan mengacu pada aspek berpikir Taksonomi Bloom&lt;br /&gt;4. mengembangkan kemampuan berpikir kritis seperti: mendeskripsikan, menganalisis, menarik kesimpulan, menilai, melakukan penelitian, memecahkan masalah, dsb.&lt;br /&gt;5. mengukur berbagai kemampuan yang sesuai dengan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik.&lt;br /&gt;6. mengikuti kaidah penulisan soal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan contoh kisi-kisi di atas dapat dikembangkan instrumen/soal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator soal (PG No. 14): &lt;br /&gt;Disajikan gambar penampang melintang daun tumbuhan, peserta didik dapat  menentukan fungsi dari dua bagian yang ditunjuk dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Pilihan ganda&lt;br /&gt;14. Perhatikan gambar berikut!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagian 1 dan 2 secara berurutan berfungsi sebagai ....&lt;br /&gt;a. pelindung jaringan di dalamnya dan tempat melakukan fotosintesis&lt;br /&gt;b. tempat melakukan fotosintesis dan tempat pertukaran gas &lt;br /&gt;c. tempat pertukaran gas dan pelindung jaringan di dalamnya&lt;br /&gt;d. pengantar air dari akar dan pengedar hasil fotosintesis&lt;br /&gt;e. pengedar hasil fotosintesis dan tempat pertukaran gas &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci : B&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator soal (Uraian No. 41):&lt;br /&gt;Diberikan gambar penampang melintang dua macam batang tumbuhan, peserta didik dapat menentukan jenis kedua batang tersebut, menyebutkan bagian-bagian yang ditunjuk dan mendeskripsikan ciri-ciri batang sesuai dengan kondisi bagian-bagian yang tertera pada gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal uraian&lt;br /&gt;41. Perhatikan gambar penampang batang berikut!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;a. Berdasarkan gambar di atas tentukan mana batang tumbuhan dikotil dan mana batang tumbuhan monokotil! (Skor 2)&lt;br /&gt;b. Sebutkan nama bagian-bagian yang bernomor (Skor 3)&lt;br /&gt;c.   Deskripsikan ciri-ciri kedua batang tumbuhan tersebut sesuai dengan kondisi bagian-bagian  yang tertera pada gambar! (Skor 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman penskoran&lt;br /&gt;No Jawaban Skor&lt;br /&gt;a&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c gambar A penampang batang monokotil, &lt;br /&gt;gambar  B penampang batang dikotil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;no. 1  xilem,  &lt;br /&gt;no. 2 floem, &lt;br /&gt;no. 3 kambium. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gambar A letak xilem dan floem tersebar/tidak teratur, dan tidak ada kambium. &lt;br /&gt;Jadi gambar A sesuai dengan ciri-ciri batang tumbuhan monokotil. &lt;br /&gt;Pada gambar B letak xilem dan floem teratur, dan di antaranya terdapat kambium.&lt;br /&gt;Jadi gambar B sesuai dengan ciri-ciri batang tumbuhan dikotil 1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt; Skor maksimum 11&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikator soal (praktik):&lt;br /&gt;Peserta didik dapat membuat preparat basah penampang melintang batang tumbuhan, mengamatinya menggunakan mikroskop, menggambarnya,  dan menunjukkan bagian-bagiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal praktik&lt;br /&gt;Pilihlah alat dan bahan yang tersedia, buatlah sayatan melintang batang tumbuhan, lakukan pengamatan menggunakan mikroskop, gambarlah hasil pengamatanmu dan beri keterangan bagian-bagiannya! Buat laporan mulai dari persiapan, pelaksanaan (langkah kerja) dan hasil praktik! &lt;br /&gt;Pedoman penskoran&lt;br /&gt;Kunci jawaban / Aspek yang dinilai Skor Bobot&lt;br /&gt;Persiapan:  &lt;br /&gt;a. Pemilihan alat&lt;br /&gt; (tepat = 2;  tidak tepat = 1)&lt;br /&gt;b. Pemilihan bahan&lt;br /&gt; (tepat = 2;  tidak tepat = 1)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4 &lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;(20 %)&lt;br /&gt;Pelaksanaan&lt;br /&gt;a. Pembuatan sayatan melintang batang&lt;br /&gt; (terampil = 2; tidak terampil = 1)&lt;br /&gt;b. Pembuatan preparat basah&lt;br /&gt; (baik = 2; tidak baik =1)&lt;br /&gt;c. Penggunaan mikroskop&lt;br /&gt; (tepat = 3; kurang tepat = 2; tidak tepat = 1)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;7 &lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;(40 %)&lt;br /&gt;Hasil&lt;br /&gt;a. Gambar penampang melintang batang&lt;br /&gt; (benar = 2; tidak benar = 1)&lt;br /&gt;b. Keterangan bagian-bagian&lt;br /&gt; (semua benar = 3; ada yang salah = 2; semua salah = 1) &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5 &lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;(40 %)&lt;br /&gt;Skor maksimal 16 100 %&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : Shinyo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-8980057542595351565?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/8980057542595351565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=8980057542595351565&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/8980057542595351565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/8980057542595351565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/instrumen-penilaian.html' title='Instrumen Penilaian'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-1708694470053996566</id><published>2010-01-10T13:24:00.000+07:00</published><updated>2010-01-10T13:24:01.628+07:00</updated><title type='text'>Model-Model Pembelajaran</title><content type='html'>Model-Model Pembelajaran&lt;br /&gt;Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya  belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.&lt;br /&gt;Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.&lt;br /&gt;1. Koperatif (CL, Cooperative Learning). &lt;br /&gt;Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing. &lt;br /&gt;Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep,  menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.&lt;br /&gt;Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.&lt;br /&gt;2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)&lt;br /&gt;Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.&lt;br /&gt;Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara).&lt;br /&gt;3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)&lt;br /&gt;Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan untuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengembangan matematika).&lt;br /&gt;Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).&lt;br /&gt;4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)&lt;br /&gt;Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).&lt;br /&gt;5. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)&lt;br /&gt;Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.  Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dapat berpikir optimal. &lt;br /&gt;Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri&lt;br /&gt;6. Problem Solving&lt;br /&gt;Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi. &lt;br /&gt;7. Problem Posing&lt;br /&gt;Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan  melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan. &lt;br /&gt;8.  Problem Terbuka (OE, Open Ended)&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.&lt;br /&gt;Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna  secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). &lt;br /&gt;Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan,  membuat kesimpulan.&lt;br /&gt;9.  Probing-prompting&lt;br /&gt;Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan.&lt;br /&gt;Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa dilibatkan  dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah berpartisipasi&lt;br /&gt;10.  Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)&lt;br /&gt;Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.&lt;br /&gt;11.  Reciprocal Learning&lt;br /&gt;Weinstein &amp; Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mengemukan bahwa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis. &lt;br /&gt;Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul, membaca-merangkum.&lt;br /&gt;12.  SAVI&lt;br /&gt;Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indra yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic  yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan penndepat, dan menanggapi; Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; dan Intellectualy yang bermakna bahwa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan. &lt;br /&gt;13.  TGT (Teams Games Tournament)&lt;br /&gt;Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok  sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. &lt;br /&gt;Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Sintaknya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan&lt;br /&gt;b.  Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.&lt;br /&gt;c.  Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa  dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja turnamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar)  superior, very good, good, medium.&lt;br /&gt;d.  Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.&lt;br /&gt;e.  Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.&lt;br /&gt;14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.&lt;br /&gt;15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.&lt;br /&gt;16.  TAI  (Team Assisted Individualy)&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada siswa. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. &lt;br /&gt;Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok  secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.&lt;br /&gt;17.  STAD (Student Teams Achievement Division)&lt;br /&gt;STAD adalah salah satu model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward.&lt;br /&gt;18.  NHT (Numbered Head Together)&lt;br /&gt;NHT  adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.&lt;br /&gt;19.  Jigsaw&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks seperti berikut ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;20.  TPS (Think Pairs Share)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan  kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok (share), kuis individual, buat  skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;21.  GI (Group Investigation)&lt;br /&gt;Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengolahan data penyajian data hasil investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor perkembangan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.&lt;br /&gt;22.  MEA (Means-Ends Analysis)&lt;br /&gt;Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi perbedaan, susun sub-sub  masalah sehingga terjadi koneksivitas, pilih strategi solusi.&lt;br /&gt;23.  CPS (Creative Problem Solving)&lt;br /&gt;Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.&lt;br /&gt;24.  TTW (Think Talk Write)&lt;br /&gt;Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian buat laporan hasil presentasi. Sintaknya adalah: informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan.&lt;br /&gt;25.  TS-TS (Two Stay – Two Stray)&lt;br /&gt;Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal,  kerja kelompok, laporan kelompok.&lt;br /&gt;26.  CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)&lt;br /&gt;Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.&lt;br /&gt;27.  SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)&lt;br /&gt;Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (catat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh&lt;br /&gt;28.  SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)&lt;br /&gt;SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan.&lt;br /&gt;29.  MID (Meaningful Instructionnal Design)&lt;br /&gt;Model ini adalah pembelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in  dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisis pengalaman, dan konsep-ide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaman belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep&lt;br /&gt;30.  KUASAI &lt;br /&gt;Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.&lt;br /&gt;31.  CRI (Certainly of Response Index)&lt;br /&gt;CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa  tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan  yang telah dimilikinya.  Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk certain. &lt;br /&gt;32.  DLPS (Double Loop Problem Solving)&lt;br /&gt;DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa.  Selanutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi, analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah penyelesaian masalah sebagai berikut: menuliskan pernyataan masalah awal, mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi, mengidentifikasi kausal, implementasi solusi, identifikasi kausal utama, menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.&lt;br /&gt;33.  DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)&lt;br /&gt;DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan  berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: persiapan, pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup.&lt;br /&gt;34.  CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)&lt;br /&gt;Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang,  guru memberikan wacana  bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.&lt;br /&gt;35.  IOC (Inside Outside Circle)&lt;br /&gt;IOC adalah model pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan  yang berbeda  dengan singkat dan teratur. Sintaksnya adalah:  Separuh dari jumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam,  siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkaran luar berputar kemudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya.&lt;br /&gt;36. Tari Bambu&lt;br /&gt;Model  pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar siswa. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa pertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalaman dan pengetahuan, siswa yang berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya pada jajarannya, dan kembali berbagai informasi.&lt;br /&gt;37.  Artikulasi&lt;br /&gt;Artikulasi adlah model pembelajaran dengan sintaks: penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.&lt;br /&gt;38.  Debate&lt;br /&gt;Debat adalah model pembalajaran dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu seterusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.&lt;br /&gt;39.  Role Playing&lt;br /&gt;Sintak dari model pembelajaran ini adalah:  guru menyiapkan skenario pembelajaran,  menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut,  pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan kesimpulan dan refleksi.&lt;br /&gt;40.  Talking Stick&lt;br /&gt;Sintak pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa membaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepada siswa lain dan guru memberikan pertanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.&lt;br /&gt;41.  Snowball Throwing&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok,  pemanggilan ketua dan diberi tugas  membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyimpulan, refleksi dan evaluasi.&lt;br /&gt;42.  Student Facilitator and Explaining&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;43.  Course Review Horay&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa  yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;44.  Demostration&lt;br /&gt;Pembelajaran ini khusus untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen.  Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;45.  Explicit Instruction&lt;br /&gt;Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Sintaknya adalah:  sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan prosedural, membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;46.  Scramble&lt;br /&gt;Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.&lt;br /&gt;47.  Pair Checks&lt;br /&gt;Siswa berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran,  penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;48.  Make-A Match&lt;br /&gt;Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya,  setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk babak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.&lt;br /&gt;49.  Mind Mapping&lt;br /&gt;Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil diskusi kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;50.  Examples Non Examples&lt;br /&gt;Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;51.  Picture and Picture&lt;br /&gt;Sajian informasi kompetensi,  sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;52.  Cooperative Script&lt;br /&gt;Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana  materi bahan ajar, siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.&lt;br /&gt;53.  LAPS-Heuristik&lt;br /&gt;Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangka solusi masalah. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.&lt;br /&gt;54.  Improve&lt;br /&gt;Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latihan dan bertanya, balikan-perbaikan-pengayaan-interaksi.&lt;br /&gt;55.  Generatif&lt;br /&gt;Basis generatif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan ide-konsep awal, tantangan dan restrukturisasi sajian konsep, aplikasi, rangkuman, evaluasi, dan refleksi&lt;br /&gt;56.  Circuit Learning&lt;br /&gt;Pembelajaran ini  adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan  situasi belajar kondusif dan fokus, siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus, Tanya jawab dan refleksi&lt;br /&gt;57.  Complette Sentence&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintaks: sisapkan blanko isian berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi, presentasi.&lt;br /&gt;58.  Concept Sentence&lt;br /&gt;Prosedurnya adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen, guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tiap kelompok membuat kalimat berdasarkan kata kunci, presentasi.&lt;br /&gt;59.  Time Token&lt;br /&gt;Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya adalah  kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.&lt;br /&gt;60.  Take and Give&lt;br /&gt;Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi&lt;br /&gt;61.  Superitem&lt;br /&gt;Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari simpel ke kompleks, berupa pemecahan masalah. Sintaksnya adalah  ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan soal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi, integrasi, dan hipotesis.&lt;br /&gt;62.  Hibrid&lt;br /&gt;Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori, koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan computer-internet.&lt;br /&gt;63.  Treffinger&lt;br /&gt;Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks: keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama, kebebasan-terbuka, reward.&lt;br /&gt;64.  Kumon&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.&lt;br /&gt;65.  Quantum&lt;br /&gt;Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. &lt;br /&gt;tags: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;model pembelajaran, model-model pembelajaran, model pembelajaran cooperative learning,  bse sd, model model pembelajaran, penelitian deskriptif kualitatif,  skenario pembelajaran ctl sd, ctl contextual teaching learning, pembelajaran snowball throwing, metakognitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pembelajara, model, metode, sd, learning, cooperative, model-model, bse, ctl, dan dengan, contoh, matematika, penelitian, smp, scenario, download, belajar, sma, dalam, tipe, pengertian, teaching, deskriptif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                     @@@@@@@@@ By : shinyo @@@@@@@@@@&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-1708694470053996566?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/1708694470053996566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=1708694470053996566&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1708694470053996566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1708694470053996566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/model-model-pembelajaran.html' title='Model-Model Pembelajaran'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-3315050071829781444</id><published>2010-01-07T14:01:00.000+07:00</published><updated>2010-01-07T14:01:07.363+07:00</updated><title type='text'>MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Model Pembelajaran Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dan pendekatan pada pembelajaran matematika sangat memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Karena model-model dan pendekatan pada matematika akan membawa setiap siswa untuk kita sebagai pelajaran untuk menjdi lebih efektif dalam belajar. Tentunya seorang guru, dituntut untuk mampu mengembangkan serta menerapkankannya dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan demikian efektivitas pembelajaran matematika akan berjalan dengan baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, model dan pendekatan yang diterapkan harus juga dilihat berdasarkan kepada tingkat psikologi dari setiap pembelajaran sehingga siswapun dapat mengaplikasikan dan menerapkannya sesuai dengan kemampuan daya berpikir mereka. Pada bagian pembahasan kali ini saya akan menjelaskan tingkat kedalaman atau pendekatan dan model apa saja yang digunakan dalam pembelajaran matematika tersebut. Dalam hal ini, tentunya seorang guru harus memiliki sikap yang mengerti dan mengetahui akan kemampuan dalam menyampaikan materi atau model pembelajaran yang akan digunakan. Diamana, jika seorang guru tidak memperhatikan tahap perkembangan dan apa yang dialami siswa akibatnya akan mengalami kesulitan karena cara penyampaian model yang diterapkan tidak sesuai/tidak bisa diserap oleh siswa pada saat pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, begitu pentingnya pengetahuan tentang bagaimana pembelajaran akan pendekatan model yang akan dapat dimengerti. Sebab itu, disini saya akan menguraikan model-model pembelajaran pada matematika yang saya lihat berdasarkan hasil pengamatan melalui menonton dari model pendekatan pembelajaran matematika. Dengan apa yang akan saya uraikan tentang model pembelajaran matematika diharapkan dapat memahami dan menerapkan model yang cocok dalam pelakasanaan pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengamatan yang saya lihat melalui CD model pembelajaran pada matematika ada beberapa model yang dapat saya kemukakan dan jelaskan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Conseptual Multi Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada conseptual multi model ini dilakukan pada SLTP N 32 Surabaya dimana model pembelajaran yang digunakan beraneka ragam dan sangat menarik minat anak untuk melakukan suatu pembelajaran pada matematika. Sehingga pada model ini anak dituntut untuk dapat secara kreatif, dan inovatif mengembungkan daya berpikir mereka dalam memahami dan memecahkan suatu permasalahan yang ada. Terutama dalam dunia matematika, sehingga dengan dapat memecahkan masalah yang ada dapat mengembangkan diri dan motivasi pada mereka masing-masing oleh karena itu, bentuknya keberhasilan akan model conseptual multi model dapat tercapai jika ditentukan oleh beberapa aspek atau dapat dilihat dari hal dibawah ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran ini yaitu conseptual multi model situasi kelas yang tergambar pada pelaksanaan model ini sangat dikelola dengan baik dan kondusif dan terlihat proses interaksi dan adanya kerjasama yang baik antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sehingga tidak terlihat bosan dan monoton. Namun, hal ini juga tergantung dari guru bagaimana membuat suatu keadaan yang nyaman dan menyenangkan pada siswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Model Conseptual Multi Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model conseptual model ini adanya tahapan penyampaian yang dilakukan, dimana guru mengambil materi yang akan diajarkan tentang statistik oleh guru yang bernama Bpk. Samri, Tahapannya, Yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Fase I (menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan ini guru sebagai pelaku dalam pembelajaran matematika memberikan pengarahan akan materi dan maksud yang akan diajarkan sehingga siswa lebih memahami akan kearah mana mereka untuk melakukan proses pembelajaran sehingga dengan demikian mereka tidak akan mengalami kesulitan karena sudah dijelaskan dari awal tentang apa yang akan mereka pelajari. Sehingga pada khirnya, memotivasi keingintahuan pada siswa tentang hal-hal yang belum mereka ketahui akan materi yang akan disampikan dan pada khirnya menumbuhkembangkan daya berpikir mereka akan materi yang diberikan oleh guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Fase II (Menyajikan Data)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih kepada pengelolaan kelas yang ada, maksudnya pada saat guru telah menyampaikan maksud dari proses pembelajaran itu maka setiap kelas yang ada dibagi oleh beberapa kelompok sesuai dengan pembagin guru untuk berdiskusi berdasrkan kelompok itu akan maslah yang dihadapinya. Dengan pembagian kelompok ini diharapkan agr setiap siswa yang telah dibagikn kelompoknya dapat mengkomunikasikan dan menyajikan data dengan anggotanya sesuai materi dan tujuan yang akan diharapkan sehingga dengan adanya diskusi kelompok kecil ini siswa dapat menyajikan, menganalisis, dan memecahkan berbagai masalah penting pada data yang telah disiapkan sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Fase III (Mengarahkan Permasalahan Yang Telah Ada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini inti dari fase ini adalah lebih bagaimana guru memberikan suatu kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang ada bersama kelompok yang telah dibagi oleh dewan guru, dan selanjutnya siswa melakukan pengamatan langsung kepada objek dari permasalahan itu sesuai dengan objek/fakta yang ada dilingkungan sekitar mereka saja. Sehingga dengan adanya objek yang mereka amati siswa dapat menemukan akan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang ada namun disamping itu adanya juga pengarahan akan keputusan yang mereka ambil akan masalah itu. Dengan demikian siswa akan lebih diberdayakan kepada pengetahuaannya yang ada pada diri mereka tersebut. Setelah itu, dari hasil mereka mempresentasikan masalah yang ada seorang guru kiranya memberikan suatu pujian atau penguatn yang positif berdasarkan teori Skinner dengan adanya penguatan yang positif itu diharapkan dapat meningkatkan kepekaan perilaku dan respon akan proses dan pembelajaran Matematika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Fase IV + V (Membimbing Kelompok Untuk Bekerja dan Belajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini membimbing dalam menafsirkan dari hasil pengamatan akan masalah yang dialaminya serta memecahkan secara bersama-sama dari masalah itu. Jika, salah satu dan kelompok ada yang tidak mengerti akanmaksud an masalah itu maka kelompokitu dapat mengajukan pertanyaan seputar masalah yang ia alami. Dan guru memberikan suatu respon/masalah yang positif kepada siswa itu dengan memberikan tanggapan yang positif kepada siswa itu dengan memberikan suatu pujian atau rasa kepedulian akan masalah yang dialami oleh anak itu. Hal ini, dimaksudkan agar dapat meningkatkan perilaku dan respon anak itu sehingga dengan itu anak akan terus menggali dan mencari informasi dari permasalahan yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya setelah kelompok itu mengajukan dan mempresentasikan dari hasil masalah yang dia alami maka diberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk mengemukakan pendapatnya atau membentuk memberikan informasi akan penyelesaian masalah yang ada sehingga proses pembelajaran pada matematika menjadi proses pembelajaran yang bermakna dan penuh dengan penemuan akan hal-hal yang baruyang dapat mengembangkan proses berpikir dari siswa itu berdasarkan teori Ausubel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Fase VI (Mengajak Siswa Berdiskusi dan Memantapkan Materi Pembelajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini saat siswa yang telah diberikan suatu permasalahan yang ada maka tahapan ini siswa lebih diajak untuk memahami maksud atau materi yang disampaikan yang lebih kepada merangkum secara global atau menyeluruh akan permasalahan yang ada. Tentunya pendekatan yang ada diarahkan sesuai dengan pemikiran siswa dan ide-ide yang dikembangkan oleh siswa itu sehingga daya berpikir mereka dapat berjalan dengan leluasa dengan baik. Dengan adanya diberikan keleluasaan berpikir dan memahami akan permasalahan yang ada siswa tersebut akan memiliki motivasi dan minat yang tinggi akan pembelajaran matematika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Fase VII (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini setelah semua kelompok dari awal fase I – VI maka guru menilai dan melihat dari hasil kerja yang mereka lakukan berdasarkan pengamatan akan masalah yang telah mereka alami. Guru memberikan pengamatan akan masalah yang telah mereka alami. Guru memberikan suaut reward/penghargaan atas pekerjaan yang mereka alami penghargaan ini berupa pujian yang positif sehingga dapat merespon stimulus daya anak itu akan tindakan yang dilakukannya sehingga dengan adanya suatu pujian maka akan membuat anak itu menjadi penuh semangat dalam mengatasi permasalahan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran matematika di atas yaitu Conseptual Multi Model adanya beberapa kelebihan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep pembelajaran pada matematika akan menarik dan lebih kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembelajaran pada matematika itu akan mengembangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembelajaran pada matematika pada model ini dapat menciptakan keterampilan, menyelidiki dan pemecahan akan masalah yang dialami pada dunia matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Pembelajaran Konseptual Berbasis “KBK”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran konseptual berbasis “KBK” yang dilakukan pada SLTPN 32 Surabaya pada materi yang disampaikan mengenai perbandingan oleh Bpk. Conny dimana model pembelajaran ini lebih diarahkan kepada pemecahan akan suatu permasalahan berdasarkan pengalaman dan daya kemampuan pada setiap individu akan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga disini dituntut untuk belajar mandiri dan bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran konseptual berbasis “KBK” lebih dititik beratkan kepada pembelajaran yang sifatnya mandiri dan hal ini terlihat dari situasi kelas yang mendukungnya dimana proses pembelajaran berjalan secara aktif dan penuh dengan interaktif antara guru dan siswa sebagai proses dari pembelajaran sehingga tidak pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2 Fase-fase/Tahapan Dalam Pelaksanaan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Orientasi Siswa Kepada Masalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini siswa menanyakan tentang masalah yang berhubungan dengan yang dia alami. Dimana, siswa dicoba untuk mengetahui komponen-komponen atau hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang ada sehingga siswa dapat mengerti dan memahami akan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, siswa dapat berpikir secara luas tentang masalah yang terkait dan berpikir secara inovatif akan permasalahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (Mengorganisasi Siswa Untuk Belajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih dikondisikan kepada suatu situasi kelas yang lebih menciptakan suatu kelompok yang dapat memecahkan akan masalah yang ada sehingga siswa dituntut untuk dapat mengeksplorasi dan belajar dari permasalahan yang dialaminya dengan demikian dapat menciptakan suatu karakter dari setiap perilaku orang dan anak itu terhadap materi yang akan diberikan pada setiap kelompok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Membimbing Penyelidikan Individual Maupun Kelompok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru memberikan suatu pengarahan akan materi yang telah disampaikan. Dan guru mencoba bertanya kepada tiap-tiap kelompok akan kesulitan yang dialaminya berdasarkan materi yang telah diberikan. Sampai benar-benar guru itu membimbing dan memberikan pengaruh dengan melakukan pengawasan secara individual maupun kelompok dengan membimbing dan melakukan penyelidikan akan membuat siswa itu mendapatkan suatu penguatan yang positif bagi diri mereka, mengembangkan sikap tanggap mereka terhadap masalah yang ada. Serta membantu mereka dalam mengembangkan ide-ide akan hal yang mereka punyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal ini setelah guru membimbing dan melakukan suatu penyelidikan akan masalah yang dihadapinya sehingga apa yang ada telah didapatnya dikembangkan berdasarkan kemampuan dan keahlian yang didapatnya. Pada hal ini, materi yang telah diberikan dipersentasikan oleh semua kelompok untuk menyajikan hasil materi yang telah dipahaminya. Disini, kelompok lain memberikan tanggapan terhadap apa yang disajikan oleh kelompok yang mempresentasikan sehingga adanya suatu hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran. Sehingga, pengembangan akan informasi yang didapat tidak berpaku pada hal yang menoton tetapi lebih beraneka ragam. Dengan demikian adanya kreatifitas dan daya berpikir yang lebih luas terhadap data yang diberikan sehingga adanya suatu hubungan dan pengalaman akan hasil yang didapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini materi yang telah dijelaskan kepada siswa guru menanyakan kepada tiap kelompok akan apa yang telah mereka dapatkan berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan sehingga guru mencoba meriview dan melakukan suatu pengulangan akan apa yang mereka lakukan. Hal ini dimaksudkan agar masalah yang mereka dapatkan menjadi suatu belajar yang bermakna dan penuh dengan pengertian sehingga mereka dapat menyimpulkan akan apa yang telah mereka ketahui secara mandiri dan dalam hal ini dapat menumbuhkan kembangkan kecerdasan dan daya intelektual pada setiap siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Fase VI (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini guru menilai dari hasil yang telah terjadi selama proses pembelajaran dikelas melalui kegiatan dan prses interaksi yang berlangsung seperti keaktifan bertanya, menyangga sehingga guru mencoba memberikan suatu penghargaan yang luar biasa kepada siswa yang melakukan proses interaksi selama pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar penghargaan yang diberikan baik ucapan pujian atau apapun dapat mengembangkan motivasi dan rasa bergembira si siswa yang pada akhirnya siswa bersemangat dan adanya motivasi yang lebih lagi untuk dapat mempertahankan prestasi dan penghargaan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran Conseptual berbasis KBK tentu sangat bermanfaat sekali dalam proses pembelajaran terutama pada matematika, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengembangkan sikap mandiri siswa dalam menemukan dan mencari akan permasalahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan penguatan yang positif kepada anak untuk dapat meyakini dirinya akan hal-hal yang berat danpenuh rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan suatu sikap/perilaku pembiasaan akan suatu hal sehingga siswa terbiasa untuk mengerjakan soal yang beraneka ragam dan soal yang sulit sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Pembelajaran Konseptual Berbasis “KBK” Melalui Pengajaran Langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran pada matematika terutama pada pembelajaran langsung sangat membuat sikap kreatif dan inovatif pada pemikiran setiap siswa sehingga anak dapat leluasa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung secara aktif, kreatif, dan berfikir secara intelektual dalam setiap proses pembelajaran terutama pada pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran melalui pengajaran langsung berlangsung secara baik dan tertib sehingga kenyamanan dalam belajar dapat tercipta dengan baik dan luar biasa. Selain itu, juga anak-anak maupun siswa belajar itneraktif dan penuh dengan daya berpikir yang luar biasa sehingga situasi kelas yang ada tidak menoton akan suatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.2 Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konseptual berbasis “KBK” melalui pengajaran langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru mencoba membuka pikiran siswa terhadap materi yang akan disampaikan sehingga guru mengajak siswa mengarah kepada konsep yang akan disampaikan langsung kepada siswa itu. Dengan demikian siswa diajak untuk dapat mengerti dan membuka akan apa yang telah dipikirkan/dimiliki oleh siswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (Mendemonstrasikan Pengetahuan dan Keterampilan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa diajak bisa memecahkan masalah yang dihadapi dan mencoba menjelaskan kepada guru dan teman-temannya itu dengan demikian dapat menimbulkan pengetahuan dan pemahaman bagi siswa itu dan orang yang ada bersama dia juga. Hal ini dapat menciptakan suatu keadaan yang dapat melibatkan siswa dalam memahami proses penalaran, mendapatkan balikan mengenai pemahaman siswa, dan dapat membimbing siswa kepada suatu konsep penalaran bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian guru melukiskan pemahaman dan pengetahuan tentang materi yaitu mengurutkan pecahan dan selanjutnya persoalan diberikan untuk dipecahkan secara bersama-sama berdasarkan kemampuan yang dimilikinya itu. Namun, pendemontrasian yang ada harus berdasarkan secara garis besar sesuai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan pengarahan dan pembimbingan akan masalah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Membimbing Pelatihan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini guru, memberikan langsung kepada objek permasalahan yang akan diamati siswa secara berpasangan dan setelah itu guru membimbing dan melihat siswa itu berdasarkan materi yang telah dikerjakan oleh siswa sambil membimbing dan memberikan arahan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Sehingga dengan membimbing adanya suatu komunikasi dan proses interaksi diantara guru dan siswa dalam memecahkan permasalahan yang ada secara bersama-sama. Dengan demikian hal ini dapat mengembangkan dan membina kerja sama dan proses pemikiran yang saling timbal balik diantara guru dan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini setelah adanya proses membimbing untuk mengarahkan kepadahal yang ada selanjutnya materi yang telah disampaikan pada awal pembelajaran siswa dituntut untuk dapat mengerti dan memahami akan permasalahan yang ada sehingga walaupun diberikan permasalahan yang baru siswa akan penuh dengan kesiapan menghadapi permasalahan yang ada itu dengan seoptimal mungkin. Selanjutnya pemahaman yang telah ada tadi diberikan lagi kepada si anak lebih kepada permasalahan yang baru dan lebih sulit namun berdasarkan kepada apa yang telah dimilikinya sehingga dapat mengetahui tingkat kemampuan berpikir siswa apakah sudah mengerti atau masih perlu adanya pembimbing akan permasalahan yang dihadapinya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Memberikan Kesepakatan Untuk Pelatihan dan Penerapan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih didasarkan akan pengembangan kemampuan yang telah didapatnya sesuai permasalahan yang telah diberikan. Sehingga permasalahan yang telah ada dapat diselesaikan sesuai dengan kemampuan daya ingatan mereka akan masalah yang ada itu. Disini, dituntut untuk dapat menyelesaikannya dengan cepat dan cermat sesuai dengan fakta-fakta yang telah diterapkannya. Namun, kesempatan yang ada harus diperhatikan akan waktu yang ada sehingga tepat dan sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan untuk berlatih dan menerapkannya tentunya perlu adanya keterampilan secara rutin sehingga dengan adanya keterampilan itu akan meningkatkan daya ingat dan penerapan dalam memahami latihan yang akan dipecahkan. Hal ini, sejalan dengan pengerjaan akan menimbulkan suatu pengajaran dan penerapan yang baik akan latihan yang diberikah oleh guru aupun dosen yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran konseptual berbasis KBK melalui pengajaran langsung memang diperlukan adanya pengarahan karena itu adanya kelebihan pada pembelajaran ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru dapat memberikan apa yang dia kuasai kepada muridnya sehingga adanya timbal balik didalam proses pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siswa dibimbing untuk dapat memecahkan masalah sehingga daya berpikir mereka semakin berkembang dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dapat menciptakan suatu pembiasaan perilaku yang baik terhadap pemecahan masalah yang luar biasa sulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Pembelajaran Dengan Kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan kooperatif adalah suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam dunia matematika. Sehingga dengan adanya sikap positif dapat membangun rasa kepercayaan diri mereka. Bahkan dengan sikap positif dapat menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami oleh siswa.Pembelajaran dengan sikap positif dapat menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami oleh siswa. Pembelajaran dengan kooperatif dapat meningkatkan berfikir kritis serta meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembelajaran kooperatif yang saya lihat melalui CD materi pembelajaran di Lab. Untirta pada saat itu, guru Fitriani menerangkan materi statistika tentang ukuran pemusatan. Disini, terlihat adanya interaktif dan kerjasama didalam kelas sehingga proses pembelajaran terlihat aktif dan penuh antusiasme. Karena, saat itu dibagi oleh beberapa kelompok dimana kelompok itu diberikan kesempatan untuk berinteraksi, dengan kelompok lain untuk menyelesaikan suatu masalah. Sehingga pada kelas yang menerapkan kooperatif ini terjadi adanya suatu keterbukaan ide dalam menyampaikan gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.2 Fase-fase / Tahapan dalam Pembelajaran Melalui Kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Cari Uang Cepat&lt;br /&gt;Panduan cari penghasilan dan uang saku tambahan da Bisnis Internet Pemula&lt;br /&gt;Kerja 1jam/minggu, hasil 1jt/bln. Garansi, ada&lt;br /&gt;200rb dijamin masuk terus ke rek. anda, mau ?&lt;br /&gt;Bisnis paling bagus sistem kerjanya, paling cepat Mau Jutaan Per Hari Dengan Mudah?&lt;br /&gt;Bukan software,tak perlu domain+hosting baru.&lt;br /&gt;DAFTAR GRATIS KOMISI LEVEL 1 Rp. 100 RIBU&lt;br /&gt;SEGERA UPGRADE PAID INVESTOR &amp; DAPATKAN JUTAAN RU Software penghsil uang ,DIJLANKAN dari HP / WRNET&lt;br /&gt;Smart machine .Untuk PEMULA ,income 1jt/hari&lt;br /&gt;Pemula KAYA Mendadak, Dari HANDPHONE anda bisa di&lt;br /&gt;SOFTWARE PENGUMPUL UANG DI ATM,BRI/BCA/BII/MANDIRI HANYA 50 Rb SISTEM PENGHASIL UANG-NEW!&lt;br /&gt;Cr Mudah Hasilkan Uang Dgn Sistem Uang Otomatis&lt;br /&gt;SAYA MENGHASILKAN UANG Rp.5.115.206 DALAM 1 HARI&lt;br /&gt;Tanpa Kerja Cuma Mengetik 30 Menit. BUKTIKAN !&lt;br /&gt;KumpulBlogger.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru merumuskan dahulu materi yang ada secara garis besar untuk disampaikan kepada siswa sesuai dengan kemampuan dan pemikiran siswa. Guru memiliki beberapa orang siswa sebagai media dalam penyampaian tujuan yang akan dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya siswa dibawa untuk memahami suatu masalah yang ada dengan dibagi beberapa kelompok, setelah itu guru memberikan masukan akan pengerjaannya sehingga membuat kemampuan motivasi yang tinggi kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (menyajikan informasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini, lebih menekankan kepada penjelasan akan maksud dan pengertian dari materi yang akan dibahas dengan menggali informasi yang ada secara bersama-sama. Dengan menggali informasi yang ada maka dapat membuka pengetahuan dan pemahaman akan materi yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa itu, sehingga informasi yang ada digali bersama-sama oleh siswa secara kelompok yang telah dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Mengorganisasikan siswa dalam kelompok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, memilih kelompok yang telah dibagikan secara heterogen sehingga tidak adanya deskriminasi terhadap kelompok yang pandai atau cenderung yang lebih aktif. Disini guru membimbing sampai mengelola kelompok yang ada. Guru melihat apakah kelompok yang sudah dapat secara interaktif membahas masalah yang ada jika kelompok yang ada cenderung siswanya pendiam maka guru harus mengkoordinasikan dan mengelola kelompok yang terbatas dengan pemikiran para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Membimbing kelompok untuk bekerja dan Belajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru memberikan suatu kelompok dalam hal ini kelompok yang ada diajak untuk memecahkan suatu permasalahan yang disampaikan oleh guru secara kelompok. Tentunya masalah yang disiapkan oleh guru harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan saling membutuhkan antara anggota yang satu dan anggota yang lain dalam menyelesaikan masalah. Disini, guru dituntut untuk mengarahkan membimbing dalam pengambilan langkah untuk pemecahan masalah yang ada sehingga siswa diajak juga untuk sambil mengetahui tingkat kemampuan yang dialami oleh kelompok dengan demikian guru dan siswa saling bekerja sama dalam mengatasi masalah yang ada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Evaluasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini, setelah guru dan siswa membimbing setiap masalah yang telah ada siswa diajak untuk mengevaluasi dan mempresentasikan dari hasil yang telah diuat dan dikerjakan oleh kelompok yang ada sehingga mengingatkan siswa untuk mengulang akan apa yang telah didapatnya dari pemahaman pemikirannya sendiri. Dengan demikian, siswa mengetahui apa yang salah dan kurang pada dirinya yang akan dirangkum dan ditambahkan oleh guru sebagai pusat dari proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siswa telah mempresentasikan semua materi akan permasalahan yang ia alami guru disini, hanya menjelaskan secara keseluruhan akan apa yang telah disampaikan berdasarkan kekurangan yang ada dan materi yang telah dipresentasikan tadi. Dengan demikian, guru menyimpulkan dan membuat penyelesaian akan permasalahan yang ada sebagai hasil dari pencepatan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Fase VI (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah guru menyimpulkan semua permasalahan yang telah dialami. Selanjutnya guru melihat akan apa yang telah diperoleh dari pemahaman yang didapat oleh siswa itu disini. Guru melihat dari aspek keaktifan dan bersosialisasi terhadap apa yang telah ia pahami yang pada akhirnya dapat membuka suatu pengetahuan guru pada dirinya. Sebagai penambahan semangat belajar guru pada dirinya. Sebagai penambah semangat belajar guru memberikan suatu penghargaan berupa ucapan selamat kepada kelompok yang telah banyak memberikan masukan dan pendapatnya. Sehingga dengan pemberian ucapan kata-kata yang bagus dapat menggembirakan dan membuat siswa suka dengan pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan respon yang lebih mengarah kepada peningkatan motivasi siswa tersebut untuk lebih rajin belajar lagi dan siswa itu dapat mempertahankan akan apa yang telah ia dapatkan melalui penguatan positif yang didapatnya oleh guru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan kooperatif pada intinya dapat meningkatkan kepekaan kita kepada orang lain. Maka kelebihanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya suatu kerjasama yang baik diantara siswa dalam memecahkan permasalahan yang ada dengan membebaskan siswa tersebut dalam mengemukakan pendapat dan ide-idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat membantu para siswa untuk meningkatkan sikap positif dalam pembelajaran matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dapat membuat siswa untuk menerima setiap pendapat lain dari siswa lain sehingga mengurangi rasa minder akan siswa yang kurang pengetahuannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-3315050071829781444?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/3315050071829781444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=3315050071829781444&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3315050071829781444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3315050071829781444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/model-pendekatan-pembelajaran.html' title='MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7153425595779237032</id><published>2010-01-02T13:49:00.002+07:00</published><updated>2010-01-02T13:49:41.263+07:00</updated><title type='text'>Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan</title><content type='html'>Nama : Nyoto&lt;br /&gt;NIM   : 07600005&lt;br /&gt;Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan&lt;br /&gt;1. Pendahuluan &lt;br /&gt;         Pendidikan merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan di setiap negara. Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2004 pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan segala potensi yang dimiliki peserta didik melalui proses pembelajaran. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi anak agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat dan warga negara. Untuk mencapai tujuan pendidikan yang mulia ini disusunlah kurikulum yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan dan metode pembelajaran. Kurikulum digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Untuk melihat tingkat pencapaian tujuan pendidikan, diperluka suatu bentuk evaluasi. &lt;br /&gt;  Dengan demikian evaluasi pendidikan merupakan salah satu komponen utama yang tidak dapat dipisahkan dari rencana pendidikan. Namun perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk evaluasi dapat dipakai untuk mengukur pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Informasi tentang tingkat keberhasilan pendidikan akan dapat dilihat apabila alat evaluasi yang digunakan sesuai dan dapat mengukur setiap tujuan. Alat ukur yang tidak relevan dapat mengakibatkan hasil pengukuran tidak tepat bahkan salah sama sekali. &lt;br /&gt;Ujian akhir nasional (UAN) merupakan salah satu alat evaluasi yang dikeluarkan Pemerintah yang, menurut pendapat saya, merupakan bentuk lain dari Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir) yang sebelumnya dihapus. Benarkah UAN merupakan alat ukur yang sesuai untuk mengukur tingkat pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan? Makalah ini mencoba untuk mengupas apakah evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab pertanyaan tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan. Pembahasan dimulai dari tujuan pendidikan, evaluasi, dan diakhiri dengan rekomendasi tentang perlu dan tidaknya evaluasi yang bersifat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kurikulum dan Evaluasi &lt;br /&gt;Sebelum berbicara tentang evaluasi, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang kurikulum sebagai cara untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mencakup fokus program, media instruksi, organisasi materi, strategi pembelajaran, manajemen kelas, dan peranan pengajar (Arieh Lewy, 1977:7-8). Di Indonesia sekarang sedang dikembangkan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) yang merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional (Kurikulum 2004, 2003 ¡V belum disahkan tetapi telah dipublikasikan baik via website maupun cetak oleh Pusat Kurikulum, Balitbang Diknas). &lt;br /&gt;Kompetensi sebagaimana dimaksud dalam draft tersebut merupakan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dimiliki oleh peserta didik yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Selanjutnya dijelaskan bahwa kompetensi dapat diketahui melalui sejumlah hasil belajar dengan indikator tertentu. Kompetensi dapat dicapai melalui pengalaman belajar yang dikaitkan dengan bahan kajian dan bahan pelajaran secara kontekstual. &lt;br /&gt;Cara mencapai kompetensi yang dibakukan disesuaikan dengan keadaan daerah dan atau sekolah. Berkaitan dengan hal ini dalam pelaksanaan kurikulum dikenal istilah diversifikasi kurikulum, maksudnya adalah bahwa kurikulum dikembangkan dengan menggunakan prinsip perbedaan kondisi dan potensi daerah, termasuk perbedaan individu peserta didik. &lt;br /&gt;Evaluasi yang diterapkan seharusnya dapat menjawab pertanyaan tentang ketercapaian tujuan pendidikan nasional. Untuk mengingat kembali, tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan " bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" ( Pasal 3 ). &lt;br /&gt;Dalam tujuan pendidikan di atas terdapat beberapa kata kunci antara lain iman dan takwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan demokratis. Konsekuensinya adalah evaluasi yang diterapkan harus mampu melihat sejauh mana ketercapaian setiap hal yang disebutkan dalam tujuan tersebut. Evaluasi harus mampu mengukur tingkat pencapaian setiap komponen yang tertuang dalam tujuan pendidikan. Pertanyaannya adalah bagaimana pelaksanaan evaluasi pendidikan di Indonesia? Apakah evaluasi yang dipakai dapat menjawab semua pertanyaan tentang tingkat pencapaian tujuan sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional? Pada bagian berikut akan dibahas penerapan sistem evaluasi di Indonesia dalam bentuk UAN.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. UAN dan Permasalahannya &lt;br /&gt;Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UAN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UAN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. &lt;br /&gt;           UAN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UAN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkn pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting ? &lt;br /&gt;Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem evaluasi dalam bentuk UAN dapat menjawab semua informasi yang diperlukan dalam pencapaian tujuan? Apakah UAN dapat memberikan informasi tentang keimanan dan ketakwaan peserta didik terhadap Tuhan Yang Maha Esa? Apakah UAN dapat menjawab tingkat kreativitas dan kemandirian peserta didik? Apakah UAN dapat menjawab sikap demokratis anak? Dapatkah UAN memberikan semua informasi tentang tingkat ketercapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan tersebut ? &lt;br /&gt;Evaluasi seharusnya dapat memberikan gambaran tentang pencapaian tujuan sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 tahun 2003. Evaluasi seharusnya mampu memberikan informasi tentang sejauh mana kesehatan peserta didik. Evaluasi harus mampu memberikan tiga informasi penting yaitu penempatan, mastery, dan diagnosis. Penempatan berkaitan dengan pada level belajar yang mana seorang anak dapat ditempatkan sehingga dapat menantang tetapi tidak frustasi? Mastery berkaitan dengan apakah anak sudah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk menuju ke tingkat berikutnya? Diagnosis berkaitan dengan pada bagian mana yang dirasa sulit oleh anak? (McNeil, 1977:134-135). UAN yang dilakukan hanya dengan tes akhir pada beberapa mata pelajaran tidak mungkin memberikan informasi menyeluruh tentang perkembangan peserta didik sebelum dan setelah mengikuti pendidikan. &lt;br /&gt;Dalam Keputusan Mendiknas No. 153/U/2003 terdapat ketidaksinambungan antara tujuan, fungsi, dan bentuk ujian. Pertama, bahwa pelaksanaan UAN bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes. Dari pernyataan tersebut muncul beberapa pertanyaan antara lain: &lt;br /&gt;"« Dapatkah tes yang dilaksanakan di bagian akhir tahun pelajaran memberikan gambaran tentang perkembangan pendidikan peserta didik? &lt;br /&gt;"« Dapatkah tes tersebut memperhatikan proses belajar mengajar dalam keseharian? &lt;br /&gt;"« Dapatkah tes tertulis melihat aspek sikap, semangat dan motivasi belajaranak?&lt;br /&gt;"« Dapatkah tes diujung tahun ajaran menyajikan keterampilan siswa yang sesungguhnya? &lt;br /&gt;"« Bagaimana kalau terjadi anak sakitpadasaatmengikutites?&lt;br /&gt;"« Apakah hasil tes dapat menggambarkan kemampuan dan keterampilan anak selama mengikuti pelajaran? &lt;br /&gt;Pertanyaan-pertanyaan di atas tidak mudah untuk memperoleh jawabannya bila dengan hanya memberikan tes pada akhir tahun pelajaran. Hasil belajar bukan hanya berupa pengetahuan yang lebih banyak bersifat hafalan, tetapi juga berupa keterampilan, sikap, motivasi, dan perilaku yang tidak semuanya dapat diukur dengan menggunakan tes karena melibatkan proses belajar. Dengan kata lain terjadi pertentangan antara tujuan yang ingin dicapai dengan bentuk ujian yang diterapkan, karena pengukuran hasil belajar tidak bisa diukur hanya dengan memberikan tes diakhir tahun pelajaran saja. &lt;br /&gt;Kedua, tujuan ujian sebagaimana disebutkan dalam Keputusan Mendiknas di atas adalah untuk mengukur mutu pendidikan di tingkat nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah. Lagi pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan-pertanyaan di atas muncul, seperti apakah mutu pendidikan dapat diukur dengan memberikan ujian akhir secara nasional di akhir tahun ajaran? Apalagi bila dihadapkan mutu pendidikan dari aspek sikap dan perilaku siswa, apakah bisa dilihat hanya pada saat sekejap di penghujung tahun? Mutu pendidikan pada tingkat nasional dapat dilihat dengan berbagai cara, tetapi pelaksanaan UAN sebagaimana yang dipraktekkan belum menjawab pertanyaan sejauh mana mutu pendidikan di Indonesia, apakah menurun atau meningkat dari tahun sebelumnya. Bahkan terdapat indikasi bahwa soal-soal UAN (yang dulu disebut Ebtanas) berbeda dari tahun ke tahun, dan seandainya hal ini benar maka akibatnya tidak bisa dibandingkannya hasil ujian antara tahun lalu dengan sekarang. Selain itu mutu pendidikan tidak mungkin diukur dengan hanya memberikan tes pada beberapa mata pelajaran ¡§penting¡¨ saja, apalagi dilaksanakan sekali di akhir tahun pelajaran. Mutu pendidikan terkait dengan semua mata pelajaran dan pembiasaan yang dipelajari dan ditanamkan di sekolah, bukan hanya pengetahuan koqnitif saja. UAN tidak akan dapat menjawab pertanyaan seberapa jauh perkembangan anak didik dalam mengenal seni, olah raga, dan menyanyi. UAN tidak akan mampu melihat mutu pendidikan dari sisi percaya diri dan keberanian siswa dalam mengemukakan pendapat dan bersikap demokratis. Dengan kata lain, UAN tidak akan mampu menyediakan informasi yang cukup mengenai mutu pendidikan. Artinya tujuan yang diinginkan masih terlalu jauh untuk dicapai hanya dengan penyelenggaraan UAN. &lt;br /&gt;Ketiga, ujian bertujuan untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Adalah ironis kalau UAN dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyenggaraan pendidikan, karena pendidikan merupakan satu kesatuan terpadu antara kognitif, afektif, dan psikomotor. Selain itu pendidikan juga bertujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia, berbudi luhur, mandiri, cerdas, dan kreative yang semuanya itu tidak dapat dilihat hanya dengan penyelenggaraan UAN. Dengan kata lain, UAN belum memenuhi syarat untuk dipakai sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. &lt;br /&gt;Jika dihubungkan dengan kurikulum, maka UAN juga tidak sejalan dengan salah satu prinsip yang dianut dalam pengembangan kurikulum yaitu ¡§diversifikasi kurikulum¡¨. Artinya bahwa pelaksanaan kurikulum disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing. Kondisi sekolah di Jakarta dan kota-kota besar tidak bisa disamakan dengan kondisi sekolah-sekolah di daerah perkampungan, apalagi di daerah terpencil. Kondisi yang jauh berbeda mengakibatkan proses belajar mengajar juga berbeda. Sekolah di lingkungan kota relatif lebih baik karena sarana dan prasana lebih lengkap. Tetapi di daerah-daerah pelosok keberadaan sarana dan prasarana serba terbatas, bahkan kadang jumlah guru pun kurang dan yang ada pun tidak kualified akibat ketiadaan. Kebijakan penerapan UAN untuk semua sekolah di Indonesia telah melanggar prinsip tersebut dan mengakibatkan ketidak adilan karena ibarat mengetes atletik tingkat pelatnas yang setiap hari dilatih dengan segala sarana dan prasarana termasuk pelatih yang memadai dengan atletik kampung yang memiliki sarana seadanya. Tentu saja hasilnya jauh berbeda, tetapi kebijakan yang diambil adalah menyamakan mereka.        &lt;br /&gt;Pelaksanaan UAN hanya pada beberapa mata pelajaran yang dianggap ¡§penting¡¨ juga memiliki permasalahan tersendiri. Benarkah hanya matematika, bahasa Indonesia yang merupakan mata pelajaran penting? Bagaimana kalau ada anak yang memiliki bakat untuk melukis, apakah itu berarti bahwa pelajaran seni jelas merupakan pelajaran penting bagi dia? Bagaimana juga dengan anak yang bercita-cita menjadi olahragawan yang berarti bahwa pelajaran olah raga merupakan pelajaran yang penting bagi dia? Kalau begitu kata ¡§penting¡¨ di sini untuk siapa? Pelaksanaan UAN pada beberapa mata pelajaran akan mendorong guru untuk cenderung mengajarkan mata pelajaran tersebut, karena yang lain tidak akan dilakukan ujian nasional. Hal ini dapat berakibat terkesampingnya mata pelajaran lain, padahal tidak semua anak senang pada mata pelajaran yang diujikan. Akibat dari kondisi ini adalah terjadi peremehan terhadap mata pelajaran yang tidak dilakukan pengujian. &lt;br /&gt;Beberapa orang berpendapat bahwa UAN bertentangan dengan kebijakan otonomi daerah sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai berikut. Kebijakan UAN dilaksanakan bersamaan dengan dikeluarkannya kebijakan otonomi daerah. Selain itu pada saat yang sama juga dikenalkan kebijakan otonomi sekolah melalui manajemen berbasis sekolah. Evaluasi sudah seharusnya menjadi hak dan tanggung jawab daerah termasuk sekolah, tetapi pelaksanaan UAN telah membuat otonomi sekolah menjadi terkurangi karena sekolah harus tetap mengikuti kebijakan UAN yang diatur dari pusat. Selain itu UAN berfungsi untuk menentukan kelulusan siswa. Padahal pendidikan merupakan salah satu bidang yang diotonomikan, kecuali sistem dan perencanaan pendidikan yang diatur secara nasional termasuk kurikulum. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan otonomi sekolah yang berhak meluluskan siswa adalah sekolah melalui kebijakan manajemen berbasis sekolah. UAN telah dijadikan alat untuk ¡§menghakimi¡¨ siswa, tetapi dengan cara yang tanggung karena dengan memberikan batasan nilai minimal 4.00. Dengan menetapkan nilai serendah itu, maka berarti bahwa standar mutu pendidikan di Indonesia memang ditetapkan sangat rendah. Kalau direnungkan, apa arti nilai 4 pada suatu ujian. Nilai 4 dapat diartikan hanya 40% dari seluruh soal yang diujikan dikuasai, padahal secara umum pada bagian lain diakui bahwa nilai yang dapat diterima untuk dinyatakan cukup atau baik adalah di atas 6. Dengan kata lain, UAN selain menetapkan standar mutu pendidikan yang sangat rendah telah ¡§menghakimi¡¨ semua siswa tanpa melihat latar belakang, situasi, kondisi, sarana dan prasarana serta proses belajar mengajar yang dialami terutama siswa di daerah pedesaan.            &lt;br /&gt;4. Bagaimana Evaluasi Pendidikan Seharusnya Dilakukan &lt;br /&gt;Evaluasi harus mampu menjawab semua informasi tentang tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Pendidikan yang diarahkan untuk melahirkan tenaga cerdas yang mampu bekerja dan tenaga kerja yang cerdas tidak dapat diukur hanya dengan tes belaka (Soedijarto, 1993a:17). Untuk itu evaluasi harus mampu menjawab kecerdasan peserta didik sekaligus kemampuannya dalam bekerja. Sistem evaluasi yang lebih banyak berbentuk tes obyektif akan membuat peserta didik mengejar kemampuan kognitif dan bahkan dapat dicapai dengan cara mengafal saja. Artinya anak yang lulus ujian dalam bentuk tes obyektif belum berarti bahwa anak tersebut cerdas apalagi terampil bekerja, karena cukup dengan menghafal walaupun tidak mengerti maka dia dapat mengerjakan tes. Sebagai konsekuensinya harus dikembangkan sistem evaluasi yang dapat menjawab semua kemampuan yang dipelajari dan diperoleh selama mengikuti pendidikan. Selain itu pendidikan harus mampu membedakan antara anak yang mengikuti pendidikan dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan. Dengan kata lain evaluasi tidak bisa dilakukan hanya pada saat tertentu, tetapi harus dilakukan secara komperehensif atau menyeluruh dengan beragam bentuk dan dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan ( Soedijarto, 1993 b:27-29 ). &lt;br /&gt;Bisakah UAN dipertahankan? Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa UAN banyak bertentangan bahkan dengan tujuannya sendiri, sehingga sulit dipertahankan. Seandainya Pemerintah tetap memilih untuk mempertahankan UAN maka selama itu perdebatan dan ¡§ketidakadilan¡¨ akan terjadi di dunia pendidikan karena memperlakukan tes yang sama kepada semua anak Indonesia yang kondisinya diakui berbeda-beda. Selain itu salah satu prinsip pendidikan adalah berpusat pada anak, artinya pendidikan harus mampu mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Seorang anak yang berpotensi untuk menjadi seorang seniman tidak bisa dipaksakan untuk menguasai matematika kalau dia sendiri tidak menyukainya dan berpikir tidak relevan dengan seni yang digelutinya. Memperlakukan semua anak dengan memberikan UAN sama artinya menganggap semua anak berpotensi sama untuk menguasai mata pelajaran yang diujikan, padahal kenyataannya berbeda.&lt;br /&gt;Bagaimana evaluasi pendidikan yang sebaiknya dilakukan? Menurut pendapat saya, evaluasi sepenuhnya diserahkan kepada sekolah. Sistem penerimaan siswa pada jenjang berikutnya dilakukan dengan cara diberikan tes masuk oleh sekolah masing-masing. Dengan cara demikian, maka setiap sekolah akan menetapkan standar sendiri melalui tes masuk yang dipakai. Sekolah yang berkualitas akan memiliki tes masuk yang relevan, dan sekolah yang kurang bermutu akan ditinggalkan masyarakat. Selain itu sekolah yang menghasilkan lulusan yang tidak bisa menerobos ke sekolah berikutnya juga akan ditinggalkan masyarakat. Dengan demikian akan terjadi persaingan sehat antar sekolah dalam menghasilkan lulusan yang terbaik dalam arti dapat melanjutkan ke sekolah berikutnya. Sistem penerimaan dengan mengacu pada UAN akan berakibat pada manipulasi data, bahkan membuka peluang terjadinya kecurangan. Pada umumnya sekolah berlomba-lomba untuk meluluskan siswa-siswanya dengan cara memberikan nilai kelulusan yang tinggi. Tetapi dengan adanya tes masuk pada sekolah berikutnya (kecuali masuk SLTP harus lanjut karena masih dalam cakupan wajib belajar), maka sekolah akan berlomba untuk membuat siswanya disamping lulus juga diterima disekolah berikutnya. &lt;br /&gt;Sistem evaluasi yang diserahkan sepenuhnya ke sekolah bukan berarti tidak diperlukan pedoman atau petunjuk teknis. Pedoman untuk melakukan evaluasi tetap diperlukan dalam memberikan guidance bagi guru agar dalam melakukan evaluasi tetap mengacu kepada kaedah-kaedah evaluasi yang berlaku secara umum. Jika UAN tetap dipertahankan maka tujuan dan pelaksanaannya harus dimodifikasi. Sebagai contoh bahwa UAN bukan bertujuan untuk menentukan kelulusan siswa tetapi dipakai sebagai pengendalian mutu pendidikan. Artinya UAN tidak perlu dikaitkan dengan kelulusan siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pendidikan pada umumnya. Dengan tujuan ini maka standar nilai UAN haruslah minimal 6 sebagaimana pada umumnya dan hanya berpengaruh pada kredibilitas sekolah. &lt;br /&gt;Sistem pelaporan hasil belajar dalam bentuk raport perlu direformasi dengan bentuk lain yang lebih komperehensif. Sebagai contoh apa arti seorang anak memperoleh nilai 8 pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di raportnya? Apakah itu berarti anak tersebut menguasai pidato dengan baik, dapat menulis puisi, dan mampu berdebat? Informasi nilai yang ada diraport tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sehingga nilai raport perlu dimodifikasi sehingga dapat memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya tentang kemampuan yang telah dimiliki anak. Sebagai contoh, bahwa untuk laporan hasil belajar bahasa Indonesia perlu mencakup kemampuan tentang membaca, berbicara, mengemukakan pendapat, kemampuan menulis, membuat karangan, berpidato, sikap menghargai orang lain, dan sebagainya. Hal yang sama dikembangkan untuk mata pelajaran yang lain. Model penilaian dengan menggunakan portfolio mungkin lebih baik daripada sistem raport yang digunakan saat ini. &lt;br /&gt;Referensi: &lt;br /&gt;Arieh Lewy (Editor). 1977. Handbook of Curriculum Evaluation. Paris: International Institute for Educational Planning &lt;br /&gt;Mc Neil, John D. 1977. Curriculum A Comprehensive Introduction. Boston: Little, Brownand Company &lt;br /&gt;Pusat Pengembangan Kurikulum. 2003. Kurikulum 2004 Kerangka Dasar (draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional &lt;br /&gt;Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993a. Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu. Jakarta : Balai Pustaka &lt;br /&gt;Soedijarto, Prof., DR, MA. 1993b. Memantapkan Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Grasindo &lt;br /&gt;Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional &lt;br /&gt;Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7153425595779237032?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7153425595779237032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7153425595779237032&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7153425595779237032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7153425595779237032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/ujian-akhir-nasional-uan-sebagai-issue_02.html' title='Ujian Akhir Nasional (UAN) Sebagai Issue Kritis Pendidikan'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-1052158034191261528</id><published>2010-01-02T13:19:00.001+07:00</published><updated>2010-01-02T13:19:07.000+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="background:url(http://lh4.ggpht.com/_Vk3H6zPQ4Gw/ST-lr9UlQXI/AAAAAAAAAbE/JotHfb0BrJY/red-crystal-heart.jpg); width:508px; height:362px; padding:5px;"&gt;Kesepian hati…&lt;br /&gt;Adakah benar adalah lorong waktu kebahagiaan ?&lt;br /&gt;Kesunyian hati…&lt;br /&gt;Adakah sungguh adalah suara merdu saat usia senja ?&lt;br /&gt;Aku takut, aku salah kira&lt;br /&gt;Meski kusadari kini ku di tengah itu semua&lt;br /&gt;Aku hanya dapat bertanya&lt;br /&gt;Tanpa sedikitpun kepastian akan jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(http://www.anggrekbiru.com/)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-1052158034191261528?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/1052158034191261528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=1052158034191261528&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1052158034191261528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1052158034191261528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2010/01/kesepian-hati-adakah-benar-adalah.html' title=''/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7825172396324717445</id><published>2009-12-29T01:00:00.000+07:00</published><updated>2009-12-29T01:00:35.251+07:00</updated><title type='text'>PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF</title><content type='html'>PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF&lt;br /&gt;PENDEKATAN KONTEKSTUAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang&lt;br /&gt;Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pemikiran tentang belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Proses belajar&lt;br /&gt;Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri&lt;br /&gt;Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru&lt;br /&gt;Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan&lt;br /&gt;Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.&lt;br /&gt;Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.&lt;br /&gt;Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide&lt;br /&gt;Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Transfer Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain&lt;br /&gt;Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)&lt;br /&gt;Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Siswa sebagai Pembelajar &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru &lt;br /&gt;Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting&lt;br /&gt;Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.&lt;br /&gt;Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Pentingnya lingkungan Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.&lt;br /&gt;Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya&lt;br /&gt;Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar&lt;br /&gt;Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual&lt;br /&gt;Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.Pengertaian CTL &lt;br /&gt;1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.&lt;br /&gt;2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRADISONAL&lt;br /&gt;1. Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru&lt;br /&gt;2. Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna)&lt;br /&gt;3. Siswa secara pasif menerima informasi&lt;br /&gt;4. Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis&lt;br /&gt;5. Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan&lt;br /&gt;6. Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandarkan pada hapalan&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran&lt;br /&gt;Siswa secara pasif menerima informasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/-masalah yang disi-mulasikan&lt;br /&gt;Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa&lt;br /&gt;Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang&lt;br /&gt;Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.&lt;br /&gt;Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)&lt;br /&gt;Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu-nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men-dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)&lt;br /&gt;8.&lt;br /&gt;Perilaku dibangun atas kesadaran diri&lt;br /&gt;Perilaku dibangun atas kebiasaan&lt;br /&gt;9.&lt;br /&gt;Keterampilan dikem-bangkan atas dasar pemahaman&lt;br /&gt;Keterampilan dikem-bangkan atas dasar latihan&lt;br /&gt;10.&lt;br /&gt;Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri&lt;br /&gt;Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor&lt;br /&gt;11.&lt;br /&gt;Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan&lt;br /&gt;Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman&lt;br /&gt;12.&lt;br /&gt;Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik&lt;br /&gt;Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik&lt;br /&gt;13.&lt;br /&gt;Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting&lt;br /&gt;Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas&lt;br /&gt;14.&lt;br /&gt;Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik.&lt;br /&gt;Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.&lt;br /&gt;1.Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya&lt;br /&gt;2.Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik&lt;br /&gt;3.kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya&lt;br /&gt;4.Ciptakan masyarakat belajar&lt;br /&gt;5.Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran&lt;br /&gt;6.Lakukan refleksi di akhir pertemuan&lt;br /&gt;7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Tujuh Komponen CTL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.KONSTRUKTIVISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal&lt;br /&gt;Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. INQUIRY&lt;br /&gt;Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman&lt;br /&gt;Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. QUESTIONING (BERTANYA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa&lt;br /&gt;Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar&lt;br /&gt;Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri&lt;br /&gt;Tukar pengalaman&lt;br /&gt;Berbagi ide&lt;br /&gt;5.MODELING (PEMODELAN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar&lt;br /&gt;Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. REFLECTION ( REFLEKSI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari&lt;br /&gt;Mencatat apa yang telah dipelajari&lt;br /&gt;Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa&lt;br /&gt;Penilaian produk (kinerja)&lt;br /&gt;Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.Karakteristik Pembelajaran CTL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerjasama&lt;br /&gt;Saling menunjang&lt;br /&gt;Menyenangkan, tidak membosankan&lt;br /&gt;Belajar dengan bergairah&lt;br /&gt;Pembelajaran terintegrasi&lt;br /&gt;Menggunakan berbagai sumber&lt;br /&gt;Siswa aktif&lt;br /&gt;Sharing dengan teman&lt;br /&gt;Siswa kritis guru kreatif&lt;br /&gt;Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain &lt;br /&gt;Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.&lt;br /&gt;Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar&lt;br /&gt;2.Nyatakan tujuan umum pembelajarannya&lt;br /&gt;3.Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu&lt;br /&gt;4.Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa&lt;br /&gt;5.Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; @@@@@@@@@@@@@@@@@@ By: Shinyo @@@@@@@@@@@@@@&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7825172396324717445?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7825172396324717445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7825172396324717445&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7825172396324717445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7825172396324717445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/12/pengembangan-model-pembelajaran-yang.html' title='PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7763781729242346778</id><published>2009-11-20T23:06:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T23:06:53.602+07:00</updated><title type='text'>kewarganegaraan</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang pada dasarnya merupakan subjek atau pelaku di dalam pergerakan pembaharuan atau subjek yang akan menjadi generasi-generasi penerus bangsa dan membangun bangsa dan tanah air ke arah yang lebih baik dituntut untuk memiliki etika. Etika bagi mahasiswa dapat menjadi alat kontrol di dalam melakukan suatu tindakan. Etika dapat menjadi gambaran bagi mahasiswa dalam mengambil suatu keputusan atau dalam melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Oleh karena itu, makna etika harus lebih dipahami kembali dan diaplikasikan di dalam lingkungan mahasiswa yang relitanya lebih banyak mahasiswa yang tidak sadar dan tidak mengetahui makna etika dan peranan etika itu sendiri, sehingga bermunculanlah mahasiswa-mahasiswi yang tidak memiliki akhlaqul karimah, seperti mahasiswa yang tidak memiliki sopan dan santun kepada para dosen, mahasiswa yang lebih menyukai hidup dengan bebas, mengonsumsi obat-obatan terlarang, pergaulan bebas antara mahasiswa dengan mahasiswi, berdemonstrasi dengan tidak mengikuti peraturan yang berlaku bahkan hal terkecil seperti menyontek disaat ujian dianggap hal biasa padahal menyontek merupakan salah satu hal yang tidak mengindahkan makna dari etika. Perlu Anda ketahui bahwa realita banyaknya bermunculan para koruptor di Indonesia disebabkan oleh seseorang yang tidak memahami arti kata dari iman dan etika. Banyak orang yang beranggapan dan meyakini para koruptor yang ada sekarang adalah seorang yang dahulunya terbiasa melakukan tindakan menyontek di saat ujian tanpa merasa bersalah, lebih tepatnya mencontek memiliki makna yang sama dengan kecurangan. Jadi menyontek diibaratkan dengan korupsi mengambil hak seseorang tanpa izin dan meraih sesuatu tanpa memikirkan apakah cara yang digunakannya benar atau salah dan ini semua berhubungan dengan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mahasiswa masih belum menyadari betapa pentingnya etika di dalam pembentukan karakter-karakter seorang penerus bangsa dan negara, akankah bangsa Indonesia untuk di masa yang akan datang di isi oleh penerus-penerus bangsa yang berakhlaqul karimah atau beretika?. Akan diletakkan dimanakah wajah Indonesia nanti apabila bangsa Indonesia dibangun oleh jiwa-jiwa yang penuh dengan kecurangan atau dengan akhlaq-akhlaq tercela?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PERUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dikaji dalam karya tulis ilmiah ini dirumuskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah pengertian mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah kewajiban dan hak mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Apakah pengertian etika dan peranan etika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Adakah hubungan etika dengan mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Bagaimanakah realita aktivitas mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Mengapa mahasiswa bersikap anarkis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Apakah fungsi etika bagi mahasiswa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. TUJUAN PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan perumusan masalah di atas, peranan etika bagi mahasiswa diharapkan dapat mewujudkan dan menumbuhkan etika dan tingkah laku yang positif. Namun secara umum karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Diharapkan mahasiswa mengetahui, memahami, dan dapat mengamalkan nilai-nilai etika di kalangan atau di dalam aktivitas mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. METODE PENULISAN DAN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode yang digunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah metode studi literatur, observasi, dan quisioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. SISTEMATIKA PENULISAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya tulis ilmiah ini terdapat beberapa bab diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab I pada karya tulis ilmiah ini membahas tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan penelitian serta sistematika penulisan karya tulis ilmiah ini. Latar belakang masalah pada karya tulis ilmiah ini memamparkan alasan penulis mengapa etika sangat mempunyai peranan penting dalam aktivitas mahasiswa. Pada bab I ini dijelaskan pula perumusan masalah yang mengacu kepada pedoman 5 W+H, menjelaskan tujuan penulisan serta memberitahukan kepada pembaca karya tulis ini, metode yang digunakan adalah studi literatur, observasi, dan quisioner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab II karya tulis ilmiah ini menjelaskan atau memaparkan tentang pengertian dari etika, peranan, aktivitas dan mahasiswa dari berbagai pendapat tokoh-tokoh terkenal, serta menjelaskan secara umum tentang peranan etika dan apa saja yang termasuk ke dalam aktivitas mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bab II karya tulis ilmiah ini mengacu kepada perumusan masalah yang secara umum akan membahas tentang pengertian mahasiswa dan etika, kewajiban dan hak mahasiswa, hubungan etika dengan mahasiswa, realita aktivitas mahasiswa, dan fungsi etika bagi mahasiswa serta di dalam karya tulis ilmiah ini akan dilampirkan quisioner yang dijawab oleh para mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB IV PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini akan membahas simpulan dan saran. Pada bagian simpulan, semua materi yang telah dijelaskan akan disimpulkan dan pada bagian saran berisi saran yang ditulis oleh penulis dan terdapat pula harapan-harapan dari penulis yang berkenaan dengan judul karya tulis ilmiah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAJIAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. Pengertian Etika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlaq); kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlaq; nilai mengenai nilai benar dan salah, yang dianut suatu golongan atau masyarakat. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan pelbagai ajaran moral. (Suseno, 1987)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika sebenarnya lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan tingkah laku manusia. (Kattsoff, 1986)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. Pengertian Peranan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan berasal dari kata peran. Peran memiliki makna yaitu seperangkat tingkat diharapkan yang dimiliki oleh yang berkedudukan di masyarakat. Sedangkan peranan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilksanakan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. Peranan Etika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peranan etika bagi aktivitas mahasiswa yaitu menjadi landasan dalam melakukan kegiatan yang tetap mengacu atau melihat nilai-nilai dan norma-norma, sehingga segala perbuatan dan tingkah laku kita dapat diterima masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. Pengertian Aktivitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas adalah keaktifan; kegiatan; kesibukan; kerja atau salah satu kegiatan kerja yang dilaksanakan dalam tiap bagian di dalam perusahaan. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. Pengertian Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah sekumpulan manusia intelektual yang akan bermetamorfosa menjadi penerus tombak estafet pembangunan di setiap Negara, dengan itelegensinya diharapkan bisa mendobrak pilar-pilar kehampaan suatu negara dalam mencari kesempurnaan kehidupan berbangsa dan bernegara, serta secara moril akan dituntut tanggung jawab akdemisnya dalam menghasilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan. (www.google.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. Macam-macam Aktivitas Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang aktivitas, mahasiswa memiliki banyak aktivitas selain belajar sebagai tujuan utama menjadi mahasiswa. Mahasiswa sebagai subjek dapat memilih apa yang terbaik untuk dirinya. Relitanya aktivitas mahasiswa ada yang positif dan ada yang negatif, kembali kepada mahasiswa itu sendiri apakah ia menginginkan jalan yang baik atau tidak. Aktivitas positif mahasiswa selain belajar adalah mengikuti atau menyelami dunia organisasi di kampus, disiplin akan waktu, dan mematuhi segala peraturan yang tidak bertentangan dengan norma-norma yang ada. Sedangkan aktivitas negatif mahasiswa adalah bersikap anarkis dalam berdemonstrasi, tidak mematuhi peraturan yang berlaku, berbuat keonaran antar sesama mahasiswa atau mahasiswi, bergaul secara bebas tanpa mengindahkan peraturan yang ada dan melakukan tindakan curang yaitu menyontek disaat ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mendengar dan melihat sebuah tragedi yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu seperti: tragedi Trisakti, tragedi 27 Juli, peristiwa Ambon, peristiwa Aceh, tragedi Lampung, dan peristiwa Malari Banyuwangi. Apabila kita mengingat kembali tragedi Semanggi I yang terjadi pada tanggal 11-13 November 1998 dan tanggal 24 September 1998 tanggal dimana terjadinya tragedi Semanggi II. Tragedi ini menunjukkan kepada dua kejadiaan protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda sidang istimewa yng mengkibatkan tewasnya warga sipil sebanyak 17 warga sipil, kemudian kejadian kedua yaitu tragedi Semanggi II menyebabkan tewasnya seorang mahasiswa dan sebelas orang lainnya di seluruh Jakarta serta menyebabkan 217 korban luk-luka. Pada saat itu, masyarakat dan mahasiswa menolak sidang istimewa 1998 dan juga menentang dwi fungsi ABRI/TNI. Sepanjang diadakannya sidang istimewa itu masyarakat berabung dengan mahasiswa setiap hari melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Peristiwa ini mendapat perhatian sangat besar dari seluruh Indonesia dan dunia internasional. Hampir seluruh sekolah dan universitas di Jakarta, tempat diadakannya sidang istimewa tersebut diliburkan untuk mencegah mahasiswa karena di bawah tekanan aparat yang tidak menghendaki aksi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pelaku utama dari peristiwa di atas sebagian besar adalah mahasiswa yang pada dasarnya menginginkan keadilan dan memperjuangkan sebuah makna dari kata kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa sebagai pelaku utama dan agent of exchange dalam gerakan-gerakan pembaharuan memiliki makna yaitu sekumpulan manusia intelektual, memandang segala sesuatu dengan pikiran jernih, positif, kritis yang bertanggung jawab, dan dewasa. Secara moril mahasiswa akan dituntut tangung jawab akademisnya dalam menghsilkan “buah karya” yang berguna bagi kehidupan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edward Shill mengkategorikan mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial yang khas. Shill menyebutkan ada lima fungsi kaum intelektul, yakni mencipta dan menyebar kebudayaan tinggi menyediakan bagan-bagan nasional dan antar bangsa, membina keberdayan dan bersama mempengaruhi perubahan sosial dan memainkan peran politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kewajiban dan Hak Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang hak dan kewajiban, seorang mahasiswa terlebih dahulu harus melaksanakan kewajibannya dan kemudian mendapatkan haknya sebagai seorang mahasiswa. Mahasiswa sebagai kelompok terpenting dalam sebuah masyarakat memiliki kewajiban yaitu menuntut ilmu, menguasai ilmu dengan sungguh-sungguh agar menjadi seorang yang berguna yang mengaplikasikan atau mengembangkan disiplin ilmunya bagi lingkungan tempat dimana ia tinggal, mematuhi peraturan yang berlaku, sebuah perturan yang tidak menyimpang dari ketetapan hukum-hukum Allah dan nilai-nilai, norma-norma yang ada, selain itu mahasiswa juga harus memainkan peranan penting sebagai pencetus perubahan dan revolusi. Saidina Ali k.w.j. berkata: “Bukanlah orang muda yang hanya mengatakan: ‘Ayahku begini!’ tetapi orang muda adalah yang mengatakan: ‘Ini Aku!’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata di atas memberikan semangat bahwa seorang mahasiswa seharusnya memiliki prinsip yang kuat, mampu melakukan perubahan dan berani menegakkan kata kebenaran di atas sebuah kemungkaran, selain itu mahasiswa juga wajib melaksanakn Tridarma Mahasiswa yaitu melakukan penelitian, pengabdian, dan pengajaran yang diawali dengan proses belajar yang sungguh-sungguh. Berbicara tentang kewajiban mahasiswa juga berhak mendapatkan hak yang diterimanya, yaitu mendapatkan perlakuan yang sama dari pendidik tanpa memandang status sosial dari mahasiswa tersebut, apakah mahasiswa tersebut berasal dari kalangan menengah atau dari kalangan menengah ke bawah, mendapatkan ilmu, menerima dan dapat menggunakan sarana dan prasarana yang ada, mengemukakan aspirasinya tetap dengan “sopan”, dan mendapatkan pencerahan agama sebagai penyeimbang dalam menjalani kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Pengertian Etika dan Peranannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lebih mendalami makna atau pengertian dari etika, saya akan memberikan contoh kasus yang berhubungan dengan etika dan mahasiswa. Peristiwa ini terjadi di Makasar, pelaku dari peristiwa ini adalah mahasiswa UMI (Universitas Muslim Indonesia) yang pada saat itu mengenakan jas almamater berwarna hijau sedang berdemonstrasi. Para mahasiswa UMI tadi ramai-ramai memukuli salah seorang professor yang saat itu dalam kondisi sakit hendak diantar ke rumah sakit, hanya kerena anak beliau hendak memindahkan pagar penghalang jalan utama karena hendak buru-buru mengantar sang professor ke rumah sakit. Memalukan! Mungkin itu yang Anda katakan ketika mengetahui peristiwa yang melibatkan para mahasiswa ini. Dimanakah etika mereka semua? Apakah mereka berpikir apakah dampak yang akan mereka terima setelah mereka menganiaya perofessor itu?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para mahasiswa itu mengatasnamakan demokrasi dalam melakukan tindakan itu, tapi apakah kebebasan berdemokrasi tidak mengindahkan makna dan peranan etika?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti yaitu tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang; kebiasaan, adat; akhlak, watak; perasaan, sikap, cara berpikir. Jadi, etika adalah nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Etika tidak sama dengan etiket, “Etika” berarti “moral” dan “Etiket” berarti “sopan santun”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika berkaitan dengan nilai, norma, dan moral. Di dalam Dictionary of Sosciology and Related Sciences dikemukakan bahwa nilai adalah kemampuan yang dipercayai dan pada suatu benda untuk memuaskan manusia. Jadi nilai itu hakikatnya adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam nilai itu sendiri terkandung cita-cita, harapan-harapan, dambaan-dambaan dan keharusan. Menurut tinggi rendahnya, nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat tingkatan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Nilai-nilai kenikmatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkatan ini terdapat deretan nilai-nilai yang mengenakkan dan tidak mengenakkan yang menyebabkan orang senang atau menderita tidak enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Nilai-nilai kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkatan ini terdapatlah nilai-nilai yang penting bagi kehidupan misalnya kesehatan, kesegaran jasmani, dan kesejahteraan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Nilai-nilai kejiwaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkat ini terdapat nilai-nilai kejiwaan yang sama sekali tidak tergantung dari keadaan jasmani maupun lingkungan. Misalnya nilai keindahan, kebenaran maupun lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Nilai-nilai kerohanian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tingkat ini terdapatlah modalitas nilai dari yang suci dan tidak suci. Misalnya nilai-nilai pribadi. Ada empat macam nilai-nilai kerohanian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Nilai kebenaran yang bersumber pada akal (ratio, budi, cipta) manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Nilai keindahan atau nilai estetis, yang bersumber pada perasaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Nilai kebaikan atau nilai moral, yang bersumber pada unsur kehendak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Nilai religius, yang merupakan nilai kerohanian tertinggi dan mutlak. Nilai ini bersumber kepada kepercayaan atau keyakinan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika. Istilah moral mengandung integritas dan martabat pribadi manusia. Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang itu tercermin dari sikap dan tingkah lakunya. Jadi norma sebagai penuntun sikap dan tingkah laku manusia. Antara norma dan etika memiliki hubungan yang sangat erat yaitu etika sebagai ilmu pengetahuan yang membahas tentang prinsip-prinsip moralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika memiliki peranan atau fungsi diantaranya yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Dengan etika seseorang atau kelompok dapat menegemukakan penilaian tentang perilaku manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjadi alat kontrol atau menjadi rambu-rambu bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan suatu tindakan atau aktivitasnya sebagai mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Etika dapat memberikan prospek untuk mengatasi kesulitan moral yang kita hadapi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Etika dapat menjadi prinsip yang mendasar bagi mahasiswa dalam menjalankan aktivitas kemahasiswaanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Etika menjadi penuntun agar dapat bersikap sopan, santun, dan dengan etika kita bisa di cap sebagai orang baik di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Hubungan Etika dengan Mahasiswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara etika dengan mahasiswa memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam contoh kasus mahasiswa Universitas Muslim Indonesia yang sudah diceritakan di atas, dapat kita nilai bahwa etika sangat berperan penting terhadap diri mahasiswa maupun orang lain, dengan memahami peranan etika mahasiswa dapat bertindak sewajarnya dalam melakukan aktivitasnya sebagai mahasiswa misalnya di saat mahasiswa berdemonstrasi menuntut keadilan etika menjadi sebuah alat kontrol yang dapat menahan mahasiswa agar tidak bertindak anarkis. Dengan etika mahasiswa dapat berperilaku sopan dan santun terhadap siapa pun dan apapun itu. Islam telah mengajarkan kepada bahwa kita harus berperilaku sopan terhadap orang yang lebih tua dari kita dan etika juga sudah di jelaskan di dalam Islam, etika di dalam Islam sama dengan akhlaq, dan mahasiswa sebagai mahluk Allah SWT. yang telah diberikan karunia berupa akal, akhlaq yang baik ditujukan bukan hanya kepada manusia saja melainkan kepada semua mahluk baik mahluk hidup ataupun benda mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang mahasiswa yang beretika, mahasiswa harus memahami betul arti dari kebebasan dan tanggung jawab, karena banyak mahasiswa yang apabila sedang berdemonstrasi memaknai kebebasan dengan kebebasan yang tidak bertangung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Kebebasan dan Tangung Jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada manusia yang tidak tahu apa itu kebebasan, karena kebebasan merupakan kenyataan yang akrab dengan kita semua. Dalam hidup setiap manusia kebebasan adalah unsur hakiki. Kadang-kadang kebebasan dimengerti sebagai kesewenang-wenangan. Kalau begitu, orang disebut bebas bila ia dapat berbuat atau tidak berbuat sesuka hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebas dimengerti sebagai terlepas dari segala kewajiban dan keterkaitan. Kebebasan dilihat sebagai izin atau kesempatan untuk berbuat semaunya. Banyak mahasiswa yang tidak beretika salah mengartikan kebebasan, mereka mengartikan kebebasan dalam arti kesewenang-wenangan. Kata “bebas” disalahgunakan sebab “bebas” sesungguhnya tidak berarti “lepas dari segala keterkaitan”. Jadi kebebasan yang sejati adalah kebebasan yang mengandaikan keterikatan oleh norma-norma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas-batas kebebasan, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Faktor-faktor dari dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan pertama-tama dibatasi oleh faktor-faktor dari dalam, baik fisik maupun psikis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lingkungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan dibatasi juga oleh lingkungan, baik alamiah maupun sosial. Contohnya orang yang berasal dari lingkungan miskin tidak bebas masuk perguruan tinggi karena yang ingin masuk perguruan tinggi harus memenuhi syarat yang tidak bisa dipenuhi oleh golongan orang yang kurang mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kebebasan orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan ini dibatasi apabila semua gerak-gerik seseorang dibatasi oleh orang lain, dan ternyata mengakui kebebasan orang lain secara konkret berarti menghormati hak-hak orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Generasi-generasi mendatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan dibatasi oleh juga oleh masa depan umat manusia atau oleh generasi-generasi sesudah kita. Contohnya kebebasan kita dalam menguasai dan mengeksploitasi alam dibatasi sampai titik tertentu, sehinga alam bisa menjadi dasar hidup bagi generasi-generasi mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang ideal adalah mahasiswa yang dapat bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Orang yang bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakunya dan bukan saja ia bisa menjawab-kalau Ia mau-melainkan juga ia harus menjawab. Tanggung jawab berarti bahwa orang tidak boleh mengelak, bila diminta penjelasan tentang perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Anarkisme, Mahasiswa, dan Etika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anarkisme berasal dari kata dasar anarki dengan imbuhan isme. Kata anarki merupakan kata serapan dari bahasa Inggris anarchy atau anarchie (Belanda/Jerman/Perancis), yang berakardari kata Yunani anarhos/anarchein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anarkisme yaitu suatu paham yang mempercayai bahwa segala bentuk negara, pemerintahan dengan kekuasaan adalah lembaga-lembaga yang menumbuh suburkan penindasan terhadap kehidupan. Oleh karena itu negara, pemerintahan, beserta perangkatnya harus dihilangkan/dihancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan anarkis berarti orang yang mempercayai dan menganut anarki. Dalam arti lain anarkis yaitu kegiatan yang bersifat menuju kekerasan, tidak mau mengalah dan eakan kata musyawarahsudah tidak berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan anarkis tidak sepenuhnya identik dengan mahasiswa, tetapi dalam realitanya masih ada mahasiswa yang menganut anarkisme. Menurut seorang mahasiswi UNTIRTA, mahasiswa yang menganut paham anarkis disebut juga mahasiswa prematur yang sudah tidak bisa memilih mana yang baik dan yang buruk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini gelar mahasiswa sebagai kaum intelektual perlahan mulai bergeser menjadi kaum anarkis. Dalam masyarakat yang sehat, anarkisme tidak akan muncul, karena masyarakat paham bagaimana menyelesaikan setiap persoalan secara baik, rasional, dan harus sesuai dengan etika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Denny JA. ada tiga kondisi lahirnya gerakan sosial seperti gerakan mahasiswa yang melakukan tindakan anarkis. Pertama, gerakan sosial dilahirkan oleh kondisi yang memberikan kesempatan bagi gerakan itu. Kedua, gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Ketiga, gerakan sosial semata-mata masalah kemampuan kepemimpinan dari tokoh penggerak. Gerakan mahasiswa mengaktualissikan potensinya melalui sikap-sikap dan pernyataan yang bersifat imbuan moral. Mereka mendorong perubahan dengan mengetengahkan isu-isu moral sesuai sifatnya yang bersifat ideal. Ciri khas gerakan mahasiswa adalah mengaktualisasikan nilai-nilai ideal mereka karena ketidakpuasan terhadap lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 0 komentar »&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7763781729242346778?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7763781729242346778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7763781729242346778&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7763781729242346778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7763781729242346778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/kewarganegaraan.html' title='kewarganegaraan'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-5637569283634792247</id><published>2009-11-20T23:05:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T23:05:13.491+07:00</updated><title type='text'>PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA ( GROUP TO TUTOR)TERHADAP PEMAHAMAN SISWA KELAS X PADA SUB KONSEP TUMBUHAN PAKU</title><content type='html'>PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA ( GROUP TO TUTOR)TERHADAP PEMAHAMAN SISWA KELAS X PADA SUB KONSEP TUMBUHAN PAKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1 LATAR BELAKANG MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengajaran Student Active Learning (SAL) merupakan konsekuensi logis dari pengajaran yang seharusnnya. Student Active Learning (SAL) menuntut adanya keaktifan belajar siswa sehingga dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Ditinjau dari proses belajar mengajar Student Active Learning (SAL) dapat diartikan salah satu cara strategi mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi siswa seoptimal mungkin, sehingga mampu mengubah tingkah laku siswa secara lebih efektif dan efisien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2 RUMUSAN MASALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Apakah Student Active Learning (SAL) dengan menggunakan tebak kata berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Apakah Student Active Learning (SAL) dengan menggunakan teka-teki silang berpangaruh terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yang menggunakan tebak kata dengan Student Active Learning (SAL) yang menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3 TUJUAN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL)dengan menggunakan tebak kata terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Mengetahui bagaimana pengaruh Student Active Learning (SAL) dengan menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mengatahui adakah perbedaan antara Student Active Learning (SAL) yang menggunakan tebak kata dengan Student Active Learning (SAL) yang menggunakan teka-teki silang terhadap pemahaman siswa kelas X pada sub konsep lumut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4 MANFAAT PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapakan dapat menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak yang terkait dalam bidang pendidikan, terutama guru untuk menentukan cara-cara yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan, yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya penelitian ini siswa diharapkan dapat aktif dan tidak pasif dalam pembelajaran, siswa juga dapat terlibat secara intelektual dan emosional sehingga siswa betul-betul berperan dan berpartisipasi aktif dalam melakukan kegiatan belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5 HIPOTESIS PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hipotesis dari penelitian ini yaitu ada pengaruh terhadap pemahaman siswa kelas X dengan menggunakan Student Active Learning (SAL) tebak kata dan Student Active Learning (SAL) teka-teki silang pada sub konsep lumut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1 DEFINISI OPERASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Student Active Learning (SAL) yaitu salah satu cara atau strategi mengajar yang menuntut keaktifan dan partisipasi siswa seoptimalkan mungkin. Teknik yang digunakan dalam Student Active Learning yaitu tebak kata dan teka-teki silang (TTS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemahaman merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami apa yang telah diajarkan. Untuk mengukurnya yaitu dengan menggunakan pre-tes dan pos-test.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Lumut ( Bryophyta) berasal dari bahasa yunani bryon yang berarti “ tumbuhan lumut”. Lumut merupakan jenis tumbahan rendah yang pertama beradaptasi dengan lingkungan darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2 METODE DAN DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode : quasi eksperimem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain : pre-test dan post-test&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3 POPULASI DAN SAMPEL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi : Sisawa SMAN 5 KOTA SERANG&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampel : teknik random sampling dan didapat kelas X-6 (teka-teki silang) dan X-7 (tebak kata)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dengan menggunakan tebak kata berpengaruh terhadap pemahaman siswa, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 36,7% dan pada rata-rata post-test meningkat menjadi 59,9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembelajaran Student Active Learning (SAL) dengan menggunakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;teka-teki silang berpengaruh terhadap pemahaman siswa, hal ini dapat dilihat dari nilai rata-rata pre-test mencapai 33,8% dan pada rata-rata post-test meningkat menjadi 57,9%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berdasarkan hasil di atas dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan peningkatan terhadap kedua kelas tersebut, hal ini dilihat dari rata-rata bahwa kelas TBK mencapai 23,2%, dan kelas TTS mencapai 24,1%. Dari data di atas terdapat perbedaan mencapai 0,9% dari kedua kelas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berdasarkan hasil penelitian, bahwa pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata dan teka-teki silang, dapat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Oleh karena itu diharapkan para guru dapat mengembangkan aktivitas siswa agar siswa lebih aktif dalam pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendekatan Student Active Learning menggunakan tebak kata dan teka-teki silang dapat membangkitkan aktivitas belajar siswa agar lebih aktif dalam proses belajar mangajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Bagi guru yang akan menggunakan pendekatan Student Active Learning dengan tebak kata dan teka-teki silang dalam pembelajaran, maka diharapkan agar memperhatikan masalah waktu, keadaan siswa dan kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arikunto, S. 2006. Prosedur penelitian. Rineka Cipta. Jakarta : vii + 370 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purwanto, N. 1994. Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengjaran. Remaja Rosdakarya. Bandung : ix + 165 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riduwan. 2008. Belajar mudah penelitian untuk guru-karyawan dan peneliti pemula. Alfa Beta. Bandung : x + 240 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silberman, M.L. 2006. Active learning (101 Cara Belajar Siswa Aktif). Nusamedia dengan Nuanasa. Bandung : 17 + 301 hlm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 0 komentar »&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-5637569283634792247?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/5637569283634792247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=5637569283634792247&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5637569283634792247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5637569283634792247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/pengaruh-penggunaan-metode-pembelajaran.html' title='PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA ( GROUP TO TUTOR)TERHADAP PEMAHAMAN SISWA KELAS X PADA SUB KONSEP TUMBUHAN PAKU'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7650865148614890975</id><published>2009-11-20T23:03:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T23:03:11.073+07:00</updated><title type='text'>SINOPSIS BUKU  Judul : Sang Pemimpi</title><content type='html'>SINOPSIS BUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Sang Pemimpi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Andrea Hirata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Bentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun Penerbit : 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan : September 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah halaman : 292 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cover : Biru, putih, abu-abu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran : 20.5 cm&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segmentasi umum :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SANG PEMIMPI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari yang mencekam menyelimuti arai, jimbron, invalid dengan disela petir terdengar dengan jelas suara pantopel yang semakin mendekat hanya terhalang jarak dan papan lagi suara pantopel itu mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih parah lagi invalid dia muntah-muntah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari menerawang dari sela-sela celah menyimpan ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengendap-endap manjauhi suara sepatu tersebut pada saat arai menengok 20 meter kebelakang terlihat di teronggok reyot dipabrik cincau, dan daun-daun cinta berhamburan, lalu menyelinap melompati para-para alung dan membaur diantara pembeli diantara pembeli tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik kejam, pengen rasanya aku mencongkel matanya kata si Arai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arai selalu megeluarkan gejala yang bisa menandakan kalau dia sedang ketakutan tubuhnya menggigil, giginya gemeletuk dan nafasnya mengendus satu-satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pak Mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara lama yang keras dalam penegakan disiplin. Selain guru biologi dia juga darwinian tulen karena itu dia sama sekali tidak toleran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari gelar B.A itu adalah perguruan traditional silat yang ditakuti, dengan kebiasannya menjilat telunjuknya dan menggosok telunjuk itu ke embel-embel namanya yang bertengger didadanya. Nafas Arai tertahan ketika pak mustar membalikan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mustar adalah seorang yang penting banget sebenarnya dengan kerja kerasnya pak mustar bisa mendirikan sekolah SMA dibelitong kemudian pak Mustarlah yang telah menyelamatkan keterpurukan yang hampir melanda belitong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pak Mustar mendirikan sekolah itu Arai, Ical harus menempuh jarak 120 km jauhnya untuk ke sekolah, dan memang benar SMA itu bukan SMA yang biasa, SMA itu adalah SMA yang terfaforit disana,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mustar adalah sosok yang baik, sopan, santun dan memadu dengan masyarakat banyak. Tapi lain hal dengan sekarang pak Mustar menjadi manusia jelmaan robot yang keras bila dikatakan manusia bertangan besi setelah dia tau anaknya yang justru tidak diterima di sekolah SMA yang dia bangun itu, padahal dengan kerja kerasnya pak Mustar meembangun sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Mustar tidak dapat lagi membanggakan sekolah dan tidak dapat lagi membanggakan anaknya, semua anakpun senang karena mereka diterima kecuali anak pak Mustar. Dia tidak diterima karena NEM ujian nasionalnya kurang dari 0,25 dari batas minimal untuk nilai NEM yang bisa diterima adalah 42, sedangkan anak pak mustar Cuma 41,75.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah empat puluh tahun akhirnya bumi pertiwi belitong timur negeri yang kaya akan timah itu memiliki SMA Negeri, maka dan itu orang melayu, tionghoa, sawang dan pulau berkerudung ingin menghirup candu ilmu di SMA itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. Julian Ichsan balia adalah seorang kepala sekolah dimana tempat arai, ical sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menyumbangkan kapur tulis, papan tulis, jam dinding, pagar, bahkan masih ada salah satu anak yang NEM nya 28 tap dia tidak tau ibukota provinsinya sendiri sumsel mendapat kursi di SMA itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arai adalah lelaki pada biasanya dia bertengkar dengan tukang parkir sepeda hanya gara-gara uang dua ratus perak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arai adalah anak yatim karena waktu Arai berumur 7 atau saat kelas satu SD, ibu Arai meninggal dunia karena melahirkan anak yang kedua, tapi bukan kebahagiaan malah anak dan ibunya meninggal, ternyata kesedihan belum mau beranjak dan hidup Arai menginjak kelas tiga SD Arai harus lagi mengeluarkan air mata karena harus ditinggalkan sang ayah yang sangat ia cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak semenjak ibunya melahirkan dan langsung meninggal arai hanya hidup dengan ayahnya, kini arai harus merasa kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus ayah dan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kerumah ikal, ikal tidak banyak bicara karena pilu kepada arai, sesampai dirumah ikal arai menangis dan dibasuh nya airmata dengan tangan bajunya yang dekil dan kumel ayah ikal mencuri-curi pandang kepada kepada arai dan ikal, sebari duduk diatas kopra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian arai mengeluarkan suatu benda yang belum pernah ikal lihat sebelumnya, bahkan asing banget .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benda itu menyerupai helikopter dan benda itu sangatlah sederhana karena itu adalah benda permainan anak kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sehabis maghrib ikal selalu mengajak arai membaca kitab suci al-quran dibawah lampu minyak tanah yang kurang terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ikal sedang mengaji arai malah turun dari tangga rumah untuk berlari menembus kebun ilalang menuju lapangan diujung kampung ditempat rumah ikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu matahari yang menyinari rumahku begitu gerah, dan kebun kelapa sawit yang seakan membelah sinar matahari sambil duduk diatas talang arai dan ikal memainkan mainan traditional yang terbuat dari kaleng susu bendera dan kaleng botan. Arai diatas talang sedangkan ikal di kandang ayam. Dan mereka bertemu dengan ibu-ibu yang berbadan gemuk, yang itu adalah cek maryam yang meminta-minta beras dengan karung butut dan kedua anaknya meminta belas kasihan kepada ibunya ikal. Dengan rasa kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu masih pagi dimana tempat foto copy “Kang Emod” masih tutup itu adalah tempat kami bekerja. Dengan mengumpulkan bahan US arai tidak mengerti, terigu, minyak dan tidak lama kemudian ibu mertua deborah menampar-namparkan piring ketempat makanan kucing, mereka hanya diam dan bersifat sabar mendengar semua yang di lakukan mertua deborah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata mak cikpun jatuh, seakan terlahir untuk susah, lalu mak cik menatap anak perempuanya yang namanya Nurmi. Nurmi adalah anak kelas dua SMP, dia kelihatan kurus kering dan kurang gizi. Ia terlihat batinya sangat tertekan nurmi sambil memegang erat biola kesayanganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dikasih bakat dari kakeknya dikampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga ikal miskin tapi keluarga mak cik lebih miskin daripada keluarga ikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal dan arai ngefens banget pada A. Put.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan terbaru terjadi pada adat dimana A.Put tinggal dengan sesuatu yang terjadi, misalkan banyak yang terjadi banyak kelahiran maka seorang paraji akan menjadi ketua adat dan jika para buaya yang mulai tak bersahabat dengan masyarakat sekitar maka pawang buayalah yang akan menjadi ketua adat begitu dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aktifitas yang dilakukan oleh arai, jimran dan ikal setiap pagi adalah berbekal bambu, mereka mencari hewan laut yang bisa dimakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, ikal, arai dan jimran nonton TV dibalai desa dan menyaksikan tayangan berita tentang mujahidin, dengan semua itu mereka taulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu arai tidak bisa menulis dengan benar tetapi dia bisa menulis dengan huruf latin, sedangkan ayah arai menulis dengan menggunakan huruf arab, bahkan tanda tangan ayah arai menggunakan salah satu huruf arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat pengambilan raport aku memakai baju berkantong empat, yang mana baju tersebut memiliki sejarah yang tidak bisa dilupakan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * 0 komentar »&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7650865148614890975?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7650865148614890975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7650865148614890975&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7650865148614890975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7650865148614890975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/sinopsis-buku-judul-sang-pemimpi.html' title='SINOPSIS BUKU  Judul : Sang Pemimpi'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2333287902263835702</id><published>2009-11-20T22:55:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T22:55:53.459+07:00</updated><title type='text'>MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA</title><content type='html'>BAB I&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Model Pembelajaran Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model dan pendekatan pada pembelajaran matematika sangat memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran. Karena model-model dan pendekatan pada matematika akan membawa setiap siswa untuk kita sebagai pelajaran untuk menjdi lebih efektif dalam belajar. Tentunya seorang guru, dituntut untuk mampu mengembangkan serta menerapkankannya dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan demikian efektivitas pembelajaran matematika akan berjalan dengan baik dan berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya, model dan pendekatan yang diterapkan harus juga dilihat berdasarkan kepada tingkat psikologi dari setiap pembelajaran sehingga siswapun dapat mengaplikasikan dan menerapkannya sesuai dengan kemampuan daya berpikir mereka. Pada bagian pembahasan kali ini saya akan menjelaskan tingkat kedalaman atau pendekatan dan model apa saja yang digunakan dalam pembelajaran matematika tersebut. Dalam hal ini, tentunya seorang guru harus memiliki sikap yang mengerti dan mengetahui akan kemampuan dalam menyampaikan materi atau model pembelajaran yang akan digunakan. Diamana, jika seorang guru tidak memperhatikan tahap perkembangan dan apa yang dialami siswa akibatnya akan mengalami kesulitan karena cara penyampaian model yang diterapkan tidak sesuai/tidak bisa diserap oleh siswa pada saat pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, begitu pentingnya pengetahuan tentang bagaimana pembelajaran akan pendekatan model yang akan dapat dimengerti. Sebab itu, disini saya akan menguraikan model-model pembelajaran pada matematika yang saya lihat berdasarkan hasil pengamatan melalui menonton dari model pendekatan pembelajaran matematika. Dengan apa yang akan saya uraikan tentang model pembelajaran matematika diharapkan dapat memahami dan menerapkan model yang cocok dalam pelakasanaan pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil pengamatan yang saya lihat melalui CD model pembelajaran pada matematika ada beberapa model yang dapat saya kemukakan dan jelaskan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1 Conseptual Multi Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada conseptual multi model ini dilakukan pada SLTP N 32 Surabaya dimana model pembelajaran yang digunakan beraneka ragam dan sangat menarik minat anak untuk melakukan suatu pembelajaran pada matematika. Sehingga pada model ini anak dituntut untuk dapat secara kreatif, dan inovatif mengembungkan daya berpikir mereka dalam memahami dan memecahkan suatu permasalahan yang ada. Terutama dalam dunia matematika, sehingga dengan dapat memecahkan masalah yang ada dapat mengembangkan diri dan motivasi pada mereka masing-masing oleh karena itu, bentuknya keberhasilan akan model conseptual multi model dapat tercapai jika ditentukan oleh beberapa aspek atau dapat dilihat dari hal dibawah ini, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran ini yaitu conseptual multi model situasi kelas yang tergambar pada pelaksanaan model ini sangat dikelola dengan baik dan kondusif dan terlihat proses interaksi dan adanya kerjasama yang baik antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran sehingga tidak terlihat bosan dan monoton. Namun, hal ini juga tergantung dari guru bagaimana membuat suatu keadaan yang nyaman dan menyenangkan pada siswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.2 Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Model Conseptual Multi Model&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model conseptual model ini adanya tahapan penyampaian yang dilakukan, dimana guru mengambil materi yang akan diajarkan tentang statistik oleh guru yang bernama Bpk. Samri, Tahapannya, Yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Fase I (menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahapan ini guru sebagai pelaku dalam pembelajaran matematika memberikan pengarahan akan materi dan maksud yang akan diajarkan sehingga siswa lebih memahami akan kearah mana mereka untuk melakukan proses pembelajaran sehingga dengan demikian mereka tidak akan mengalami kesulitan karena sudah dijelaskan dari awal tentang apa yang akan mereka pelajari. Sehingga pada khirnya, memotivasi keingintahuan pada siswa tentang hal-hal yang belum mereka ketahui akan materi yang akan disampikan dan pada khirnya menumbuhkembangkan daya berpikir mereka akan materi yang diberikan oleh guru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Fase II (Menyajikan Data)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih kepada pengelolaan kelas yang ada, maksudnya pada saat guru telah menyampaikan maksud dari proses pembelajaran itu maka setiap kelas yang ada dibagi oleh beberapa kelompok sesuai dengan pembagin guru untuk berdiskusi berdasrkan kelompok itu akan maslah yang dihadapinya. Dengan pembagian kelompok ini diharapkan agr setiap siswa yang telah dibagikn kelompoknya dapat mengkomunikasikan dan menyajikan data dengan anggotanya sesuai materi dan tujuan yang akan diharapkan sehingga dengan adanya diskusi kelompok kecil ini siswa dapat menyajikan, menganalisis, dan memecahkan berbagai masalah penting pada data yang telah disiapkan sehingga dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan berkomunikasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Fase III (Mengarahkan Permasalahan Yang Telah Ada)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini inti dari fase ini adalah lebih bagaimana guru memberikan suatu kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang ada bersama kelompok yang telah dibagi oleh dewan guru, dan selanjutnya siswa melakukan pengamatan langsung kepada objek dari permasalahan itu sesuai dengan objek/fakta yang ada dilingkungan sekitar mereka saja. Sehingga dengan adanya objek yang mereka amati siswa dapat menemukan akan cara mereka sendiri dalam menyelesaikan permasalahan yang ada namun disamping itu adanya juga pengarahan akan keputusan yang mereka ambil akan masalah itu. Dengan demikian siswa akan lebih diberdayakan kepada pengetahuaannya yang ada pada diri mereka tersebut. Setelah itu, dari hasil mereka mempresentasikan masalah yang ada seorang guru kiranya memberikan suatu pujian atau penguatn yang positif berdasarkan teori Skinner dengan adanya penguatan yang positif itu diharapkan dapat meningkatkan kepekaan perilaku dan respon akan proses dan pembelajaran Matematika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Fase IV + V (Membimbing Kelompok Untuk Bekerja dan Belajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini membimbing dalam menafsirkan dari hasil pengamatan akan masalah yang dialaminya serta memecahkan secara bersama-sama dari masalah itu. Jika, salah satu dan kelompok ada yang tidak mengerti akanmaksud an masalah itu maka kelompokitu dapat mengajukan pertanyaan seputar masalah yang ia alami. Dan guru memberikan suatu respon/masalah yang positif kepada siswa itu dengan memberikan tanggapan yang positif kepada siswa itu dengan memberikan suatu pujian atau rasa kepedulian akan masalah yang dialami oleh anak itu. Hal ini, dimaksudkan agar dapat meningkatkan perilaku dan respon anak itu sehingga dengan itu anak akan terus menggali dan mencari informasi dari permasalahan yang telah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya setelah kelompok itu mengajukan dan mempresentasikan dari hasil masalah yang dia alami maka diberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk mengemukakan pendapatnya atau membentuk memberikan informasi akan penyelesaian masalah yang ada sehingga proses pembelajaran pada matematika menjadi proses pembelajaran yang bermakna dan penuh dengan penemuan akan hal-hal yang baruyang dapat mengembangkan proses berpikir dari siswa itu berdasarkan teori Ausubel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Fase VI (Mengajak Siswa Berdiskusi dan Memantapkan Materi Pembelajaran)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini saat siswa yang telah diberikan suatu permasalahan yang ada maka tahapan ini siswa lebih diajak untuk memahami maksud atau materi yang disampaikan yang lebih kepada merangkum secara global atau menyeluruh akan permasalahan yang ada. Tentunya pendekatan yang ada diarahkan sesuai dengan pemikiran siswa dan ide-ide yang dikembangkan oleh siswa itu sehingga daya berpikir mereka dapat berjalan dengan leluasa dengan baik. Dengan adanya diberikan keleluasaan berpikir dan memahami akan permasalahan yang ada siswa tersebut akan memiliki motivasi dan minat yang tinggi akan pembelajaran matematika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Fase VII (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini setelah semua kelompok dari awal fase I – VI maka guru menilai dan melihat dari hasil kerja yang mereka lakukan berdasarkan pengamatan akan masalah yang telah mereka alami. Guru memberikan pengamatan akan masalah yang telah mereka alami. Guru memberikan suaut reward/penghargaan atas pekerjaan yang mereka alami penghargaan ini berupa pujian yang positif sehingga dapat merespon stimulus daya anak itu akan tindakan yang dilakukannya sehingga dengan adanya suatu pujian maka akan membuat anak itu menjadi penuh semangat dalam mengatasi permasalahan yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran matematika di atas yaitu Conseptual Multi Model adanya beberapa kelebihan yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep pembelajaran pada matematika akan menarik dan lebih kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pembelajaran pada matematika itu akan mengembangkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pembelajaran pada matematika pada model ini dapat menciptakan keterampilan, menyelidiki dan pemecahan akan masalah yang dialami pada dunia matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2 Pembelajaran Konseptual Berbasis “KBK”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada model pembelajaran konseptual berbasis “KBK” yang dilakukan pada SLTPN 32 Surabaya pada materi yang disampaikan mengenai perbandingan oleh Bpk. Conny dimana model pembelajaran ini lebih diarahkan kepada pemecahan akan suatu permasalahan berdasarkan pengalaman dan daya kemampuan pada setiap individu akan pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga disini dituntut untuk belajar mandiri dan bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran konseptual berbasis “KBK” lebih dititik beratkan kepada pembelajaran yang sifatnya mandiri dan hal ini terlihat dari situasi kelas yang mendukungnya dimana proses pembelajaran berjalan secara aktif dan penuh dengan interaktif antara guru dan siswa sebagai proses dari pembelajaran sehingga tidak pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.2 Fase-fase/Tahapan Dalam Pelaksanaan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Orientasi Siswa Kepada Masalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini siswa menanyakan tentang masalah yang berhubungan dengan yang dia alami. Dimana, siswa dicoba untuk mengetahui komponen-komponen atau hal-hal yang berhubungan dengan masalah yang ada sehingga siswa dapat mengerti dan memahami akan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian, siswa dapat berpikir secara luas tentang masalah yang terkait dan berpikir secara inovatif akan permasalahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (Mengorganisasi Siswa Untuk Belajar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih dikondisikan kepada suatu situasi kelas yang lebih menciptakan suatu kelompok yang dapat memecahkan akan masalah yang ada sehingga siswa dituntut untuk dapat mengeksplorasi dan belajar dari permasalahan yang dialaminya dengan demikian dapat menciptakan suatu karakter dari setiap perilaku orang dan anak itu terhadap materi yang akan diberikan pada setiap kelompok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Membimbing Penyelidikan Individual Maupun Kelompok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru memberikan suatu pengarahan akan materi yang telah disampaikan. Dan guru mencoba bertanya kepada tiap-tiap kelompok akan kesulitan yang dialaminya berdasarkan materi yang telah diberikan. Sampai benar-benar guru itu membimbing dan memberikan pengaruh dengan melakukan pengawasan secara individual maupun kelompok dengan membimbing dan melakukan penyelidikan akan membuat siswa itu mendapatkan suatu penguatan yang positif bagi diri mereka, mengembangkan sikap tanggap mereka terhadap masalah yang ada. Serta membantu mereka dalam mengembangkan ide-ide akan hal yang mereka punyai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hal ini setelah guru membimbing dan melakukan suatu penyelidikan akan masalah yang dihadapinya sehingga apa yang ada telah didapatnya dikembangkan berdasarkan kemampuan dan keahlian yang didapatnya. Pada hal ini, materi yang telah diberikan dipersentasikan oleh semua kelompok untuk menyajikan hasil materi yang telah dipahaminya. Disini, kelompok lain memberikan tanggapan terhadap apa yang disajikan oleh kelompok yang mempresentasikan sehingga adanya suatu hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran. Sehingga, pengembangan akan informasi yang didapat tidak berpaku pada hal yang menoton tetapi lebih beraneka ragam. Dengan demikian adanya kreatifitas dan daya berpikir yang lebih luas terhadap data yang diberikan sehingga adanya suatu hubungan dan pengalaman akan hasil yang didapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini materi yang telah dijelaskan kepada siswa guru menanyakan kepada tiap kelompok akan apa yang telah mereka dapatkan berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan sehingga guru mencoba meriview dan melakukan suatu pengulangan akan apa yang mereka lakukan. Hal ini dimaksudkan agar masalah yang mereka dapatkan menjadi suatu belajar yang bermakna dan penuh dengan pengertian sehingga mereka dapat menyimpulkan akan apa yang telah mereka ketahui secara mandiri dan dalam hal ini dapat menumbuhkan kembangkan kecerdasan dan daya intelektual pada setiap siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Fase VI (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini guru menilai dari hasil yang telah terjadi selama proses pembelajaran dikelas melalui kegiatan dan prses interaksi yang berlangsung seperti keaktifan bertanya, menyangga sehingga guru mencoba memberikan suatu penghargaan yang luar biasa kepada siswa yang melakukan proses interaksi selama pembelajaran. Hal ini dimaksudkan agar penghargaan yang diberikan baik ucapan pujian atau apapun dapat mengembangkan motivasi dan rasa bergembira si siswa yang pada akhirnya siswa bersemangat dan adanya motivasi yang lebih lagi untuk dapat mempertahankan prestasi dan penghargaan yang ada pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran Conseptual berbasis KBK tentu sangat bermanfaat sekali dalam proses pembelajaran terutama pada matematika, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mengembangkan sikap mandiri siswa dalam menemukan dan mencari akan permasalahan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan penguatan yang positif kepada anak untuk dapat meyakini dirinya akan hal-hal yang berat danpenuh rintangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan suatu sikap/perilaku pembiasaan akan suatu hal sehingga siswa terbiasa untuk mengerjakan soal yang beraneka ragam dan soal yang sulit sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3 Pembelajaran Konseptual Berbasis “KBK” Melalui Pengajaran Langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran pada matematika terutama pada pembelajaran langsung sangat membuat sikap kreatif dan inovatif pada pemikiran setiap siswa sehingga anak dapat leluasa dalam melaksanakan kegiatan proses pembelajaran yang sedang berlangsung secara aktif, kreatif, dan berfikir secara intelektual dalam setiap proses pembelajaran terutama pada pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran melalui pengajaran langsung berlangsung secara baik dan tertib sehingga kenyamanan dalam belajar dapat tercipta dengan baik dan luar biasa. Selain itu, juga anak-anak maupun siswa belajar itneraktif dan penuh dengan daya berpikir yang luar biasa sehingga situasi kelas yang ada tidak menoton akan suatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.2 Fase-fase/Tahapan dalam Pelaksanaan Pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konseptual berbasis “KBK” melalui pengajaran langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Menyampaikan Tujuan dan Menyiapkan Siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru mencoba membuka pikiran siswa terhadap materi yang akan disampaikan sehingga guru mengajak siswa mengarah kepada konsep yang akan disampaikan langsung kepada siswa itu. Dengan demikian siswa diajak untuk dapat mengerti dan membuka akan apa yang telah dipikirkan/dimiliki oleh siswa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (Mendemonstrasikan Pengetahuan dan Keterampilan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siswa diajak bisa memecahkan masalah yang dihadapi dan mencoba menjelaskan kepada guru dan teman-temannya itu dengan demikian dapat menimbulkan pengetahuan dan pemahaman bagi siswa itu dan orang yang ada bersama dia juga. Hal ini dapat menciptakan suatu keadaan yang dapat melibatkan siswa dalam memahami proses penalaran, mendapatkan balikan mengenai pemahaman siswa, dan dapat membimbing siswa kepada suatu konsep penalaran bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian guru melukiskan pemahaman dan pengetahuan tentang materi yaitu mengurutkan pecahan dan selanjutnya persoalan diberikan untuk dipecahkan secara bersama-sama berdasarkan kemampuan yang dimilikinya itu. Namun, pendemontrasian yang ada harus berdasarkan secara garis besar sesuai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan pengarahan dan pembimbingan akan masalah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Membimbing Pelatihan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini guru, memberikan langsung kepada objek permasalahan yang akan diamati siswa secara berpasangan dan setelah itu guru membimbing dan melihat siswa itu berdasarkan materi yang telah dikerjakan oleh siswa sambil membimbing dan memberikan arahan terhadap permasalahan yang dihadapinya. Sehingga dengan membimbing adanya suatu komunikasi dan proses interaksi diantara guru dan siswa dalam memecahkan permasalahan yang ada secara bersama-sama. Dengan demikian hal ini dapat mengembangkan dan membina kerja sama dan proses pemikiran yang saling timbal balik diantara guru dan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini setelah adanya proses membimbing untuk mengarahkan kepadahal yang ada selanjutnya materi yang telah disampaikan pada awal pembelajaran siswa dituntut untuk dapat mengerti dan memahami akan permasalahan yang ada sehingga walaupun diberikan permasalahan yang baru siswa akan penuh dengan kesiapan menghadapi permasalahan yang ada itu dengan seoptimal mungkin. Selanjutnya pemahaman yang telah ada tadi diberikan lagi kepada si anak lebih kepada permasalahan yang baru dan lebih sulit namun berdasarkan kepada apa yang telah dimilikinya sehingga dapat mengetahui tingkat kemampuan berpikir siswa apakah sudah mengerti atau masih perlu adanya pembimbing akan permasalahan yang dihadapinya sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Memberikan Kesepakatan Untuk Pelatihan dan Penerapan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini lebih didasarkan akan pengembangan kemampuan yang telah didapatnya sesuai permasalahan yang telah diberikan. Sehingga permasalahan yang telah ada dapat diselesaikan sesuai dengan kemampuan daya ingatan mereka akan masalah yang ada itu. Disini, dituntut untuk dapat menyelesaikannya dengan cepat dan cermat sesuai dengan fakta-fakta yang telah diterapkannya. Namun, kesempatan yang ada harus diperhatikan akan waktu yang ada sehingga tepat dan sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan untuk berlatih dan menerapkannya tentunya perlu adanya keterampilan secara rutin sehingga dengan adanya keterampilan itu akan meningkatkan daya ingat dan penerapan dalam memahami latihan yang akan dipecahkan. Hal ini, sejalan dengan pengerjaan akan menimbulkan suatu pengajaran dan penerapan yang baik akan latihan yang diberikah oleh guru aupun dosen yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pembelajaran konseptual berbasis KBK melalui pengajaran langsung memang diperlukan adanya pengarahan karena itu adanya kelebihan pada pembelajaran ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Guru dapat memberikan apa yang dia kuasai kepada muridnya sehingga adanya timbal balik didalam proses pembelajaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Siswa dibimbing untuk dapat memecahkan masalah sehingga daya berpikir mereka semakin berkembang dan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dapat menciptakan suatu pembiasaan perilaku yang baik terhadap pemecahan masalah yang luar biasa sulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4 Pembelajaran Dengan Kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan kooperatif adalah suatu pembelajaran yang dapat membantu siswa meningkatkan sikap positif siswa dalam dunia matematika. Sehingga dengan adanya sikap positif dapat membangun rasa kepercayaan diri mereka. Bahkan dengan sikap positif dapat menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami oleh siswa.Pembelajaran dengan sikap positif dapat menghilangkan rasa cemas terhadap matematika yang banyak dialami oleh siswa. Pembelajaran dengan kooperatif dapat meningkatkan berfikir kritis serta meningkatkan kemampuan siswa dalam pemecahan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.1 Situasi Kelas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembelajaran kooperatif yang saya lihat melalui CD materi pembelajaran di Lab. Untirta pada saat itu, guru Fitriani menerangkan materi statistika tentang ukuran pemusatan. Disini, terlihat adanya interaktif dan kerjasama didalam kelas sehingga proses pembelajaran terlihat aktif dan penuh antusiasme. Karena, saat itu dibagi oleh beberapa kelompok dimana kelompok itu diberikan kesempatan untuk berinteraksi, dengan kelompok lain untuk menyelesaikan suatu masalah. Sehingga pada kelas yang menerapkan kooperatif ini terjadi adanya suatu keterbukaan ide dalam menyampaikan gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.2 Fase-fase / Tahapan dalam Pembelajaran Melalui Kooperatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Cari Uang Cepat&lt;br /&gt;Panduan cari penghasilan dan uang saku tambahan da Bisnis Internet Pemula&lt;br /&gt;Kerja 1jam/minggu, hasil 1jt/bln. Garansi, ada&lt;br /&gt;200rb dijamin masuk terus ke rek. anda, mau ?&lt;br /&gt;Bisnis paling bagus sistem kerjanya, paling cepat  Mau Jutaan Per Hari Dengan Mudah?&lt;br /&gt;Bukan software,tak perlu domain+hosting baru.&lt;br /&gt;DAFTAR GRATIS KOMISI LEVEL 1 Rp. 100 RIBU&lt;br /&gt;SEGERA UPGRADE PAID INVESTOR &amp; DAPATKAN JUTAAN RU Software penghsil uang ,DIJLANKAN dari HP / WRNET&lt;br /&gt;Smart machine .Untuk PEMULA ,income 1jt/hari&lt;br /&gt;Pemula KAYA Mendadak, Dari HANDPHONE anda bisa di&lt;br /&gt;SOFTWARE PENGUMPUL UANG DI ATM,BRI/BCA/BII/MANDIRI HANYA 50 Rb SISTEM PENGHASIL UANG-NEW!&lt;br /&gt;Cr Mudah Hasilkan Uang Dgn Sistem Uang Otomatis&lt;br /&gt;SAYA MENGHASILKAN UANG Rp.5.115.206 DALAM 1 HARI&lt;br /&gt;Tanpa Kerja Cuma Mengetik 30 Menit. BUKTIKAN !&lt;br /&gt;KumpulBlogger.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Fase I (Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru merumuskan dahulu materi yang ada secara garis besar untuk disampaikan kepada siswa sesuai dengan kemampuan dan pemikiran siswa. Guru memiliki beberapa orang siswa sebagai media dalam penyampaian tujuan yang akan dibicarakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya siswa dibawa untuk memahami suatu masalah yang ada dengan dibagi beberapa kelompok, setelah itu guru memberikan masukan akan pengerjaannya sehingga membuat kemampuan motivasi yang tinggi kepada siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Fase II (menyajikan informasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase ini, lebih menekankan kepada penjelasan akan maksud dan pengertian dari materi yang akan dibahas dengan menggali informasi yang ada secara bersama-sama. Dengan menggali informasi yang ada maka dapat membuka pengetahuan dan pemahaman akan materi yang akan disampaikan oleh guru kepada siswa itu, sehingga informasi yang ada digali bersama-sama oleh siswa secara kelompok yang telah dibagikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Fase III (Mengorganisasikan siswa dalam kelompok)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru, memilih kelompok yang telah dibagikan secara heterogen sehingga tidak adanya deskriminasi terhadap kelompok yang pandai atau cenderung yang lebih aktif. Disini guru membimbing sampai mengelola kelompok yang ada. Guru melihat apakah kelompok yang sudah dapat secara interaktif membahas masalah yang ada jika kelompok yang ada cenderung siswanya pendiam maka guru harus mengkoordinasikan dan mengelola kelompok yang terbatas dengan pemikiran para siswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Fase IV (Membimbing kelompok untuk bekerja dan Belajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini guru memberikan suatu kelompok dalam hal ini kelompok yang ada diajak untuk memecahkan suatu permasalahan yang disampaikan oleh guru secara kelompok. Tentunya masalah yang disiapkan oleh guru harus dibuat sedemikian rupa sehingga akan menimbulkan saling membutuhkan antara anggota yang satu dan anggota yang lain dalam menyelesaikan masalah. Disini, guru dituntut untuk mengarahkan membimbing dalam pengambilan langkah untuk pemecahan masalah yang ada sehingga siswa diajak juga untuk sambil mengetahui tingkat kemampuan yang dialami oleh kelompok dengan demikian guru dan siswa saling bekerja sama dalam mengatasi masalah yang ada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Fase V (Evaluasi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase ini, setelah guru dan siswa membimbing setiap masalah yang telah ada siswa diajak untuk mengevaluasi dan mempresentasikan dari hasil yang telah diuat dan dikerjakan oleh kelompok yang ada sehingga mengingatkan siswa untuk mengulang akan apa yang telah didapatnya dari pemahaman pemikirannya sendiri. Dengan demikian, siswa mengetahui apa yang salah dan kurang pada dirinya yang akan dirangkum dan ditambahkan oleh guru sebagai pusat dari proses pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah siswa telah mempresentasikan semua materi akan permasalahan yang ia alami guru disini, hanya menjelaskan secara keseluruhan akan apa yang telah disampaikan berdasarkan kekurangan yang ada dan materi yang telah dipresentasikan tadi. Dengan demikian, guru menyimpulkan dan membuat penyelesaian akan permasalahan yang ada sebagai hasil dari pencepatan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Fase VI (Memberikan Penghargaan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah guru menyimpulkan semua permasalahan yang telah dialami. Selanjutnya guru melihat akan apa yang telah diperoleh dari pemahaman yang didapat oleh siswa itu disini. Guru melihat dari aspek keaktifan dan bersosialisasi terhadap apa yang telah ia pahami yang pada akhirnya dapat membuka suatu pengetahuan guru pada dirinya. Sebagai penambahan semangat belajar guru pada dirinya. Sebagai penambah semangat belajar guru memberikan suatu penghargaan berupa ucapan selamat kepada kelompok yang telah banyak memberikan masukan dan pendapatnya. Sehingga dengan pemberian ucapan kata-kata yang bagus dapat menggembirakan dan membuat siswa suka dengan pembelajaran matematika dan dapat meningkatkan respon yang lebih mengarah kepada peningkatan motivasi siswa tersebut untuk lebih rajin belajar lagi dan siswa itu dapat mempertahankan akan apa yang telah ia dapatkan melalui penguatan positif yang didapatnya oleh guru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.4.3 Kelebihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran dengan kooperatif pada intinya dapat meningkatkan kepekaan kita kepada orang lain. Maka kelebihanya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Adanya suatu kerjasama yang baik diantara siswa dalam memecahkan permasalahan yang ada dengan membebaskan siswa tersebut dalam mengemukakan pendapat dan ide-idenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dapat membantu para siswa untuk meningkatkan sikap positif dalam pembelajaran matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Dapat membuat siswa untuk menerima setiap pendapat lain dari siswa lain sehingga mengurangi rasa minder akan siswa yang kurang pengetahuannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2333287902263835702?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2333287902263835702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2333287902263835702&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2333287902263835702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2333287902263835702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/model-pendekatan-pembelajaran.html' title='MODEL PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-1477177643022041391</id><published>2009-11-20T22:30:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T22:30:47.891+07:00</updated><title type='text'>Membuat Mail Merge Dengan OpenOffice.org</title><content type='html'>Pada posting saya akan menjelaskan teknik-teknik pembuatan mail merge menggunakan OpenOffice.org. Pada saat tutorial ini dibuat, versi OpenOffice.org terbaru adalah OpenOffice.org 3.0. Jika Anda menggunakan versi sebelumnya atau bahkan sesudahnya Anda dapat menyesuaikan dengan versi tersebut. Sedangkan dua aplikasi OpenOffice.org yang saya gunakan adalah OpenOffice.org Writer sebagai dokumen utama (main document) dan OpenOffice.org Calc sebagai sumber datanya (data source).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa menggunakan OpenOffice.org ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utama saya menggunakan OpenOffice.org adalah karena aplikasi ini  bersifat open source, sehingga Anda tidak perlu membayar lisensi kepada pembuatnya (berlisensi bebas). Cita-cita yang lebih panjang tentunya adalah saya ingin menciptakan generasi yang bisa menghargai hasil cipta orang lain, dalam hal ini adalah generasi yang menggunakan hasil cipta bukan bajakan.  Tidak dipungkiri lagi bahwa saat ini, sebagai negara berkembang, sebagian besar rakyat Indonesia masih menggunakan perangkat lunak bajakan/tidak asli. Untuk itu dibutuhkan kerjasama dari kita semua untuk dapat memulai menggunakan perangkat lunak aplikasi-aplikasi open source. Usaha ini pastinya tidak akan begitu saja berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, usaha tersebut dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya mulai memperkenalkan aplikasi-aplikasi open source kepad siswa SD, SMP atau SMA. Jika mereka dari kecil sudah memulainya, bukan tidak mungkin untuk generasi berikutnya prosentase pembajakan perangkat lunak di Indonesia bisa berkurang bahkan menjadi nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain mengapa saya membuat tutorial ini adalah karena untuk membuat mail merge dengan OpenOffice.org cukup berbeda langkah-langkahnya dengan jika kita membuat mail merge di Microsoft Office. Semoga tutorial ini bisa berguna bagi Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara mendapatkan aplikasi OpenOffice.org ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aplikasi OpenOffice.org dapat diperoleh dengan cara men-download dari internet, meng-copy CD yang disertakan dalam buku atau majalah, atau membeli dari penyedia CD/DVD lainnya. Untuk mendownload secara langsung silahkan klik disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu mail merge ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mail merge sering juga disebut surat massal, yaitu surat yang isinya senada dan dikirimkan ke banyak orang atau tujuan yang berbeda-beda. Dengan mail merge, pengiriman surat ke banyak tujuan dapat Anda selesaikan secara cepat dan tepat. Surat dibuat menggunakan dokumen utama dan sumber data. Dokumen utama dan sumber data dapat dibuat pada satu aplikasi (OpenOffice.org Writer). Pada tutorial ini saya menggunakan OpenOffice.org Writer sebagai dokumen utama dan OpenOffice.org Calc sebagai sumber datanya, karena kasus-kasus seperti inilah yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sajakah manfaat mail merge itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pimpinan lembaga pendidikan komputer, misalnya Anda ingin membuat sertifikat untuk peserta didik Anda. Jika peserta didik Anda sedikit tentunya Anda dapat membuat satu-persatu tanpa menggunakan mail merge. Namun jika peserta didik Anda mencapai ribuan bagaimana Anda membuat sertifikatnya ? Membuat satu persatu ? Tentunya hal ini akan merepotkan Anda. Lain halnya jika Anda membuatnya dengan mail merge. Anda cukup membuat satu dokumen utama yang berisi kalimat-kalimat pengantar dan sumber data yang berisi rumus-rumus perhitungan. Disinilah peran utama mail merge. Selain digunakan untuk membuat seritikat, mail merge dapat juga digunakan untuk membuat:&lt;br /&gt;1. Surat Undangan Rapat&lt;br /&gt;2. Surat Penawaran Barang&lt;br /&gt;3. Surat Pemberitahuan&lt;br /&gt;4. Sertifikat&lt;br /&gt;5. Surat Keterangan Dalam Bidang Pendidikan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tutorial kali ini saya berikan contoh penggunaan mail merge untuk membuat sertifikat. Untuk sumber datanya saya menggunakan  OpenOffice.org Calc karena dengan aplikasi ini kita bisa melakukan perhitungan, menggunakan rumus-rumus dan fungsi-fungsi logika. Simak tutorial berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 1&lt;br /&gt;Dengan  OpenOffice.org Writer buatlah dokumen utama seperti berikut ini. Simpan dengan nama utama.odt. (hanya contoh).&lt;br /&gt;dok utama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik disini untuk download dokumen utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 2&lt;br /&gt;Titik-titik di atas (nama, nilai dan keterangan lulus/tidak lulus) diisi dengan sumber data yang dibuat dengan  OpenOffice.org Calc. Untuk menuju ke  OpenOffice.org Calc, cukup klik di bawah menu file di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah 2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, silahkan Anda buat sumber data seperti berikut ini. Jangan lupa simpan data Anda dengan nama sumber.ods.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klik disini untuk download file: sumber.ods&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan:&lt;br /&gt;1.Untuk menentukan jumlah, blok dulu ketiga sel C2 sampai dengan E2, setelah itu klik tanda sigma. Atau gunakan rumus=SUM(C2:E2). Untuk jumlah di bawahnya tinggal double click pada sel F2.&lt;br /&gt;2.Keterangan ditentukan dengan rumus: jika Jumlah &gt; 230 maka peserta yang bersangkutan dinyatakan Lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk rumus di G2, gunakan rumus berikut ini.&lt;br /&gt;=IF(F2&gt;230;”LULUS”;”TIDAK LULUS”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 3&lt;br /&gt;Selanjutnya, kembali dokumen utama di  OpenOffice.org Writer. Pada langkah ini kita akan menghubungkan dokumen utama dan sumber data. Untuk mengambil sumber data dari dokumen spreadsheet, klik File –&gt; Wizards –&gt; Address Data Source.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 4&lt;br /&gt;Kemudian pilih Other external data source.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 5&lt;br /&gt;Pada Connection Setting pilih Setting –&gt; Spreadsheet –&gt; Next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 6&lt;br /&gt;Arahkan menuju file sumber data Anda. Klik Browse –&gt; Finish. Anda dapat melakukan Test Connection terlebih dahulu untuk menguji apakah file Anda benar-benar bisa diubungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 7&lt;br /&gt;Pada Field Assigment biarkan sesuai dengan defaultnya saja. Pada Data Source Title, gantilah judulnya misalnya, Daftar Nilai. Klik Next –&gt; Finish untuk mengakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 8&lt;br /&gt;Selanjutnya, tekan tombol F4 atau klik menu View –&gt; Data Sources, sehingga Anda memiliki tampilan Data Source seperti berikut. Klik dua kali pada Sheet1 untuk melihat sumber data yang telah kita buat di aplikasi spreadsheet. Jika Anda menemui kesulitan untuk menampilkan sumber datanya, padahal sudah mengikuti langkah-langkah di atas, maka Anda lakukan refreshing data, caranya dengan tekan F4 beberapa kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 9&lt;br /&gt;Drag dan drop dari data di atas ke dokumen utama kita, untuk Nama, Nilai dan Keterangan.&lt;br /&gt;langkah9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 10&lt;br /&gt;Berikut hasil akhir penggabungan dokumen utama kita dengan sumber data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 11&lt;br /&gt;Untuk mencetak hasilnya, klik File –&gt; Print. Pilih Yes jika ada pertanyaan konfirmasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah 12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;langkah12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pada Output pilih File, karena kita akan melihat hasilnya di file terlebih dahulu. Namun jika Anda sudah yakin Anda bisa memilih langsung Printer. Sedangkan untuk cara penyimpannya Anda bisa menggunakan Save as single document jika Anda hanya ingin menyimpan dalam bentuk satu file. Namun jika Anda ingin menyimpan satu persatu sesuai dengan jumlah data, maka pilihlah Save as individual documents. Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang dapat saya refleksikan setelah saya membuat mail merge dengan aplikasi-aplikasi OpenOffice.org adalah&lt;br /&gt;1. Saya merasa puas, karena perangkat lunak yang saya gunakan adalah perangkat lunak yang open source.&lt;br /&gt;2. Langkah-langkah untuk membuat mail merge dengan  OpenOffice.org memang sedikit berbelit-belit ketika di awal, namun jika sudah terbiasa langkah-langkah tersebut akan menjadi mudah.&lt;br /&gt;3. Hasil yang ditampilkan sudah maksimal dan sesuai tujuan pembuatan mail merge, meskipun memang belum seperti kalau kita membaut dengan aplikasi Microsoft Office. Misalnya, jika kita menggunakan OpenOffice.org, setelah dokumen utama dan sumber data digabungkan kita belum bisa melihat preview hasil jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tutorial di atas dapat bermanfaat bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Istiyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Referensi:&lt;br /&gt;Fauzi Akhmad.2004.Kolaborasi Word dan Excel dalam Membuat Mail Merge.Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sauri.2008.Buku Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi Kelas X Semester II untuk SMA/MA.Jakarta: Kementerian Negara Riset dan Teknologi bekerja sama dengan Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Komunikasi dan Informatika, Republik Indonesia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-1477177643022041391?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/1477177643022041391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=1477177643022041391&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1477177643022041391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/1477177643022041391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/membuat-mail-merge-dengan-openofficeorg.html' title='Membuat Mail Merge Dengan OpenOffice.org'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2057086154263871013</id><published>2009-11-20T22:28:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T22:28:06.416+07:00</updated><title type='text'>TUGAS METOPEN</title><content type='html'>TUGAS METOPEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas ini dibuat untuk memenuhi tugas matakuliah &lt;br /&gt;Metodologi Penelitihan Pendidikan matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosen pengampu : Ibrahim, M. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh : Nyoto ( 07600005 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRODI PEDIDIKAN MATEMATIKA&lt;br /&gt;FAKULTAS SAINTEK&lt;br /&gt;UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA &lt;br /&gt;YOGYAKARTA &lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt; BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang Masalah&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi berlangsung secara signifikan dalam beberapa tahun ini. Hal ini ditandai dengan membanjirnya berbagai media yang mudah diakses oleh masyarakat untuk memperoleh berbagai macam informasi, seperti; komputer, internet, handphone dan media cetak lainnya. Salah satu media yang saat ini paling diminati adalah internet. Berbagai macam informasi dari seluruh belahan dunia dapat diakses melalui  fasilitas internet.&lt;br /&gt;Kebebasan mengakses berbagai macam informasi melalui internet, mengakibatkan tantangan bagi generasi muda akan lebih berat. Kompetisi akan semakin kuat untuk bisa “eksis” menghadapi tantangan dunia global. Hanya orang yang mampu beradaptasi secara cepat yang mampu menghadapi tantangan dunia global. Oleh karena itu, generasi muda harus dibekali untuk menjawab tantangan tersebut. Dalam hal ini generasi muda harus dibekali untuk lebih kreatif, kompetitif dan kooperatif . Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting untuk membekali ketiga hal tersebut. Selain itu, pemerintah akan mencanangkan kebijakan download buku pelajaran diinternet. Mengingat tidak semua buku yang diterbitkan oleh penerbit bisa di-download lewat internet secara otomatis materi yang disajikan menjadi minim. Akibatnya, jika guru dan siswa tidak kreatif dalam proses pembelajaran akan mengalami kesulitan untuk memenuhi target yang sudah ditentukan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah menciptakan manusia tanpa mempunyai pengetahuan apapun ketika ia dilahirkan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nahl ayat 78 yang berbunyi:&lt;br /&gt;    •             &lt;br /&gt;78.  Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia diberikan pendengaran dan penglihatan dan indra yang lain untuk digunakan mencari pengetahuan didunia sehingga nantinya ia dapat bersyukur. Pengetahuan didunia dapat diperoleh dari alam, kehidupan sehari-hari dan yang paling  penting melalui pendidikan. Pendidikan dapat menjadikan manusia lebih kreatif, kompetitif dan kooperatif untuk menjawab tantangan global diatas. &lt;br /&gt;Matematika merupakan ilmu yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang (terutama sains dan teknologi), dibanding dengan negara lainnya yang memberikan tempat bagi matematika sebagai ilmu yang sangat penting. Oleh karena itu, tugas guru matematika juga akan semakin berat dalam mewujudkan pembelajaran matematika yang aktif dan kreatif. &lt;br /&gt;Tugas guru matematika secara umum adalah bagaimana materi pelajaran ini diberikan kepada siswa sesuai dengan standar kurikulum. Selain itu tugas guru matematika juga bagaimana proses pembelajaran berlangsung dengan melibatkan peran siswa secara penuh dan aktif, dalam artian proses pembelajaran yang berlangsung dapat berjalan dengan menyenangkan.  Guru senantiasa dituntut untuk berpikir dan bertindak kreatif. &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil diskusi antara peneliti dan guru  bidang studi matematika MTsN Godean Yogyakarta yang telah mengamati kegiatan siswa selama ini terutama pada paruh semester genap tahun pelajaran 2007/2008, ditemukan beberapa permasalahan pada pembelajaran matematika diantaranya: (1). Selama ini metode yang digunakan oleh guru berkisar pada ceramah, diskusi, tanya jawab dan penugasan, sehingga siswa merasa bosan dengan pembelajaran matematika dan kurang bersemangat selama proses pembelajaran berlangsung, (2) Belum terwujudnya kelompok belajar, karena selama ini siswa dibiasakan dengan belajar secara individu, (3) Selama proses pembelajaran berlangsung keadaan cenderung sepi, karena semua terkonsentrasi pada guru. Siswa belum berani bertanya bila belum paham, dan (4) Siswa jarang dilatih untuk mengungkapkan ide/gagasan mereka baik dalam bentuk soal maupun cara penyelesaiannya. Kreatifitas siswa belum terbentuk dan terungkap pada saat proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Berbagai permasalahan diatas memerlukan solusi dan penanganan yang tepat agar target pembelajaran dapat tercapai. Salah satu langkah yang akan diambil adalah menggunakan metode silih tanya berbantuan kartu model. Alasan menggunakan metode ini karena dalam metode ini diterapkan beberapa pendekatan, antara lain problem posing, kompetitif, dan kooperatif. &lt;br /&gt;Kenapa problem posing?. Salah satu alasannya adalah rekomendasi untuk pembaharuan matematika sekolah, saat ini menyarankan pentingnya peran siswa dalam menghasilkan penyusunan soal. The curriculum and Evaluation Standar foe School Mathematics  (NCTM, 1989) menyatakan secara eksplisit bahwa siswa-siswa harus mempunyai pengalaman mengenal dan memformulasikan soal-soal mereka sendiri, yang merupakan kegiatan utama dalam pembelajaran matematika . Kompetitif digunakan karena kenyataan hidup adalah kompetitif. Hampir semua segi kehidupan, penuh dengan nuansa kompetisi, jadi anak harus dilatih untuk berkompetisi mulai dari bangku sekolah. Kooperatif (kerjasama) merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di antara sesama manusia saling membutuhkan.&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa alasan diatas melalui metode silih tanya berbantuan kartu model diharapkan dapat menciptakan pembelajaran aktif dan kreatif.&lt;br /&gt;B. Pembatasan Masalah&lt;br /&gt;Penelitian ini akan difokuskan pada usaha-usaha yang dilakukan guru maupun siswa dalam menerapkan metode silih tanya berbantuan kartu model dalam upaya menciptakan pembelajaran yang aktif dan kreatif pada mata pelajaran matematika kelas VIII A MTsN Godean Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian pada latar belakang dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimana metode silih tanya berbantuan kartu model mampu menjadikan siswa aktif pada saat proses pembelajaran matematika di kelas VIII A MTsN Godean Yogyakarta?&lt;br /&gt;2. Bagaimana metode silih tanya berbantuan kartu model mampu menjadikan siswa kreatif pada saat proses pembelajaran matematika di kelas VIII A MTsN Godean Yogyakarta? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:&lt;br /&gt;1. Menjadikan siswa aktif pada saat proses pembelajaran matematika di kelas VIII A MTsN Godean Yogyakarta.&lt;br /&gt;2. Menjadikan siswa kreatif pada saat proses pembelajaran matematika di kelas VIII A MTsN Godean Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Manfaat Penelitian&lt;br /&gt;Penelitian ini diharapkan mampu memberikan beberapa manfaat, diantaranya:&lt;br /&gt;1.  Untuk Siswa&lt;br /&gt;a. Memberikan motivasi agar memiliki kenyamanan dan semangat dalam proses pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;b. Memberikan motivasi agar lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;2. Untuk Guru&lt;br /&gt;a. Memberikan wacana baru bagi guru untuk dapat menciptakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.&lt;br /&gt;b. Memberikan motivasi untuk dapat menciptakan strategi-strategi yang menarik dan menyenangkan dalam pembelajaran matematika.&lt;br /&gt;3. Untuk Kepala Sekolah&lt;br /&gt;Memberikan wacana untuk memotivasi guru bidang studi lain di sekolah dalam mengembangkan proses belajar di kelas.&lt;br /&gt;4. Untuk Mahasiswa&lt;br /&gt;a. Memberikan wacana tentang strategi pembelajaran matematika yang inovatif .&lt;br /&gt;b. Memberikan motivasi untuk melakukan strategi-strategi yang tepat dalam pembelajaran matematika.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2057086154263871013?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2057086154263871013/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2057086154263871013&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2057086154263871013'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2057086154263871013'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/tugas-metopen.html' title='TUGAS METOPEN'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-6879460412528352833</id><published>2009-11-20T22:26:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T22:26:20.480+07:00</updated><title type='text'>PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINIER DENGAN METODE ELIMINASI GAUSS-JORDAN</title><content type='html'>TUGAS metode numeric&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN&lt;br /&gt;LINIER DENGAN METODE ELIMINASI&lt;br /&gt;GAUSS-JORDAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun oleh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Masruri Burhan ( 07600004 )&lt;br /&gt;Nyoto ( 07600005 )&lt;br /&gt;Siti Umi Anifah ( 07600009 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROGRAM STUDY PENDIDIKAN MATEMATIKA&lt;br /&gt;FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI&lt;br /&gt;UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA&lt;br /&gt;YOGYAKARTA&lt;br /&gt;2009&lt;br /&gt;1. Pendahuluan&lt;br /&gt;Di dalam matematika, sistem persamaan linier adalah kumpulan persamaan-persamaan linier yang memiliki variabel-variabel yang sama. Bentuk umum dari sistem persamaan linier dengan n variabel dari m persamaan adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada contoh di atas, x1, x2, ..., xn adalah variabel-variabel yang tidak diketahui nilainya, dan a11,a12, ..., amn adalah koefisien-koefisien dari sistem persamaan tersebut, sedangkan b1, b2, ..., bm adalah konstanta.&lt;br /&gt;Contoh dari sistem persamaan linier dengan 3 variabel:&lt;br /&gt;2x – 3y + z = -1&lt;br /&gt;x + 2y – 3z = -4&lt;br /&gt;3x – y + 2z = 7&lt;br /&gt;Pada persamaan di atas, variabel-variabelnya adalah x, y, dan z. Kita dapat mengganti x1, x2, ..., xn dengan huruf-huruf lainnya untuk membedakan. Dalam contoh di atas, x1, x2, x3 diganti dengan x, y,dan z secara berurutan.&lt;br /&gt;Sebuah penyelesaian dari sistem persamaan linier adalah kumpulan n angka s1, s2, ..., sn sedemikian sehingga jika kita mensubsitusi x1 = s1, x2 = s2, ..., xn = sn maka sistem persamaan tersebut dapat dipenuhi.&lt;br /&gt;Ada beberapa metode untuk menyelesaikan sistem persamaan linier, namun yang akan dibahas secara lanjut di laporan ini adalah metode eliminasi Gauss-Jordan.&lt;br /&gt;2. Eliminasi Gauss-Jordan&lt;br /&gt;Dalam aljabar linear, eliminasi Gauss-Jordan adalah versi dari eliminasi Gauss. Pada metode eliminasi Gauus-Jordan kita membuat nol elemen-elemen di bawah maupun di atas diagonal utama suatu matriks. Hasilnya adalah matriks tereduksi yang berupa matriks diagonal satuan (Semua elemen pada diagonal utama bernilai 1, elemen-elemen lainnya nol).&lt;br /&gt;Metode eliminasi Gauss-Jordan kurang efisien untuk menyelesaikan sebuah SPL, tetapi lebih efisien daripada eliminasi Gauss jika kita ingin menyelesaikan SPL dengan matriks koefisien sama.&lt;br /&gt;Motede tersebut dinamai Eliminasi Gauss-Jordan untuk menghormati Carl Friedrich Gauss dan Whilhelm Jordan. Suatu operasi baris dikatakan sebagai Eliminasi Gauss-Jordan jika memenuhi beberapa ketentuan, yaitu :&lt;br /&gt;1. Jika suatu baris matriks mempunyai setidaknya satu unsur tidak nol, maka unsur tidak nol yang pertama itu haruslah 1, dan ini kita sebut satu utama.&lt;br /&gt;2. Jika terdapat baris yang seluruhnya nol, maka baris itu dikelompokkan bersama-sama di baris terakhir.&lt;br /&gt;3. Didalam dua baris tidak nol yang berurutan, 1 utama dibaris yang lebih bawah berada lebih kekanan dibandingkan dengan 1 utama baris diatasnya.&lt;br /&gt;4. Jika dalam satu kolom terdapat 1 utama, maka unsur-unsur lain dalam kolom itu semuanya nol.&lt;br /&gt;Thomas (1984:93-94) mengatakan bahwa setiap matriks memiliki bentuk eselon baris tereduksi yang unik, artinya kita akan memperoleh bentuk eselon baris tereduksi yang sama untuk matriks tertentu bagaimanapun variasi operasi baris yang dilakukan.&lt;br /&gt;Langkah-langkah operasi baris yang dikemukakan oleh Gauss dan disempurnakan oleh Jordan sehingga dikenal dengan Eliminasi Gauss-Jordan, sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Jika suatu baris tidak seluruhnya dari nol, maka bilangan tak nol pertama pada baris itu adalah 1. Bilangan ini disebut 1 utama (leading one ).&lt;br /&gt;2. Jika terdapat baris yang seluruhnya terdiri dari nol, maka baris-baris ini akan dikelompokkan bersama pada bagian paling bawah dari matriks.&lt;br /&gt;3. Jika terdapat dua baris berurutan yang tidak seluruhnya dari nol, maka 1 utama pada baris yang lebih rendah terdapat pada kolom yang lebih kanan dari 1 utama pada baris yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;4. Setiap kolom memiliki 1 utama memiliki nol pada tempat lain.&lt;br /&gt;Sebuah matriks yang hanya memenuhi syarat 1 sampai 3 adalah matriks yang dalam bentuk baris eselon. Sedangkan jika syarat keempat juga dipenuhi, maka matriks tersebut dapat dikatakan dalam bentuk baris eselon yang tereduksi.&lt;br /&gt;Berikut beberapa contoh matriks yang sudah dalam bentuk baris eselon tereduksi.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;Berikut contoh langkah-langkah yang dilakukan untuk menyelesaikan sistem persamaan linier dengan metode eliminasi Gauss-Jordan.&lt;br /&gt;Diketahui sistem persamaan linier sebagai berikut.&lt;br /&gt;2x + 4y - 2z  = 12&lt;br /&gt;x + 5y + 3z   = 8&lt;br /&gt;-3x + y + 3z  = -4&lt;br /&gt;1. Ubah sistem persamaan linier di atas menjadi matriks augmentasi.&lt;br /&gt;    2      4      -2      12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1      5      3      8&lt;br /&gt;    -3      1      3      -4&lt;br /&gt;2. Kalikan baris pertama dengan 1/2&lt;br /&gt;    1      2      -1      6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1      5      3      8&lt;br /&gt;    -3      1      3      -4&lt;br /&gt;3. Tambahkan baris kedua dengan (-1) kali baris pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1      2     -1      6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      3      4      2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    -3     1      3     -4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tambahkan baris ketiga dengan 3 kali baris pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1      2      -1     6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      3      4      2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      7      0      14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kalikan baris kedua dengan 1/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1     2      -1       6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0     1          4/3      2/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0     7      0      14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tambahkan baris pertama dengan (-2) kali baris kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1     0     -11/3  14/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      1      4/3    2/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      7       0             14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Tambahkan baris ketiga dengan (-7) kali baris kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1     0     -11/3   14/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      1      4/3    2/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      0        -28/3    28/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kalikan baris ketiga dengan -3/28 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1     0        -11/3  14/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      1     4/3              2/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      0      1            -1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Menambahkan baris pertama dengan 11/3 kali baris ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1      0      0       1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      1      4/3      2/3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0      0       1      -1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Menambahkan baris kedua dengan( - 4/3 ) kali baris ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1     0     0      1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0     1     0      2&lt;br /&gt;    0     0     1     -1&lt;br /&gt;Setelah langkah ke-10, maka matriks ini telah dalam bentuk baris eselon tereduksi. Dari matriks terakhir ini dapat disimpulkan bahwa nilai x = 1, y = 2, dan z = -1.&lt;br /&gt;Contoh di atas diterapkan pada sistem persamaan linier dengan n variabel dan m persamaan. Contoh berikut adalah cara menyelesaikan sistem persamaan linier dengan n variabel dan m persamaan.&lt;br /&gt;Diketahui sistem persamaan linier sebagai berikut.&lt;br /&gt;2x + 3y - 5z = 7&lt;br /&gt;x + 4y + 8z = 3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ubah menjadi matriks teraugmentasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2      3      -5      7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1      4      8      3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalikan baris pertama dengan 1/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 3/2      -5/2 7/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1      4  8  3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tambahkan baris kedua dengan (-1) kali baris pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     1  3/2  -5/2  7/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     0  5/2  21/2  -1/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kalikan baris kedua dengan 2/5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1  3/2  -5/2   7/2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0  1 42/10    -2/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Tambahkan baris pertama dengan (-3/2 ) kali baris kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1  0  -176/20      76/20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    0  1   42/10         -2/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelesaian untuk persamaan di atas akan menjadi :&lt;br /&gt;           X  –  176/20Z = 76/20&lt;br /&gt;           Y  +   42/10Z   = -2/10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Aplikasi Eliminasi Gauss-Jordan&lt;br /&gt;Jika eliminasi Gauss-Jordan diterapkan dalam matriks persegi, metode tersebut dapat digunakan untuk menghitung invers dari matriks. Eliminasi Gauss-Jordan hanya dapat dilakukan dengan menambahkan dengan matriks identitas dengan dimensi yang sama, dan melalui operasi-operasi matriks.&lt;br /&gt;5. Kesimpulan&lt;br /&gt;Sistem persamaan linier adalah kumpulan persaman-persamaan linier yang memiliki variabel - variabel yang sama. Sistem persamaan linier memiliki penyelesaian, yaitu himpunan angka yang akan memenuhi persamaan-persamaan tersebut jika disubstitusi. Ada 3 macam kemungkinan penyelesaian dari sistem persamaan linier, yaitu ada solusi yang unik, tidak ada solusi, atau memiliki solusi yang tak terhingga.&lt;br /&gt;Ada berbagai macam cara untuk menyelesaikan sistem persamaan linier. Salah satunya adalah dengan metode eliminasi Gauss-Jordan. Eliminasi Gauss-Jordan menggunakan operasi baris elementer untuk menghasilkan matriks augmentasi yang berbentuk baris eselon yang tereduksi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-6879460412528352833?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/6879460412528352833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=6879460412528352833&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/6879460412528352833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/6879460412528352833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/penyelesaian-sistem-persamaan-linier.html' title='PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINIER DENGAN METODE ELIMINASI GAUSS-JORDAN'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-2699125184641031174</id><published>2009-11-20T22:24:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T22:24:44.853+07:00</updated><title type='text'>MOBILE LEARNING SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN ALTERNATIF BAGI PEMULIHAN PENDIDIKAN DI DAERAH BENCANA ALAM GEMPA BUMI YOGYAKARTA</title><content type='html'>MOBILE LEARNING SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN ALTERNATIF BAGI PEMULIHAN PENDIDIKAN DI DAERAH BENCANA ALAM GEMPA BUMI YOGYAKARTA &lt;br /&gt;Stevanus Wisnu Wijaya &lt;br /&gt;Jurusan Teknik Informatika &lt;br /&gt;Universitas Sanata Dharma &lt;br /&gt;Yogyakarta &lt;br /&gt;stevanus.wisnu@staff.usd.ac.id atau wisnoewijaya@yahoo.com &lt;br /&gt;Abstract &lt;br /&gt;Mobile learning merupakan interseksi dari mobile computing dan e-learning yang menyediakan : sumber daya yang dapat diakses dari manapun, kemampuan sistem pencarian yang tangguh, interaksi yang kaya, dukungan yang penuh terhadap pembelajaran yang efektif dan penilaian berdasarkan kinerja. E-learning memiliki karakteristik tidak tergantung terhadap tempat dan waktu.[5] Kondisi infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan karena gempa bumi membutuhkan model alternatif pembelajaran yang memiliki karakteristik tidak tergantung lokasi dan waktu. Selain hal tesebut, model alternatif tersebut juga diharapkan mampu menyediakan fasilitas knowledge sharing dan visualisasi pengetahuan sehingga pengetahuan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Konsep tersebut di harapkan dapat mendorong terwujudnya suasana pembelajaran yang baru dan dapat memotivasi semangat belajar siswa dan guru. Berdasarkan realitas kebutuhan dilapangan dan alternatif pembelajaran dengan model mobile learning maka diusulkan konsep recovery pendidikan di daerah bencana gempa bumi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Paper ini akan memaparkan konsep mobile learning yang diusulkan untuk membantu pemulihan pendidikan/pembelajaran di daerah bencana gempa bumi. &lt;br /&gt;PENGANTAR &lt;br /&gt;Infrastruktur pembelajaran di Yogyakarta mengalami kerusakan yang parah akibat bencana gempa bumi 27 Mei 2006. Hampir semua sekolah tidak dapat melaksanakan proses belajar mengajar pada minggu pertama pasca gempa bumi. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah pemulihan pendidikan di daerah bencana gempa bumi. Kegiatan pemulihan tahap awal yang dilakukan adalah pendirian sekolah darurat dengan menggunakan tenda dan bangku serta kursi seadanya. Berdasarkan pengamatan dapat disimpulkan bahwa semangat siswa dan guru untuk tetap melanjutkan proses belajar mengajar tetap terjaga bahkan ujian nasional pun tetap dapat berjalan dengan baik di sekolah darurat. [11] &lt;br /&gt;Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi bagi kepentingan pembelajaran sudah diterapkan dalam berbagai bentuk. Penerapan yang paling umum dilakukan adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk membuat materi pengajaran, penyampaian bahan ajar maupun komunikasi dengan siswa. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pada tahap awal lebih terkonsentrasi pada penggunaan teknologi informasi sebagai media pendukung pembelajaran di kelas, Contoh nyata dari penerapan ini adalah pembuatan materi ajar dengan power point, penyampaian materi ajar dikelas dengan LCD proyektor, pengumpulan tugas melalui email, pencarian data dan informasi dengan fasilsitas internet dan lain sebagainya. Pada prinsipnya teknologi informasi dan komunikasi &lt;br /&gt;dapat dimanfaatkan lebih lanjut dengan mengadopsi konsep e-learning atau mobile learning. &lt;br /&gt;Karakteristik pembelajaran dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi adalah bersifat tidak tergantung terhadap waktu dan tempat, menyediakan fasilitas knowledge sharing dan visualisasi pengetahuan yang lebih atraktif. Dalam konteks pemulihan pendidikan akibat bencana gempa bumi, diperlukan alternatif pembelajaran yang bersifat tidak tergantung waktu dan tempat artinya dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Selain hal itu juga perlu visualisasi pengetahuan sehingga materi pembelajaran menjadi lebih menarik dan mudah dipahami oleh siswa. Karakteristik ini diperlukan karena mengingat fasilitas fisik (kelas) yang rusak sehingga diperlukan kelas yang bersifat virtual(maya) dan penyampaian materi yang menarik sehingga mampu memberikan suasana pembelajaran yang baru. Suasana baru tersebut di harapkan dapat memberi solusi terhadap kejenuhan siswa akibat ruang kelas yang mengalami kerusakan. &lt;br /&gt;Berdasarkan pertimbangan tersebut maka peran teknologi informasi dan komunikasi cukup strategis dalam mendukung pemulihan proses pembelajaran di daerah bencana gampa bumi. Makalah ini akan memfokuskan pembahasan pada konsep penerapan mobile learning sebagai alternatif pembelajaran di daerah bencana gempa bumi. &lt;br /&gt;PROPOSE CONCEPT OF MOBILE LEARNING IMPLEMENTATION. &lt;br /&gt;Mobile learning didefinisikan oleh Clark Quinn[Quinn 2000] sebagai : &lt;br /&gt;… The intersection of mobile computing and e-learning: accessible resources wherever you are, strong search capabilities, rich interaction, powerful support for effective learning, and performance-based assessment. ELearning independent of location in time or space.[5] Berdasarkan definisi tersebut maka mobile learning merupakan model pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Pada konsep pembelajaran tersebut mobile learning membawa manfaat ketersediaan materi ajar yang dapat di akses setiap saat dan visualisasi materi yang menarik. Hal penting yang perlu di perhatikan bahwa tidak setiap materi pengajaran cocok memanfaatkan mobile learning. &lt;br /&gt;Penerapan mobile learning untuk membantu upaya pemulihan pendidikan di lingkungan daerah bencana gempa bumi perlu memperhatikan faktor bahwa tidak semua level pendidikan cocok dengan konsep mobile learning. Hal ini terkait dengan materi ajar dan kebutuhan pendidikan itu sendiri. Materi ajar yang tidak cocok mengadopsi konsep mobile learning antara lain: materi yang bersifat ”hands on”, keterampilan sebagai mana dokter gigi, seni musik khususnya mencipta lagu, interview skills, team work seperti marketing maupun materi yang membutuhkan pengungkapan ekspresi seperti tarian.[8] Mempertimbangkan hal hal tersebut diatas maka penerapan mobile learning lebih baik pada jenjang pendidikan tinggi. &lt;br /&gt;Konsep mobile learning pada jenjang pendidikan tinggi yang diusulkan adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. konsep mobile learning di fokuskan untuk menyediakan kelas pembelajaran maya yang memungkinkan interaksi antara guru dan siswa. Interaksi meliputi penyediaan materi ajar, ruang diskusi, penyampaian tugas dan pengumuman penilaian. &lt;br /&gt;2. Teknologi yang diadopsi sebaiknya efektif secara pedagogi dan dinilai sebagai sebuah pembaharuan. Selain itu teknologi yang dipilih sebaiknya mudah di akes dan tersedia dengan distrubusi yang merata di lingkungan siswa maupun guru. [5]Konsep ini digambarkan dalam gambar berikut ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. usulan model penerapan mobile learning. &lt;br /&gt;MOBILE LEARNING READINESS &lt;br /&gt;Pengukuran terhadap readiness atau kesiapan merupakan aktivitas yang perlu dilakukan. Hal ini disebabkan karena kesiapan terkait dengan keberhasilan penerapan mobile learning. Dalam konteks penerapan mobile learning kesiapan dapat dipahami sebagai kemauan dan kemampuan untuk menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam mobile learning. Mobile learning readiness menyangkut semua stake holder yang terkait dengan penerapan mobile learning antara lain guru, siswa, pihak penyelenggara atau lembaga pendidikan dan pemerintah sebagai penyedia infrastruktur dan regulasi. &lt;br /&gt;Guru diharapkan memiliki kemauan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Kemauan untuk menerima teknologi informasi dan komunikasi menjadi pintu awal yang mempengaruhi faktor kesiapan lain yaitu ICT literacy. Kemauan menerima teknologi akan mempengaruhi terhadap kemauan untuk menggunakan dan mempelajari teknologi informasi dan komunikasi untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar. ICT literacy merupakan kemampuan teknis dan kognitif yang dimiliki guru untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses belajar mengajar. &lt;br /&gt;Siswa berperan sama pentingnya dengan guru dalam proses pembelajaran. Kemauan siswa untuk menerima teknologi juga merupakan dimensi kesiapan yang perlu diukur. Sedangkan dimensi kemampuan meliputi ICT literacy, media akses, &lt;br /&gt;dan daya beli siswa dalam mengakses materi pembelajaran. ICT literacy terkait dengan kemampuan teknis dan kognitif siswa dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Selain dipengaruhi oleh ICT literacy maka ketersediaan alat akses yang dimiliki siswa juga merupakan aspek kesiapan yang penting. Kemampuan menggunakan yang didefinisikan dengan ICT literacy dan ketersediaan alat akses perlu didukung oleh kemampuan siswa dalam ”membeli” materi ajar seperti biaya untuk akses internet, pulsa handphone atau telepon dll. &lt;br /&gt;Peran lembaga pendidikan adalah sebagai penyelenggara atau pengelola mobile learning. Lembaga pendidikan perlu memiliki e-leadership yang kuat dan menyediakan infrastruktur yang memadai bagi keberhasilan penerapan mobile learning. E-leadership memiliki arti kemauan dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang diwujudkan dengan kebijakan, regulasi maupun prioritas dalam bentuk anggaran. Infrastruktur diperlukan sebagai tulang punggung penyelenggaraan mobile learning. &lt;br /&gt;Pemerintah merupakan lembaga yang berkewajiban menentukan regulasi dan menyiapakan fasilitas publik. Terkait dengan penerapan mobile learning maka peran pemerintah dapat diukur dari tersedianya regulasi yang mendukung mobile learning, ketersediaan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi serta lingkungan bisnis yang kondusif sehingga masyarakat mudah mendapat fasilitas teknologi informasi dan komunikasi. Tabel berikut ini menggambarkan konsep kesiapan yang telah dijelaskan diatas. Stakeholder  Kesiapan &lt;br /&gt; kemauan  kemampuan &lt;br /&gt;Guru  Penerimaan terhadap Teknologi informasi dan komunikasi  ICT Literacy &lt;br /&gt;Siswa  Penerimaan terhadap Teknologi informasi dan komunikasi  ICT Literacy, ketersediaan media akses, daya beli &lt;br /&gt;Lembaga Pendidikan/Universitas  E leadership  Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi &lt;br /&gt;Pemerintah  E leadership  Infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, lingkungan bisnis&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-2699125184641031174?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/2699125184641031174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=2699125184641031174&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2699125184641031174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/2699125184641031174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/mobile-learning-sebagai-model.html' title='MOBILE LEARNING SEBAGAI MODEL PEMBELAJARAN ALTERNATIF BAGI PEMULIHAN PENDIDIKAN DI DAERAH BENCANA ALAM GEMPA BUMI YOGYAKARTA'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-4474100762763581652</id><published>2009-11-20T22:22:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T22:22:56.568+07:00</updated><title type='text'>PRAKTIKUM METODE NUMERIK</title><content type='html'>PRAKTIKUM METODE NUMERIK&lt;br /&gt;LATIHAN 2 : MATRIKS DAN SPL&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                                                                         Dosen  : M. Farhan Qudrotullah, M. Si.&lt;br /&gt;               Asisten  : Budi, Nanik dan Nilna&lt;br /&gt;Nama  : Nyoto&lt;br /&gt;NIM  : 07600005&lt;br /&gt;Prodi  : Pend. Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ♥ Latihan Halaman 23&lt;br /&gt;                &lt;br /&gt;2. Operasi Matrik&lt;br /&gt;a. Bangkitkan sebuah vektor yang terdiri dari 16 elemen yang nilainya mulai dari 10  &lt;br /&gt;    mundur selangkah sampai -5&lt;br /&gt;b. dari vector tersebut buat matrik bujur sangkar K berukuran 4x4&lt;br /&gt;c. Buat matrik L yang merupakan transpose dari matrik K&lt;br /&gt;d. Untuk yang ke-2 matrik tersebut tentukan &lt;br /&gt;     - hasil penjumlahan kemudian tentukan determinanya&lt;br /&gt;     - hasil perkalianya kemudian tentukan inversnya&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;      Jawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya yaitu tulis di layar M-file seperti ini setelah selesai klik debug kemudian klik save and run setelah itu akan tersi mpan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Untuk memanggil program yang sudah tersimpan tuilis pada layar command window seperti ketika kamu menyimpan program tadi misal matrik.m, maka akan muncul output :    &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. System Persamaan Linier&lt;br /&gt;    Tentukan himpunan penyelesaian SPL berikut :&lt;br /&gt;     x1     -   x2     +   2x3    -   x4       =   -8&lt;br /&gt;     2x1   -   2x2   +   3x3    -   3x4     =   -20&lt;br /&gt;     x1     +   x2    +   x3                     =   -2&lt;br /&gt;     x1     -   x2     +    4x3   +   3x4    =   4&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah untuk menyelesaikan persamaan linier di atas adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;• Skript M-File :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;• Output :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari 3 cara tadi memperoleh hasil yang sama yaitu : -15, 7, 6 dan -2. Jadi penyelesaian untuk &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SPL                   x1     -   x2     +   2x3    -   x4       =   -8&lt;br /&gt;                          2x1   -   2x2   +   3x3    -   3x4     =  -20&lt;br /&gt;                         x1     +   x2    +   x3                     =   -2&lt;br /&gt;                         x1     -   x2     +    4x3   +   3x4    =   4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah : x1 = -15, x2 = 7, x3 = 6 dan x4 = -2.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAKTIKUM METODE NUMERIK&lt;br /&gt;LATIHAN 2 : MATRIKS DAN SPL&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;                                                                         Dosen  : M. Farhan Qudrotullah, M. Si.&lt;br /&gt;               Asisten  : Budi, Nanik dan Nilna&lt;br /&gt;Nama  : Nyoto&lt;br /&gt;NIM  : 07600005&lt;br /&gt;Prodi  : Pend. Matematika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahan 1 : Pembobotan Nilai&lt;br /&gt;Script M-File :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Output :&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian laporan ini diajukan untuk memenuhi tugas semoga diberi nilai yang bagus amien...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-4474100762763581652?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/4474100762763581652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=4474100762763581652&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/4474100762763581652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/4474100762763581652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/praktikum-metode-numerik.html' title='PRAKTIKUM METODE NUMERIK'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-5892826334287622585</id><published>2009-11-20T22:20:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T22:20:12.808+07:00</updated><title type='text'>PEMBELAJARAN MATEMATIKA  DENGAN PENDEKATAN OPEN-ENDED</title><content type='html'>PEMBELAJARAN MATEMATIKA &lt;br /&gt;DENGAN PENDEKATAN OPEN-ENDED&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Japar *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abstract&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Most student is passive in the process learning of mathematics that leads to less in their creativity and achievement. Therefore, it needs an effort and innovatively learning of mathematics. The teacher’s centralized learning process should becomes the student dynamicly oriented, empowering and involvement fullness and continously. As an alternative concerning such things one should develops learning of mathematics with ”open-ended” approach. It is a learning approach which generates an interactive activity between mathematics and students. Thus, it motivates them to solve the problem ununiquely with many stragies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keywords: learning of mathematics, open-ended approach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pendahuluan &lt;br /&gt;Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar, selain sebagai sumber dari ilmu yang lain juga merupakan sarana berpikir logis, analis, dan sistematis. Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka dalam penyajian materi pelajaran, matematika harus dapat disajikan lebih menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa. Hal ini tentu saja dimaksudkan agar dalam proses pembelajaran siswa lebih aktif dan termotivasi untuk belajar. Untuk itulah perlu adanya pendekatan khusus yang diterapkan oleh guru. &lt;br /&gt;Selama ini rendahnya hasil belajar matematika siswa lebih banyak disebabkan karena pendekatan, metode, atau pun strategi tertentu yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran masih bersifat tradisional, dan kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Akibatnya kreatifitas dan kemampuan berpikir matematika siswa tidak dapat berkembang secara optimal. Oleh karena itulah guru perlu memilih cara mengajar atau pendekatan yang dapat membantu mengembangkan pola pikir matematika siswa. &lt;br /&gt;Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, kreatif dalam mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi (Zamroni, 2000). &lt;br /&gt;Poppy (2003:2) menyatakan bahwa salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang lebih berorientasi pada aktivitas serta kreativitas siswa yaitu pendekatan open-ended problem. Hal ini didasari oleh pendapat Shimada (1997:1) yang menyatakan bahwa pendekatan open-ended adalah pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu permasalahan yang memiliki metode atau penyelesaian yang benar lebih dari satu, sehingga dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan/pengalaman menemukan, mengenali, dan memecahkan masalah dengan beberapa teknik. Lebih lanjut Poppy (2002:2) menyatakan bahwa keleluasaan berpikir melalui pendekatan open-ended problem membawa siswa untuk lebih memahami suatu topik dan keterkaitannya dengan topik lainnya, baik dalam pelajaran matematika maupun dengan mata pelajaran lain dan dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;Pendekatan Open-ended sebagai salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika merupakan suatu pendekatan yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan pola pikirnya sesuai dengan minat dan kemampuan masing-masing. Hal ini disebabkan karena pada pendekatan Open-ended formulasi masalah yang digunakan adalah masalah terbuka. Masalah terbuka adalah masalah yang diformulasikan memiliki multijawaban (banyak penyelesaian) yang benar. Di samping itu, melalui pendekatan Open-ended siswa dapat menemukan sesuatu yang baru dalam penyelesaian suatu masalah, khususnya masalah yang berkaitan dengan matematika. Dengan dasar ini, maka pendekatan Open-ended dapat diterapkan dalam proses belajar mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suherman dkk. (2003) problem yang diformulasikan memiliki multijawaban yang benar disebut problem tak lengkap atau disebut juga Open-ended problem atau soal terbuka. Siswa yang dihadapkan dengan Open-ended problem, tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada cara bagaimana sampai pada suatu jawaban. Dengan demikian bukanlah hanya satu pendekatan atau metode dalam mendapatkan jawaban, namun beberapa atau banyak pendekatan atau metode yang digunakan. &lt;br /&gt;Sifat “keterbukaan” dari suatu masalah dikatakan hilang apabila hanya ada satu cara dalam menjawab permasalahan yang diberikan atau hanya ada satu jawaban yang mungkin untuk masalah tersebut. Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Shimada (1997:1) yaitu:&lt;br /&gt;“… ‘open-ended approach,’ an ‘incomplete’ problem is presented first. The lesson then proceeds by using many correct answers to the given problem to provide experience in finding something new in the process. This can be done through combining students own knowledge, skills, or ways of thinking that have previously been learned.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudiarta (Poppy, 2002:2)  mengatakan bahwa secara konseptual open-ended problem dapat dirumuskan sebagai masalah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mencapai solusi itu. Contoh penerapan masalah Open-ended dalam kegiatan pembelajaran adalah ketika siswa diminta mengembangkan metode, cara atau pendekatan yang berbeda dalam menjawab permasalahan yang diberikan bukan berorientasi pada jawaban (hasil) akhir. &lt;br /&gt;Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended diawali dengan memberikan masalah terbuka kepada siswa. Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan mengantarkan siswa dalam menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban yang benar, sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa dalam proses menemukan sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;Tujuan dari pembelajaran Open-ended problem menurut Nohda (Suherman, dkk, 2003;124) ialah untuk membantu mengembangkan kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa melalui problem posing secara simultan. Dengan kata lain, kegiatan kreatif dan pola pikir matematika siswa harus dikembangkan semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang dimiliki setiap siswa. &lt;br /&gt;Pendekatan Open-ended memberikan kesempatan kepada siswa untuk menginvestigasi berbagai strategi dan cara yang diyakininya sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk mengelaborasi permasalahan. Tujuannya tiada lain adalah agar kemampuan berpikir matematika siswa dapat berkembang secara maksimal dan pada saat yang sama kegiatan-kegiatan kreatif dari setiap siswa terkomunikasikan melalui proses pembelajaran. Inilah yang menjadi pokok pikiran pembelajaran dengan pendekatan Open-ended, yaitu pembelajaran yang membangun kegiatan interaktif antara matematika dan siswa sehingga mendorong siswa untuk menjawab permasalahan melalui berbagai strategi. &lt;br /&gt;Pembelajaran dengan pendekatan Open-ended mengharapkan siswa tidak hanya mendapatkan jawaban tetapi lebih menekankan pada proses pencarian suatu jawaban. Suherman, dkk (2003) mengemukakan bahwa dalam kegiatan matematika dan kegiatan siswa disebut terbuka jika memenuhi ketiga aspek berikut:&lt;br /&gt;1. Kegiatan siswa harus terbuka. Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.&lt;br /&gt;2. Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir. Kegiatan matematika adalah kegiatan yang di dalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya.&lt;br /&gt;3. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan. Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan individu. Meskipun pada umumnya guru akan mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan pengalaman dan pertimbangan masing-masing. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatan-kegiatan matematika yang mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah. Pendekatan uniteral semacam ini dapat dikatakan terbuka terhadap kebutuhan siswa ataupun terbuka terhadap ide-ide matematika.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada dasarnya, pendekatan Open-ended bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika secara simultan. Oleh karena itu hal yang perlu diperhatikan adalah kebebasan siswa untuk berpikir dalam membuat progress pemecahan sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minatnya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengonstruksi Masalah Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Suherman, dkk. (2003) mengkonstruksi dan mengembangkan masalah Open-ended yang tepat dan baik untuk siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam tidaklah mudah. Akan tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan di Jepang dalam jangka waktu yang cukup panjang, ditemukan beberapa hal yang dapat dijadikan acuan dalam mengkonstruksi masalah, antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menyajikan permasalahan melalui situasi fisik yang nyata di mana konsep-konsep matematika dapat diamati dan dikaji siswa.&lt;br /&gt;2. Menyajikan soal-soal pembuktian dapat diubah sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan hubungan dan sifat-sifat dari variabel dalam persoalan itu.&lt;br /&gt;3. Menyajikan bentuk-bentuk atau bangun-bangun (geometri) sehingga siswa dapat membuat suatu konjektur.&lt;br /&gt;4. Menyajikan urutan bilangan atau tabel sehingga siswa dapat menemukan aturan matematika.&lt;br /&gt;5. Memberikan beberapa contoh konkrit dalam beberapa kategori sehingga siswa bisa mengelaborasi siifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat dari contoh itu untuk menemukan sifat-sifat yang umum.&lt;br /&gt;6. Memberikan beberapa latihan serupa sehingga siswa dapat menggeneralisasai dari pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusun Rencana Pembelajaran dengan Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila guru telah mengkonstruksikan atau menformulasi masalah Open-ended dengan baik, tiga hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran sebelum masalah itu ditampilkan di kelas adalah:&lt;br /&gt;1. Apakah masalah itu kaya dengan konsep-konsep matematika dan berharga?. Masalah Open-ended harus medorong siswa untuk berpikir dari berbagai sudut pandang. Disamping itu juga harus kaya dengan konsep-konsep matematika yang sesuai untuk siswa berkemampuan tinggi maupun rendah dengan menggunakan berbagai strategi sesuai dengan kemampuannya.&lt;br /&gt;2. Apakah tingkat matematika dari masalah itu cocok untuk siswa?. Pada saat siswa menyelesaikan masalah Open-ended, mereka harus menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka punya. Jika guru memprediksi bahwa masalah itu di luar jangkauan kemampuan siswa, maka masalah itu harus diubah/diganti dengan masalah yang berasal dalam wilayah pemikiran siswa.&lt;br /&gt;3. Apakah masalah itu mengundang pengembangan konsep matematika lebih lanjut?. Masalah harus memiliki keterkaitan atau hubungan dengan konsep-konsep matematika yang lebih tinggi sehingga dapat memacu siswa untuk berpikir tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan rencana pembelajaran yang baik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Tuliskan respon siswa yang diharapkan. Pembelajaran matematika dengan pendekatan Open-ended, siswa diharapkan merespons masalah dengan berbagai cara sudut pandang. Oleh karena itu, guru harus menyiapkan atau menuliskan daftar antisipasi respons siswa terhadap masalah. Kemampuan siswa terbatas dalam mengekpresikan ide atau pikirannya, mungkin siswa tidak akan mampu menjelaskan aktivitasnya dalam memecahkan masalah itu. Tetapi mungkin juga siswa mampu menjelaskan ide-ide matematika dengan cara yang berbeda. Dengan demikian, antisipasi guru membuat atau menuliskan kemungkinan repsons yang dikemukakan siswa menjadi penting dalam upaya mengarahkan dan membantu siswa memecahkan masalah sesuai dengan cara kemampuannya.&lt;br /&gt;2. Tujuan dari masalah itu diberikan kepada siswa harus jelas. Guru memahami dengan baik peranan masalah itu dalam keseluruhan rencana pembelajaran. Masalah dapat diperlakukan sebagai topik yang tertentu, seperti dalam pengenalan konsep baru kepada siswa, atau sebagai rangkuman dari kegiatan belajara siswa. Berdasarkan pengalaman, masalah Open-ended efektif untuk pengenalan konsep baru atau rangkuman kegiatan belajar.&lt;br /&gt;3. Sajikan masalah semenarik mungkin bagi siswa.Konteks permasalahan yang diberikan atau disajikan harus dapat dikenal baik oleh siswa, dan harus membangkitkan keingintahuan serta semangat intelektual siswa. Oleh karena masalah Open-ended memerlukan waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan strategi pemecahannya, maka masalah itu harus mampu menarik perhatian siswa.&lt;br /&gt;4. Lengkapi prinsip formulasi masalah, sehingga siswa mudah memahami maksud masalah itu. Masalah harus diekspresikan sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahaminya dengan mudah dan menemukan pendekatan pemecahannya. Siswa dapat mengalami kesulitan, bila eksplanasi masalah terlalu singkat. Hal itu dapat timbul karena guru bermaksud memberikan terobosan yang cukup kepada siswa untuk memilih cara dan pendekatan pemecahan masalah. Atau dapat pula diakibatkan siswa memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki pengalaman belajar karea terbiasa megikuti petunjuk-petunjuk dari buku teks.&lt;br /&gt;5. Berikan waktu yang cukup bagi siswa untuk mengekplorasi masalah. Terkadang waktu yang dialokasikan tidak cukup dalam menyajikan masalah, memecahkannya, mendiskusikan pendekatan dan penyelesaian,, dan merangkum dari apa yang telah dipelajari siswa. Karena itu, guru harus memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk mengekplorasi masalah. Berdiskusi secara aktif antar sesama siswa dan antara siswa dengan guru merupakan interaksi yang sangat penting dalam pembelajaran dengan pendekatan Open-ended.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan Alat Evaluasi Berdasarkan Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jenis-jenis soal open-ended. Untuk berjalannya metode open-ended secara baik  dibutuhkan bentuk dan materi soal yang dapat mengarahkan pada pencapaian tujuan pembelajaran dengan metode ini. Sawada mengklasifikasikan soal yang dapat diberikan melalui pendekatan open-ended, kedalam tiga kelompok yaitu: (a) Soal untuk mencari hubungan. Sesuai dengan istilahnya, soal jenis ini diberikan agar siswa dapat mencari sendiri aturan atau hubungan matematis dari suatu teori tertentu, (b) Soal mengklasifikasi. Dalam jenis ini. Siswa dituntut untuk dapat memiliki dan mengembangkan kemampuan mengklasifikasi berdasarkan sifat-sifat dari suatu obyek tertentu. (c) Soal mengukur. Dalam soal jenis ini, siswa diminta untuk dapat menempatkan parameter-parameter numerik terhadap fenomena tertentu. Soal jenis ini biasanya mencakup latihan kemampuan berpikir matematis yang memiliki aspek-aspek yang majemuk terkadang melibatkan beberapa pokok bahasan.&lt;br /&gt;2. Metode menyusun soal open-ended. Menurut Sullivan (Poppy, 2003:4) ada dua metode dalam penyusunan soal open-ended, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Metode bekerja secara terbalik (working backwards). &lt;br /&gt;Metode ini mempunyai tiga langkah utama, yaitu: (1) Mengidentifikasi topik. (2) Memikirkan soal dan menuliskan jawaban terlebih dahulu.  (3) Membuat masalah open-ended berdasarkan jawaban tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Metode penggunaan pertanyaan standar (adapting a standart questions). &lt;br /&gt;Metode ini mempunyai tiga langkah utama dalam penyusunan, yaitu: 1) Mengidentifikasi topik, 2) Memikirkan soal standar. 3) Membuat soal open-ended yang baik berdasarkan pertanyaan standar yang telah ditentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria Penilaian untuk Soal Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal open-ended memungkinkan ragam jawaban siswa, sehingga guru kesulitan menilai hasil pekerjaan siswa. Menurut Sawada (Poppy, 2003:4) untuk mengatasi hal tersebut, prestasi atau hasil pekerjaan siswa dapat dinilai dengan menggunakan beberapa kriteria berikut ini:&lt;br /&gt;1. Kemahiran, diartikan sebagai kemampuan dalam menggunakan beberapa metode penyelesaian.&lt;br /&gt;2. Fleksibilitas, adalah peluang siswa menjawab benar untuk beberapa soal serupa.&lt;br /&gt;3. Keaslian, kategori ini dimaksudkan untuk mengukur keaslian gagasan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Heddens dan Speer (Poppy, 2003:4) menyarankan untuk menilai hasil kerja pendekatan open-ended problem salah satu caranya adalah dengan menentukan skoring dan jawaban siswa melalui “rubrik”. Rubrik ini merupakan skala penilaian baku yang digunakan untuk menilai jawaban siswa dalam soal-soal open-ended. Banyak jenis rubrik berbeda yang digunakan oleh individu dan sekolah.&lt;br /&gt;Salah satu contoh rubrik yang digunakan untuk menentukan skoring jawaban siswa dalam soal-soal open-ended adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memberi skor 4 jika jawaban siswa itu lengkap. Ciri-ciri jawaban siswa ini adalah:&lt;br /&gt;a. Jawaban yang dikemukakan lengkap dan benar.&lt;br /&gt;b. Menggambarkan problem solving, reasoning serta kemampuan berkomunikasi.&lt;br /&gt;c. Jika respon dinyatakan terbuka, semua jawaban benar.&lt;br /&gt;d. Hasil digambarkan secara lengkap.&lt;br /&gt;e. Kesalahan kecil, misalnya pembulatan mungkin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memberikan skor 3 jika jawaban siswa itu menggambarkan kompetensi dasar. Ciri-ciri dari jawaban siswa ini adalah:&lt;br /&gt;a. Jawaban yang dikemukakan benar.&lt;br /&gt;b. Menggambarkan problem solving, reasoning serta kemampuan berkomunikasi.&lt;br /&gt;c. Jika respon dinyatakan terbuka, maka hampir semua jawaban benar.&lt;br /&gt;d. Hasilnya dijelaskan.&lt;br /&gt;e. Beberapa kesalahan kecil yang matematik mungkin ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memberikan skor 2 jika jawaban siswa sebagian. Ciri-ciri dari jawaban siswa ini adalah:&lt;br /&gt;a. Beberapa jawaban mungkin sudah dihilangkan.&lt;br /&gt;b. Menggambarkan problem solving, reasoning serta kemampuan berkomunikasi.&lt;br /&gt;c. Terlihat kurangnya tingkat pemikiran yang tinggi.&lt;br /&gt;d. Kesimpulan dinyatakan namun tidak akurat&lt;br /&gt;e. Beberapa batasan mengenai pemahaman konsep matematika digambarkan.&lt;br /&gt;f. Kesalahan kecil yang matematik mungkin muncul.&lt;br /&gt;4. Memberikan skor 1 jika jawaban siswa hanya sekadar upaya mendapatkan jawaban. Ciri-ciri dari jawaban siswa ini adalah:&lt;br /&gt;a. Jawaban dikemukakan namun tidak pernah mengembangkan ide-ide matematik.&lt;br /&gt;b. Masih kurang ide dalam problem solving, reasoning serta kemampuan berkomunikasi.&lt;br /&gt;c. Beberapa perhitungan dinyatakan salah.&lt;br /&gt;d. Hanya sedikit terdapat penggambaran pemahaman matematik.&lt;br /&gt;e. Siswa sudah berupaya menjawab soal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memberikan skor 0 siswa tidak menjawab. Ciri-ciri dari jawaban siswa ini adalah:&lt;br /&gt;a. Jawaban betul-betul tidak tepat&lt;br /&gt;b. Tidak ada penggambaran tentang problem solving, reasoning atau kemampuan komunikasi.&lt;br /&gt;c. Tidak menyatakan pemahaman matematik sama sekali.&lt;br /&gt;d. Tidak mengemukakan jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunakan skala ini jawaban siswa berada pada rentang skor 0 sampai dengan 4, tergantung pada kekuatan jawabannya. Perbedaan antar skor tidak mudah didefinisikan seperti halnya dalam soal betul-salah. Di samping itu, dengan skor 3 dalam rubrik ini tidak berarti 75 % jawaban siswa benar, namun merupakan nilai pengukuran mengenai apa yang diketahui siswa serta apa yang siswa bisa lakukan dalam situasi yang diberikan.&lt;br /&gt;Rubrik lain yang digunakan adalah dengan menggunakan skala 0–2, 0–6 atau bahkan skala 0–10. lebih sederhana lagi dengan menggolongkan jawaban siswa menjadi tinggi, sedang, dan rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;Pendekatan Open-ended memiliki beberapa keunggulan antara lain (Suherman, dkk, 2003):&lt;br /&gt;1. Siswa berpartisipasi lebih aktif dalam pembelajaran dan sering mengekspresikan idenya.&lt;br /&gt;2. Siswa memiliki kesempatan lebih banyak dalam memanfaatkan pengetahuan dan keterampilan matematika secara komprehensif.&lt;br /&gt;3. Siswa dengan kemampuan matematika rendah dapat merespon permasalahan dengan cara mereka sendiri.&lt;br /&gt;4. Siswa secara intrinsik termotivasi untuk memberikan bukti atau penjelasan.&lt;br /&gt;5. Siswa memiliki pengalaman banyak untuk menemukan sesuatu dalam menjawab permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;Di samping keunggulan, terdapat pula kelemahan dari pendekatan Open-ended, diantaranya (Suherman, dkk, 2003):&lt;br /&gt;1. Membuat dan menyiapkan masalah matematika yang bermakna bagi siswa bukanlah pekerjaan mudah.&lt;br /&gt;2. Mengemukakan masalah yang langsung dapat dipahami siswa sangat sulit sehingga banyak siswa yang mengalami kesulitan bagaimana merespon permasalahan yang diberikan.&lt;br /&gt;3. Siswa dengan kemampuan tinggi bisa merasa ragu atau mencemaskan     jawaban mereka.&lt;br /&gt;4. Mungkin ada sebagaian siswa yang merasa bahwa kegiatan belajar     mereka mereka tidak menyenangkan karena kesulitan yang mereka  hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Masalah Pendekatan Open-ended&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1. Berbagai macam bentuk bangun datar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perhatikan bentuk-bentuk bangun datar yang terdapat dalam kotak di atas, pilih salah satu atau lebih bangun datar yang memiliki karakteristik yang sama dengan bangun datar A serta tuliskan karakteristik tersebut. Selanjutnya pilih salah satu atau lebih bangun datar yang terdapat dalam kotak yang memiliki karakteristik sama dengan bangun datar B dan tuliskan karakteristiknya.&lt;br /&gt;Konteks pedagogi&lt;br /&gt;Permasalahan ini berkaitan langsung dengan topik bangun datar. Tujuan pembelajarannya adalah membantu siswa mengintegrasikan apa yang telah ia pelajari mengenai macam-macam bangun datar dan berbagai bentuk garis, misalnya memilih bentuk bangun datar yang mana yang mempunyai garis yang lurus dan mana bentuk bangun datar yang memiliki garis yang merupakan lungkungan atau seperti kurva. Soal terbuka seperti ini disajikan dengan maksud guru dapat mengemukakan permasalahan dalam format sederhana sehingga dapat direspon siswa dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Contoh respon siswa yang diharapkan untuk bangun datar A&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang Respon siswa&lt;br /&gt;Memiliki garis lurus 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10.&lt;br /&gt;Memiliki 1 garis lurus -&lt;br /&gt;Memiliki 2 garis lurus 1, 3, 6.&lt;br /&gt;Memiliki 3 garis lurus 9, 10.&lt;br /&gt;Memiliki 4 garis lurus 2&lt;br /&gt;Semuanya garis lurus 4, 5, 8, 7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2.  Contoh respon siswa yang diharapkan untuk bangun datar B&lt;br /&gt;Sudut pandang Respon siswa&lt;br /&gt;Memiliki garis lengkung 1, 2, 3, 6, 9, 10.&lt;br /&gt;Memiliki 1 garis lengkung 9, 10.&lt;br /&gt;Memiliki 2 garis lengkung 1, &lt;br /&gt;Memiliki 3 garis lengkung 3, 6,&lt;br /&gt;Memiliki 4 garis lengkung 2, &lt;br /&gt;Semuanya garis lengkung -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan pendekatan Open-ended dalam pembelajaran matematika dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kegiatan kreatif dan berpikir matematika secara simultan. Dalam menyelesaikan suatu permasalahan siswa tidak terpaku hanya pada satu jawaban yang mungkin. Oleh karena itu, hal yang harus diperhatikan adalah memberikan kesempatan dan kebebasan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berpikir dalam mencari alternatif pemecahan dari suatu masalah yang dihadapi sesuai dengan kemampuan, sikap, dan minat yang dimilikinya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi matematika mereka. Dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan open-ended, guru harus menyajikan masalah kepada siswa yang cara penyelesaiannya tidak hanya satu, akan tetapi harus beragam cara penyelesaian yang dapat dilakukan oleh siswa. Guru harus dapat memanfaatkan keragaman cara untuk menyelesaikan masalah itu, untuk memberi pengalaman kepada siswa dalam menemukan seseuatu yang baru berdasarkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir matematik yang sudah dimiliki siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudoyo, H. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matematika.  Jakarta: IKIP Malang.&lt;br /&gt;Marpaung, Y. 2003. Perubahan Paradigma Pembelajaran Matematika di Sekolah. Makalah, disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta, tanggal 28 – 29 Maret 2003&lt;br /&gt;Nohda, N., 2000. Learning and Teaching Trought Open Approach Method, Mathematics Education in Japan. Tokyo: TSME.&lt;br /&gt;Ruseffendi, E. T. 1988.  Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya Dalam Pengajaran Matematika Untuk Meningkatkan CBSA. Bandung: Tarsito.&lt;br /&gt;Sawada, T. 1997.  Developing Lesson Plan. Dalam J. P. Becker &amp; S. Shimada (Ed.). The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics. Virginia: National Council of Teachers of Mathematics.&lt;br /&gt;Shimada, S. 1997.  The Significance of an Open-Ended Approach. Dalam J. P. Becker &amp; S. Shimada (Ed.). The Open-Ended Approach: A New Proposal for Teaching Mathematics.  Virginia: National Council of Teachers of Mathematics..&lt;br /&gt;Suherman, E. dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA.&lt;br /&gt;Poppy, R, Yaniawati. 2003. Pendekatan Open-ended: Salah satu Alternatif Model Pembelajaran Matematika yang Berorientasi Pada Kompetensi Siswa. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Pendidikan Matematika, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Yogyakarta, tanggal 28 – 29 Maret 2003.&lt;br /&gt;Poppy, R. Yaniawati. Pembelajaran Dengan Pendekatan Open-Ended dalam Upaya Meningkatkan Kemampuan Koneksi Matematik Siswa (Studi Eksperimen pada SMU “X” di Bandung)(Online), http://www.jurnal_kopertis4.org/ file/1-poppy-2002.pdf, Diakses tahun 2002&lt;br /&gt;Wahid, B. 2002. Pendekatan Open-Ended dalam Pembelajaran Matematika. Eksponen, 4(1), 62 - 72.&lt;br /&gt;Zamroni. (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-5892826334287622585?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/5892826334287622585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=5892826334287622585&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5892826334287622585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5892826334287622585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/pembelajaran-matematika-dengan.html' title='PEMBELAJARAN MATEMATIKA  DENGAN PENDEKATAN OPEN-ENDED'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7093992565271255628</id><published>2009-11-20T22:07:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T22:07:45.347+07:00</updated><title type='text'>E-Learning Berbasis Video</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa kali mengikuti mata kuliah yang diampu oleh Bapak &lt;a href="http://msuyanto.com/" target="_blank"&gt;Prof. Dr. M. Suyanto (STMIK Amikom)&lt;/a&gt;, saya semakin termotivasi untuk memahami lebih jauh&amp;nbsp; mengenai &lt;strong&gt;teknik pembelajaran berbasis video&lt;/strong&gt;. Beliau mengatakan bahwa ke depan, teknologi web akan lebih didominasi oleh video. Akibatnya, teknologi web berbasis teks dan gambar semakin lama akan semakin ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-1152"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut saya, ini merupakan prospek yang bagus bagi&amp;nbsp; dunia pendidikan. Metode pembelajaran menggunakan video jauh lebih menguntungkan daripada hanya berbasis teks dan gambar, karena sisi interaktivitas dan multimedia lebih tersentuh.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Beberapa pertanyaan yang kemudian muncul dalam angan-angan saya:&lt;br /&gt;1. Sejauhmana teknologi web berbasis video diterapkan di Indonesia ?&lt;br /&gt;2. Apa hubungan antara teknologi web berbasis video dan teknik pembelajaran ?&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita melihat secara seksama, di situs-situs web berbahasa Indonesia sebenarnya sudah ada yang menggunakan video dalam media penyampaiannya. Meskipun belum banyak, saya cukup optimis bahwa beberapa tahun lagi video akan lebih mendominasi halaman web. Kendala utama yang dihadapi di Indonesia saat ini adalah belum tersedianya koneksi internet yang memadai untuk mengakses video secara cepat. Akibatnya, banyak para penyedia informasi web yang enggan untuk menggunakan video. Tentunya, harapan kita semua adalah bahwa pemerintah segera dapat menurunkan tarif internet dan memperluas jaringan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dapat dibayangkan jika setiap pengguna internet di Indonesia memiliki kecepatan akses internet sampai 1 Mbps. Pastinya, video-video yang terdapat di halaman web dapat diakses secara cepat dan mudah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dunia pendidikan, penggunaan video untuk pembelajaran cukup berpengaruh untuk meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Dengan video, seorang guru dapat menjelaskan materi pelajaran secara interaktif dan menarik. Penggunaan video yang didukung sarana multimedia dapat memberikan suasana belajar baru dan tidak membosankan. Disamping itu, guru juga dapat dengan mudah mengulang materi yang sama hanya dengan memutar video yang ada.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Video yang diputar di kelas juga dapat diupload, misalnya melalui youtube, sehingga siswa dapat dengan mudah mengulang materi pelajaran di rumah atau warnet. Kemungkinan lainnya adalah bahwa siswa dapat mendownload &lt;strong&gt;video-video pembelajaran&lt;/strong&gt; yang disediakan oleh guru untuk diputar kembali melalui komputerd dan&amp;nbsp; handpone mereka masing-masing, sehingga ketika belajar siswa dapat memutar videonya berulang-ulang, dimanapun dan kapanpun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya seorang guru ingin menjelaskan langkah-langkah menyelesaikan persamaan kuadrat. Sebelum mengajar, seorang guru membuat video pembelajaran seusai dengan silabus dan rrp persamaan kuadrat. Setelah itu, video tersebut diupload, misalnya melalui &lt;a href="http://www.youtube.com/" target="_blank"&gt;Youtube&lt;/a&gt;. Jika akses internet di sekolah masih lambat, guru dapat menggunakan video versi offline untuk diputar di kelas. Jika kelas paralelnya cukup banyak, maka guru tersebut tinggal memutar berulang kali dan tinggal memberi penekanan-penekanan saja. Pada waktu pelajaran, guru menginformasikan alamat file videonya, sehingga siswa&amp;nbsp; dapat mendownload materi yang disediakan oleh guru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://istiyanto.com/wp-content/uploads/2009/09/video-tutorial.JPG"&gt;&lt;img alt="video tutorial" class="alignnone size-full wp-image-1153" height="156" src="http://istiyanto.com/wp-content/uploads/2009/09/video-tutorial.JPG" title="video tutorial" width="140" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berdasarkan pengalaman saya, untuk membuat video tutorial memang tidak mudah. Dibutuhkan banyak persiapan dan perlengkapan yang memadai. Jika ingin hasil yang maksimal sebaiknya skenario tutorial dipersiapkan terlebih dahulu. Untuk membuat video tutorial, alangkah baiknya jika Anda memiliki &lt;strong&gt;perlengkapan/software&lt;/strong&gt; berikut:&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;1.&lt;strong&gt; Software Camtasia &lt;/strong&gt;(untuk merekam video, biasanya digunakan untuk merekam tutorial-tutorial komputer).&lt;br /&gt;2. &lt;strong&gt;Windows Movie Maker&lt;/strong&gt; (ada di bawaan windows).&lt;br /&gt;3. &lt;strong&gt;Sound Forge&lt;/strong&gt; (untuk mengolah suara).&lt;br /&gt;4. &lt;strong&gt;Ulead Video&lt;/strong&gt; (tidak wajib).&lt;br /&gt;5. &lt;strong&gt;Video Converter&lt;/strong&gt; (untuk memperkecil kapasitas file agar dapat diupload dengan mudah).&lt;br /&gt;6. &lt;strong&gt;Web Cam&lt;/strong&gt; (digunakan untuk merekam tutorial matematika, karena untuk menuliskan rumus matematika atau rumus eksakta lainnya di komputer cukup lama, sehingga tulisan tangan dapat direkam menggunakan web cam eksternal).&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembelajaran melalui komputer/internet disebut dengan &lt;strong&gt;e-learning&lt;/strong&gt;. Sedangkan teknik pembelajaran menggunakan video tutorial menurut saya bisa disebut &lt;strong&gt;e-learning berbasis&lt;/strong&gt; &lt;strong&gt;video&lt;/strong&gt;. Dalam waktu dekat, saya akan membuat video tutorial khusus pembelajaran matematika, baik cara-cara pengerjaan soal maupun penjelasan konsep-konsep dalam matematika. Kemudian video-video tersebut akan saya upload ke Youtube.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk jangka panjangnya, saya akan membuat web khusus video tutorial matematika yang berisi:&amp;nbsp; tutorial matematika,&amp;nbsp; soal matematika, rumus-rumus praktis dan lain-lain. Harapannya adalah para guru, siswa dan orang tua semakin mudah dalam belajar matematika. Semoga rencana ini ke depan bisa berjalan dengan baik. Amien.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7093992565271255628?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7093992565271255628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7093992565271255628&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7093992565271255628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7093992565271255628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/e-learning-berbasis-video.html' title='E-Learning Berbasis Video'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-3184309548829491623</id><published>2009-11-20T21:57:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T21:57:53.025+07:00</updated><title type='text'>12 Tips Sukses Belajar Matematika</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada posting kali&amp;nbsp; ini akan saya akan sedikit memberikan saran agar Anda sukses dalam&amp;nbsp; belajar Matematika. Semoga tutorial ini bisa mengubah cara berpikir Anda yang antipati terhadap Matematika, atau setidaknya mengurangi rasa takut yang berlebihan (&lt;em&gt;phobia&lt;/em&gt;) terhadap Matematika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;Sukses Belajar Matematika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yes, You Can Learn Math !!! Get a “can do” attitude. Kalimat inilah&amp;nbsp; yang seharusnya dalam pikiran Anda. Hal tersebut pasti membuat Anda lebih percaya diri dalam mengerjakan soal Matematika.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-1225"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Anda terampil berolahraga, bermain musik, menari dan lain-lain, Anda pastinya juga dapat mengerjakan soal Matematika. Berikut tips untuk Anda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;1. Berlatih Matematika Sedikit Demi Sedikit Setiap Hari&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hal ini akan membangkitkan rasa percaya diri Anda dan menghilangkan rasa panik/grogi pada waktu ujian Matematika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;2. Memahami Pentingnya Manfaat Belajar Matematika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pelajar SMP atau SMA, berpikirlah realistis bahwa di perkuliahan membutuhkan kemampuan Matematika (aljabar) untuk mendapatkan gelar Sarjana. Beberapa jurusan, misalnya Kimia, Kedokteran, Manajemen, Akuntansi, Teknik Elektro, Statistik dan lain-lain membutuhkan ketrampilan dalam bidang Matematika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah Anda memperoleh gelar Sarjana, tentu saja Anda ingin bekerja sebagai tenaga profesional. Sebagian besar pekerjaan profesional&amp;nbsp; setidaknya membutuhkan kemampuan Matematika. Tentu saja tidak hanya hitung menghitung, melainkan juga kemampuan berpikir analitis, kemampuan problem solving yang baik, berlogika dan lain-lain. Jadi, pikirkanlah dari sekarang bahwa hampir semua bidang dalam kehidupan sehari-hari membutuhkan Matematika.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;3. Rajin Hadir dan Aktif Pada Waktu Pelajaran Matematika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Topik-topik dalam Matematika merupakan topik yang saling terkait dan tidak dapat dipisah-pisahkan sekalipun itu merupakan konsep baru. Ini berarti bahwa pelajaran hari ini merupakan prasyarat untuk besok. Masalah-masalam dalam konsep baru membutuhkan ketrampilan sebelumnya. Misalnya, dapatkah Anda memecahkan soal yang berkaitan dengan pecahan, jika Anda tidak mengetahui konsep perkalian. Kehadiran Anda setiap hari, akan membantu Anda untuk memahami sedikit&amp;nbsp; demi sedikit, sehingga pada ujian akhir tidak terlalu banyak yang dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;4. Kerjakan Selalu Tugas Anda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ini kelihatannya sederhana, tetapi waktu Anda sangatlah terbatas. Di sekolah&lt;br /&gt;Anda tidak hanya memiliki tugas matematika, tetapi tugas yang lain pastilah cukup banyak dan mengantri untuk dikerjakan dan seterusnya. Berpikirlah begini: “Tidak ada pekerjaan rumah, tidak ada latihan”. Pekerjaan rumah (PR) membantu Anda berlatih terapan dari konsep-konsep Matematika.&amp;nbsp; Seperti halnya ketika kita berlatiha menyetir mobil. Semakin banyak kita sering berlatih, maka kemampuan kita untuk mengendarai akan semakin baik dan lebih percaya diri ketika di jalan. Jika Anda hanya berlatih secara teori saja dengan membaca buku manual, Anda tidak akan pernah berlatih dengan kepercayaan diri dan ketrampilan. Saya menyarankan pada Anda untuk berlatih materi pengayaan agar bisa lebih maksimal.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;5. Mencoba Untuk Memahami Soal Matematika&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengerjakan pekerjaan rumah, tanyakan pada diri Anda, apa yang ingin kamu cari dan bagaimana kamu mendapatkan hasilnya. Jangan hanya mengikuti contoh. Kerjakan setiap permasalahan, tahap demi tahap sampai kamu mengerti, mengapa kamu mengerjakan dengan cara demikian dan sampai pada solusinya. Jika Anda mengikuti apa dan mengapa, kamu akan mengetahui apa yang harus kamu kerjakan ketika Anda mengerjakan soal yang mirip.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://istiyanto.com/wp-content/uploads/2009/10/math-class.jpg"&gt;&lt;img alt="math class" class="alignnone size-full wp-image-1230" height="250" src="http://istiyanto.com/wp-content/uploads/2009/10/math-class.jpg" title="math class" width="327" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;(sumber: http://homepage.smc.edu/nestler_andrew/sums25eq.jpg)&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;6. Gunakan Kartu Indeks Untuk Persiapan Ujian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda mengerjakan soal ujian, pastikan bahwa Anda mengerti dengan&lt;br /&gt;permasalahan-permasalahan untuk setiap konsepnya sebagaimana Anda pernah mengerjakannya. Buatlah kartu-kartu indeks yang berisi soal-soal latihan. Acak kartu-kartu tersebut, kemudian aturlah waktu Anda.Kerjakan soal-soal tersebut tanpa membuka buku satu persatu. Hal ini akan memberikan pengalaman seperti halnya simulasi ujian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;7. Bertanya di Kelas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jangan segan untuk bertanya. Guru Anda tidak akan menertawai dengan pertanyaan yang Anda ajukan. Justru guru akan merasa senang dengan pertanyaan Anda, karena Anda telah berusaha untuk memahami penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;8. Bertanya di Luar Kelas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda merasa segan bertanya di dalam kelas, cobalah untuk bertanya di kantor guru atau di tempat lain. Jangan pernah merasa terlambat untuk bertanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;9. Periksa Tugas Rumah Anda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pastikan bahwa ketika Anda berhasil mengerjakan perkerjaan rumah Anda, cobalah untuk membukanya kembali dan jangan sampai Anda lupakan, Konsep Matematika merupakan konsep yang berkesinambungan, sehingga janganlah mencoba untuk melupakan materi sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;10. Perhatikan Guru di Kelas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Matematika seperti bola salju. Jika Anda tidak memperhatikan peringatan dari guru Anda ketika presentasi, Anda akan ketinggalan konsep penting dalam latihan. Ingat, informasi hari ini merupakan pondasi/dasar untuk esok.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;11. Jangan Banyak Bicara di Kelas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda punya pertanyaan, silahkan langsung tanyakan pada guru Anda dan&amp;nbsp; jangan Anda malah ngobrol sendiri atau berbicara dengan teman Anda. Informasi dari teman kelas Anda mungkin saja bisa salah. Cobalah untuk tidak berbicara hal-hal di luar pelajaran agar Anda bisa lebih fokus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;12. Baca dan Pelajarilah Buku Teks Matematika Anda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yap, ada banyak alasan mengapa Anda mengeluarkan uang untuk membeli buku Matematika. Jika Anda perhatikan baik-baik, Anda akan melihat bahwa buku Anda berisi halaman-halaman dengan contoh soal yang baik, penjelasan dan definisi istilah-istilah. Pelajari baik-baik buku Anda dan janganlah sia-siakan buku yang sudah Anda beli.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-3184309548829491623?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/3184309548829491623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=3184309548829491623&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3184309548829491623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3184309548829491623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/12-tips-sukses-belajar-matematika.html' title='12 Tips Sukses Belajar Matematika'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-7160210179898424191</id><published>2009-11-20T21:41:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T21:41:48.514+07:00</updated><title type='text'>Membuat Model Kanker dengan Matematika</title><content type='html'>&lt;div class="meta-top"&gt;         &lt;span class="meta-author"&gt;By &lt;a href="http://istiyanto.com/author/heri/" title="Posts by istiyanto"&gt;istiyanto&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; ·          &lt;span class="meta-date"&gt;November 12, 2009&lt;/span&gt; ·          &lt;span class="meta-category"&gt;Filed in &lt;a href="http://istiyanto.com/category/matematika/" rel="category tag" title="View all posts in Matematika"&gt;Matematika&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/div&gt;&lt;!--post text with the read more link--&gt;  &lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para matematikawan saat ini sedang mengembangkan model virtual pertumbuhan kanker dalam upaya untuk memprediksi bagaimana kanker menyebar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peneliti dari Universitas Dundee telah diberikan lebih dari £ 1.5m untuk datang dengan sebuah model yang dapat mengukur bentuk dan kecepatan dari penyakit.&amp;nbsp; Universitas ini telah lama merintis penggunaan matematika sebagai cara untuk memprediksi perkembangan tumor.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tujuan dari proyek, yang didanai oleh Dewan Riset Eropa, adalah untuk membantu dokter dalam mendiagnosa penyakit. Profesor Mark Chaplain, kepala matematika di Dundee, mengatakan timnya akan menggunakan komputasi canggih teknik matematika untuk mengembangkan model.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-1272"&gt;&lt;/span&gt;Dia berkata: “Salah satu tantangan besar dalam menangani pengobatan kanker adalah bahwa Anda dapat memiliki dua pasien dengan jenis yang sama tumor di daerah yang sama dari tubuh, tetapi mereka akan bereaksi sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pembentukan dan pertumbuhan sel-sel kanker dapat semua diukur – sebagian besar proses-proses biologis dalam tubuh manusia melibatkan banyak berbeda tetapi saling terkoneksi fenomena yang nilai matematika dapat diterapkan.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;‘Uniquely Placed’&lt;br /&gt;Pendekatan pemodelan proyek akan menjadi unik dalam perkembangan suatu individu berbasis model, difokuskan pada tingkat sel dan memperlakukan sifat biomekanis setiap sel. Prof Chaplain dan timnya akan bekerja sama dengan para peneliti dalam ilmu pengetahuan, obat-obatan dan fisika di Dundee untuk mengembangkan model-model baru.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia menambahkan: “Kami secara unik ditempatkan di Dundee dalam memiliki semua keahlian yang dibutuhkan yang relevan di seluruh disiplin ilmu yang berbeda untuk bekerja pada proyek ini.”&amp;nbsp; Hibah meliputi lima tahun dan akan memberikan tujuh posting baru di universitas – tiga pasca-doktoral asisten peneliti, tiga PhD satu tempat penelitian mahasiswa dan dosen.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara maju, dengan sekitar 11 juta orang didiagnosis dan sekitar tujuh juta orang meninggal setiap tahun. Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa trend saat ini menunjukkan sekitar sembilan juta orang akan meninggal pada tahun 2015, dengan jumlah naik menjadi 11,5 juta pada 2030.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;(sumber: www.bbc.co.uk)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-7160210179898424191?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/7160210179898424191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=7160210179898424191&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7160210179898424191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/7160210179898424191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/11/membuat-model-kanker-dengan-matematika.html' title='Membuat Model Kanker dengan Matematika'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-3958111487003133876</id><published>2009-10-09T00:17:00.000+07:00</published><updated>2009-10-09T00:32:18.712+07:00</updated><title type='text'>LOGIKA MATEMATIKA</title><content type='html'>1. Kalimat Berarti dan Tidak Berarti&lt;br /&gt;Tata cara menyusun kalimat Bahasa Indonesia, supaya kalimatnya mempunyai&lt;br /&gt;makna/arti minimal harus terdiri atas subyek, predikat dan obyek yang tersusun&lt;br /&gt;secara benar. Apabila sebuah kalimat tidak tersusun seperti diatas maka kalimat&lt;br /&gt;tersebut tak berarti atau tak bermakna.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Widodo mengerjakan PR di ruang tamu.&lt;br /&gt;Kalimat di atas dapat dimengerti dan dipahami orang lain karena sudah&lt;br /&gt;tersusun secara baik, coba bandingkan dengan kalimat berikut :&lt;br /&gt;Mengerjakan tamu PR Widodo di ruang tamu.&lt;br /&gt;Sebuah kalimat dinyatakan benar atau salah, jika kalimat tersebut hanya memiliki&lt;br /&gt;nilai benar atau salah saja dan tidak kedua-duanya atau dikatakan kalimat yang&lt;br /&gt;disebut pernyataan.&lt;br /&gt;Benar atau salahnya suatu pernyataan dapat ditunjukkan dengan bukti. Apabila&lt;br /&gt;untuk menentukan benar atau salahnya suatu pernyataan harus mengadakan&lt;br /&gt;observasi (penyelidikan) maka pernyataan yang demikian disebut faktual.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a. Pancasila adalah Dasar Negara RI. ( pernyataan benar )&lt;br /&gt;b. 3 &lt; 8 ( pernyataan benar )&lt;br /&gt;c. Nugraha sedang sakit panas. ( faktual )&lt;br /&gt;Kalimat yang tak mempunyai nilai benar/salah disebut bukan pernyataan.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a. Siapa namamu ?&lt;br /&gt;b. Semoga Anda panjang umur.&lt;br /&gt;c. 100 – x = 25&lt;br /&gt;d. Tentukan akar-akar persamaan x 2 – 3x – 10 = 0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kalimat Terbuka dan Tertutup&lt;br /&gt;Kalimat terbuka adalah kalimat yang memuat variabel. Jika variabelnya diganti&lt;br /&gt;oleh suatu konstanta, kalimat tersebut akan berubah menjadi suatu pernyataan.&lt;br /&gt;Konstanta yang menggantikan variabel suatu kalimat terbuka menjadi&lt;br /&gt;pernyataan yang benar disebut penyelesaian dari kalimat terbuka itu.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;8x – 70 = - 6. Jika x diganti dengan 2 maka menjadi pernyataan yang salah,&lt;br /&gt;tetapi jika x diganti dengan 8 maka menjadi pernyataan yang benar.&lt;br /&gt;Pada kalimat di atas 8 disebut penyelesaian. Sebuah kalimat matematika yang tidak&lt;br /&gt;memuat variabel dan dapat dinyatakan benar/salah tetapi tidak kedua-duanya&lt;br /&gt;disebut kalimat tertutup.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a. 7 + 5 = 12 ( benar )&lt;br /&gt;b. 14 – 12 = 20 ( salah )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konjungsi&lt;br /&gt;Dua pernyataan yang digabungkan dengan kata “dan” disebut konjungsi. Penulisan&lt;br /&gt;“dan “ pada konjungsi dilambangkan dengan : “ Ù “. Sedangkan tabel kebenaran&lt;br /&gt;pernyataan-pernyataan konjungsi disampaikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk P Ù Q dikatakan benar jika kedua-duanya benar dalam hal lain&lt;br /&gt;dikatakan salah.&lt;br /&gt;P Q P^Q&lt;br /&gt;B B B&lt;br /&gt;B S S&lt;br /&gt;S B S&lt;br /&gt;S S S&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : 9 adalah bilangan ganjil. ( B )&lt;br /&gt;Q : 9 adalah bilangan prima. ( S )&lt;br /&gt;P Ù Q : 9 adalah bilangan ganjil dan prima. ( S )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Disjungsi&lt;br /&gt;Dua pernyataan yang digabung dengan kata “ atau “ disebut disjungsi. Disjungsi&lt;br /&gt;mempunyai dua arti yang berbeda yaitu :&lt;br /&gt;i. Disjungsi Inklusif&lt;br /&gt;ii. Disjungsi Eksklusif&lt;br /&gt;Disjungsi inklusif mempunyai makna benar jika paling sedikit satu dari&lt;br /&gt;pernyataan bernilai benar. Lambang disjungsi inklusif adalah “ Ú “ dan tabel&lt;br /&gt;kebenarannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;P Q PÚQ&lt;br /&gt;B B B&lt;br /&gt;B S B&lt;br /&gt;S B B&lt;br /&gt;S S S&lt;br /&gt;Pernyatan majemuk P Ú Q dikatakan salah jika kedua-duanya salah, dalam hal lain&lt;br /&gt;dikatakan benar.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : Tono pergi foto copy.&lt;br /&gt;Q : Andi pergi foto copy.&lt;br /&gt;P Ú Q : Tono atau Andi pergi foto copy.&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Pada contoh dapat mempunyai makna sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Tono pergi foto copy sedang Andi tidak pergi foto copy.&lt;br /&gt;2. Tono tidak pergi foto copy sedang Andi pergi foto copy.&lt;br /&gt;3. Tono dan Andi kedua-duanya pergi foto copy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijungsi eksklusif mempunyai makna benar jika paling sedikit satu&lt;br /&gt;pernyataan benar tetapi tidak kedua-duanya. Disjungsi eksklusif mempunyai&lt;br /&gt;lambang “ Ú “ dan tabel kebenaran dari disjungsi eksklusif sebagai berikut :&lt;br /&gt;P Q PÚQ&lt;br /&gt;B B S&lt;br /&gt;B S B&lt;br /&gt;S B B&lt;br /&gt;S S S&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk P Ú Q dikatakan bernilai salah jika P dan Q bernilai sama,&lt;br /&gt;dalam hal lain dikatakan benar.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : Ibu sedang pergi ke pasar.&lt;br /&gt;Q : Ibu sedang memasak.&lt;br /&gt;P Ú Q : Ibu sedang pergi ke pasar sedang memasak.&lt;br /&gt;Keterangan :&lt;br /&gt;Contoh di atas mempunyai makna :&lt;br /&gt;1. Ibu sedang pergi ke pasar tetapi tidak sedang memasak.&lt;br /&gt;2. Ibu tidak sedang pergi ke pasar tetapi sedang memasak.&lt;br /&gt;3. Tidak mungkin ibu sedang pergi ke pasar sekaligus sedang memasak begitu pula&lt;br /&gt;sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Implikasi ( kondisional )&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk yang berbentuk “ jika P maka Q “ disebut implikasi atau&lt;br /&gt;kondisional. Lambang implikasi adalah : “ P ® Q “ atau “ P ⇒ Q “.&lt;br /&gt;Dari lambang di atas bermakna :&lt;br /&gt;1. Jika P maka Q&lt;br /&gt;2. P hanya jika Q&lt;br /&gt;3. P syarat yang cukup untuk Q&lt;br /&gt;4. Q syarat yang perlu untuk P&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk “ P ® Q “bernilai salah jika P benar dan Q salah, dalam hal&lt;br /&gt;lain bernilai benar.&lt;br /&gt;Tabel kebenaran dari implikasi sebagai berikut :&lt;br /&gt;P Q P®Q&lt;br /&gt;B B B&lt;br /&gt;B S S&lt;br /&gt;S B B&lt;br /&gt;S S B&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : 7 x 2 = 72 ( S )&lt;br /&gt;Q : 6 + 4 = 10 ( B )&lt;br /&gt;P®Q : Jika 7 x 2 = 72 maka 6 + 4 = 10 ( B ).&lt;br /&gt;4. Bi-Implikasi&lt;br /&gt;Pernyataan majemuk yang berbentuk “ P jika dan hanya jika Q “ disebut Bi-implikasi.&lt;br /&gt;Penulisan Bi-implikasi menggunakan lambang “ P « Q atau P Û Q “.&lt;br /&gt;Dari lambang di atas bermakna :&lt;br /&gt;1. P jika dan hanya jika Q.&lt;br /&gt;2. P ekuivalen Q.&lt;br /&gt;3. P syarat yang perlu dan cukup untuk Q.&lt;br /&gt;Jika P dan Q dua pernyataan yang tersusun sebagai “P « Q “ maka tabel&lt;br /&gt;kebenarannya sebagai berikut :&lt;br /&gt;P Q P«Q&lt;br /&gt;B B B&lt;br /&gt;B S S&lt;br /&gt;S B S&lt;br /&gt;S S B&lt;br /&gt;Pernyataan P « Q bernilai benar jika P dan Q bernilai sama, dalam hal lain bernilai&lt;br /&gt;salah .&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : 7 &lt; - 20 ( S )&lt;br /&gt;Q : 20 adalah bilangan ganjil. ( S )&lt;br /&gt;P«Q : 7 &lt; - 20 jika dan hanya jika 20 adalah bilangan ganjil. ( S )&lt;br /&gt;5. Negasi&lt;br /&gt;Negasi atau ingkaran adalah penolakan dari pernyataan yang ada. Jika sebuah&lt;br /&gt;pernyataan bernilai salah maka negasinya bernilai benar dan jika pernyataan&lt;br /&gt;bernilai benar maka negasinya bernilai salah. Penulisan lambang negasi P adalah “ ~&lt;br /&gt;P “. Untuk menentukan ingkaran atau negasi dari sebuah pernyataan maka&lt;br /&gt;penulisan ditambah kata “ tidak , tidak benar bahwa, atau bukan “ di depan&lt;br /&gt;pernyataan.&lt;br /&gt;Tabel kebenaran dari negasi adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;P ~ P P ~ P&lt;br /&gt;B S 1 0&lt;br /&gt;S B 0 1&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;P : 2 adalah bilangan prima. ( B )&lt;br /&gt;~ P : 2 adalah bukan bilangan prima. ( S )&lt;br /&gt;Negasi dari pernyataan ekuivalen dengan disjungsi dari masing-masing&lt;br /&gt;konjungsinya dan begitu sebaliknya. Bentuk kesetaraan di atas disebut juga&lt;br /&gt;dengan dalil De-Morgan, yaitu :&lt;br /&gt;~ ( P Ù Q ) º ~ P Ú ~ Q&lt;br /&gt;~ ( P Ú Q ) º ~ P Ù ~ Q&lt;br /&gt;Selain dalil De-Morgan masih banyak kesetaraan yang lain, misalnya :&lt;br /&gt;~ ( P ® Q ) º P Ù ~ Q&lt;br /&gt;~ ( P « Q ) º ( P Ù ~ Q ) Ú ( Q Ù ~ P )&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;a. 8 adalah bilangan genap dan bulat.&lt;br /&gt;Negasinya : 8 adalah bukan bilangan genap atau bukan bilangan&lt;br /&gt;bulat.&lt;br /&gt;b. Kita dapat berbelanja di Toko Laris atau di Matahari Dept. Store.&lt;br /&gt;Negasinya : Kita dapat berbelanja tidak di Toko Laris dan tidak di&lt;br /&gt;Matahari Dept. Store.Jika implikasi P ® Q maka dapat dibuat pernyataan–pernyataan implikasi&lt;br /&gt;yang lain, yaitu : 1. Konvers : Q ® P&lt;br /&gt;2. Invers : ~P ® ~Q&lt;br /&gt;3. Kontraposisi : ~Q ® ~P&lt;br /&gt;Tabel kebenaran :&lt;br /&gt;Implikasi Konvers Invers Kontraposisi&lt;br /&gt;P Q ~ P ~ Q P ® Q Q ® P ~ P ® ~ Q ~ Q ® ~ P&lt;br /&gt;B B S S B B B B&lt;br /&gt;S B B S B S S B&lt;br /&gt;S S B B B B B B&lt;br /&gt;B S S B S B B S&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan tabel kebenaran di atas dapat diambil kesimpulan&lt;br /&gt;sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. P ® Q º ~ Q ® ~ P , suatu implikasi ekuivalen dengan kontraposisi.&lt;br /&gt;b. Q ® P º ~ P ® ~ Q , suatu konvers ekuivalen dengan invers.&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;ekuivalen&lt;br /&gt;ekuivalen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Implikasi : Jika x 2 = 81, maka x = 9&lt;br /&gt;Konvers : Jika x = 9, maka x 2 = 81&lt;br /&gt;Invers : Jika x 2 ¹ 81, maka x ¹ 9&lt;br /&gt;Kontraposisi : Jika x ¹ 9, maka x 2 ¹ 81&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Implikasi : Jika suatu bilangan habis dibagi 2 maka bilangan itu genap.&lt;br /&gt;Konvers : Jika bilangan genap maka bilangan itu habis dibagi 2.&lt;br /&gt;Invers : Jika bilangan itu tidak habis dibagi 2 maka bilangan itu bukan&lt;br /&gt;genap.&lt;br /&gt;Kontraposisi : Jika suatu bilangan bukan genap maka bilangan itu tidak&lt;br /&gt;habis dibagi 2.Dalam pembelajaran logika ada beberapa cara pengambilan kesimpulan yang disebut&lt;br /&gt;sebagai argument, antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Modus Ponens.&lt;br /&gt;a. Premis 1 : P ® Q atau b. Premis 1 : P&lt;br /&gt;Premis 2 : P Premis 2 : P ® Q&lt;br /&gt;Konklusi : Q Konklusi : Q&lt;br /&gt;Tabel kebenaran berikut menunjukkan bahwa penarikan kesimpulan dengan&lt;br /&gt;modus Ponens termasuk dalam katagori valid.&lt;br /&gt;P Q P ® Q (P ® Q) Ù P {(P ® Q) Ù P} ® Q&lt;br /&gt;B B B B B&lt;br /&gt;B S S S B&lt;br /&gt;S B B S B&lt;br /&gt;S S B S B&lt;br /&gt;Contoh : Premis 1 : Jika hari ini hujan maka saya membawa payung.&lt;br /&gt;Premis 2 : Hari ini hujan.&lt;br /&gt;Konklusi : Saya membawa payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Modus Tollens.&lt;br /&gt;Premis 1 : P ® Q&lt;br /&gt;Premis 2 : ~ Q&lt;br /&gt;Konklusi : ~ P&lt;br /&gt;Tabel kebenaran Modus Tollens&lt;br /&gt;P Q ~ P ~ Q P ® Q (P ® Q) Ù ~ Q {(P ® Q) Ù ~ Q ® ~ P&lt;br /&gt;B B S S B S B&lt;br /&gt;B S S B S S B&lt;br /&gt;S B B S B S B&lt;br /&gt;S S B B B B B&lt;br /&gt;Contoh : Premis 1 : Jika saya sakit maka saya pergi ke dokter.&lt;br /&gt;Premis 2 : Saya tidak pergi ke dokter.&lt;br /&gt;Konklusi : Saya tidak sakit.&lt;br /&gt;3. Silogisme.&lt;br /&gt;i. Silogisme Disjungsi&lt;br /&gt;1. Premis 1 : P Ú Q atau 2. Premis 1 : P Ú Q&lt;br /&gt;Premis 2 : ~ Q Premis 2 : ~ P&lt;br /&gt;Konklusi : P Konklusi : Q&lt;br /&gt;Tabel kebenaran Silogisme Disjungsi&lt;br /&gt;P Q ~ Q P Ú Q (P Ú Q) Ù ~ Q {(P Ú Q) Ù ~ Q } ® P&lt;br /&gt;B B S B S B&lt;br /&gt;B S B B B B&lt;br /&gt;S B S B S B&lt;br /&gt;S S B S S B&lt;br /&gt;Contoh : Premis 1 : Subali anak yang rajin atau Subali anak yang kaya.&lt;br /&gt;Premis 2 : Subali anak yang tidak rajin.&lt;br /&gt;Konklusi : Subali anak yang kaya.&lt;br /&gt;ii. Silogisme Hipotetik&lt;br /&gt;Premis 1 : P ® Q&lt;br /&gt;Premis 2 : Q ® R&lt;br /&gt;Konklusi : P ® R&lt;br /&gt;Tabel kebenaran Silogisme Disjungsi&lt;br /&gt;P Q R P ® Q Q ® R (P ® Q) Ù (Q ® R) P ® R (P®Q)Ù(P®R)®(P®R)&lt;br /&gt;B B B B B B B B&lt;br /&gt;B B S B S S S B&lt;br /&gt;B S B S B S B B&lt;br /&gt;B S S S B S S B&lt;br /&gt;S B B B B B B B&lt;br /&gt;S B S B S S B B&lt;br /&gt;S S B B B B B B&lt;br /&gt;S S S B B B B B&lt;br /&gt;Contoh :Premis 1 : Jika saya rajin maka saya naik kelas.&lt;br /&gt;Premis 2 : Jika saya naik kelas maka saya dibelikan sepeda motor.&lt;br /&gt;Konklusi : Jika saya rajin maka saya dibelikan sepeda motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SOAL TES TERTULIS&lt;br /&gt;Lengkapi pernyataan-pernyataan berikut sehingga menjadi argument yang valid!&lt;br /&gt;1. Premis 1 : …………………………………………………………….&lt;br /&gt;Premis 2 : x adalah bilangan bulat&lt;br /&gt;Konklusi : x memenuhi x + 10 = 5&lt;br /&gt;2. Premis 1 : …………………………………………………………….&lt;br /&gt;Premis 2 : y bukan bilangan asli.&lt;br /&gt;Konklusi : y bukan bilangan prima.&lt;br /&gt;3. Premis 1 : …………………………………………………………….&lt;br /&gt;Premis 2 : Jika diri kita sehat maka kita dapat berhemat.&lt;br /&gt;Konklusi : Jika lingkungan kita bersih maka kita dapat menghemat.&lt;br /&gt;Lanjutkan pernyataan-pernyataan berikut sehingga menjadi argument yang valid!&lt;br /&gt;4. Premis 1 : Jika Subali bintang Bollywood maka Subali terkenal.&lt;br /&gt;Premis 2 : Subali tidak terkenal.&lt;br /&gt;Konklusi : ……………………………………………………………..&lt;br /&gt;5. Premis 1 : Jika matahari terbit dari barat maka hari kiamat.&lt;br /&gt;Premis 2 : ……………………………………………………………..&lt;br /&gt;Konklusi : Matahari tidak terbit dari barat.&lt;br /&gt;6. Premis 1 : Jika 12 bilangan bulat maka 12 habis dibagi dua.&lt;br /&gt;Premis 2 : 12 bilangan bulat.&lt;br /&gt;Konklusi : ……………………………………………………………..&lt;br /&gt;7. Premis 1 : Jika kita menang dalam pertandingan final maka kita juara.&lt;br /&gt;Premis 2 : ……………………………………………………………..&lt;br /&gt;Konklusi : Jika kita menang dalam pertandingan final maka kita&lt;br /&gt;mendapat piala gubernur.&lt;br /&gt;Kunci Jawaban&lt;br /&gt;1. Jika x adalah bilanagn bulat maka x memenuhi x + 10 = 5&lt;br /&gt;2. Jika y bilangan prima maka y bilangan asli.&lt;br /&gt;3. Jika lingkungan kita bersih maka diri kita sehat.&lt;br /&gt;4. Subali bukan bintang Bollywood.&lt;br /&gt;5. Hari ini tidak kiamat.&lt;br /&gt;6. habis dibagi dua.&lt;br /&gt;7. Jika kita juara maka kita mendapat piala gubernur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-3958111487003133876?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/3958111487003133876/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=3958111487003133876&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3958111487003133876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/3958111487003133876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/10/1.html' title='LOGIKA MATEMATIKA'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6652436045368238173.post-5294989798445249733</id><published>2009-10-09T00:16:00.001+07:00</published><updated>2009-10-11T00:03:49.221+07:00</updated><title type='text'>CONTOH SOAL DAN PENYELESAIANYA</title><content type='html'>1. Penyelesaian dari system persamaan 2x + 3y = 19 dan x – y = 2 adalah x1 dan y1. Nilai dari x1 + y1 = ….&lt;br /&gt;A. 7&lt;br /&gt;B. 3&lt;br /&gt;C. 5&lt;br /&gt;D. 8&lt;br /&gt;E. 6&lt;br /&gt;2. Seorang ibu membeli buah A dengan harga Rp 15.000/ kg dan buah B Rp 30.000/ kg, ibu tersebut harus membayar Rp 450.000. Jika banyak buah yang tersedia 20 kg, maka buah A dan buah B yang harus dibeli ibu tersebut adalah&lt;br /&gt;A. 10 kg dan 10 kg&lt;br /&gt;B. 15 kg dan 5 kg&lt;br /&gt;C. 5 kg dan 15 kg&lt;br /&gt;D. 20 kg dan 0 kg&lt;br /&gt;E. 0 kg dan 20 kg&lt;br /&gt;3. System pertidaksamaan linear yang memenuhi dari daerah yang diarsir pada gambar adalah ….&lt;br /&gt;X 8 6 5 8 9 Y&lt;br /&gt;A. 3x + 2y ≥ 18; 2x+2y≤ 16; x ≤ 5&lt;br /&gt;B. 2x + 3y ≥ 18; 2x + 2y ≥ 16; x ≤ 5&lt;br /&gt;C. 2x + 3y≥ 18; 2x + 2y ≤ 16; x ≤ 5&lt;br /&gt;D. 2x + 3y≥ 18; 2x + 2y ≤ 16; x ≥ 5&lt;br /&gt;E. 2x + 3y≤ 18; 2x + 2y ≥ 16; x ≥ 5&lt;br /&gt;4. Suatu tempat parkir memiliki luas 600 m2, hanya mampu menampung 58 mobil dan bus. Tiap mobil membutuhkan tempat 6m2 dan bus 24m2. Biaya parkir tiap mobil Rp 1.000,00, dan bus Rp 1.500,00. Jika tempat parkir itu penuh maka hasil dari biaya parkir maksimum adalah ….&lt;br /&gt;A. Rp 44.000,00&lt;br /&gt;B. Rp 70.000,00&lt;br /&gt;C. Rp 65.000,00&lt;br /&gt;D. Rp 96.000,00&lt;br /&gt;E. Rp 87.000,00&lt;br /&gt;5. Diketahui matriks&lt;br /&gt;⎥⎥⎥⎦⎤⎢⎢⎢⎣⎡+−=⎥⎥⎥⎦⎤⎢⎢⎢⎣⎡−−−1142134212110)1(24233zyxyxyx&lt;br /&gt;, maka nilai dari x + y + z = ….&lt;br /&gt;A. 18&lt;br /&gt;B. 17&lt;br /&gt;C. 16&lt;br /&gt;D. 15&lt;br /&gt;E. 24&lt;br /&gt;6. Diketahui matriks Amaka Determinant dari matriks A⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛−28413t ( A transpose ) adalah ….&lt;br /&gt;A. 48&lt;br /&gt;B. 58&lt;br /&gt;C. 68&lt;br /&gt;D. 63&lt;br /&gt;E. 42&lt;br /&gt;7. Diketahui . Nilai x dan y yang memenuhi adalah : ⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛=⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛854231yx&lt;br /&gt;A. 3 dan 1&lt;br /&gt;B. 2 dan 1&lt;br /&gt;C. -3 dan 1&lt;br /&gt;D. 1 dan -2&lt;br /&gt;E. 2 dan 3&lt;br /&gt;8. Diketahui matrik , , . Jika 2A-B=C, maka nilai a+b=…. ⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛=baA43⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛=abB45⎟⎟⎠⎞⎜⎜⎝⎛=0413C&lt;br /&gt;A. -3&lt;br /&gt;B. -1&lt;br /&gt;C. 1&lt;br /&gt;D. 2&lt;br /&gt;E. 3&lt;br /&gt;Selamat mengikuti Ujian&lt;br /&gt;Setiap Perjuangan membutuhkan pengorbanan, dan setiap pengorbanan membutuhkan keikhlasan, maka jadilah diri anda orang – orang yang senantiasa hidup dengan hati yang ikhlas. (M.Yus Efendi)&lt;br /&gt;Penyelesaian Soal-soal&lt;br /&gt;1. 2x + 3y = 19 1 2x + 3y = 19&lt;br /&gt;x – y = 2 2 2x - 2y = 4 _&lt;br /&gt;5y = 15&lt;br /&gt;y = 3√&lt;br /&gt;Jawab : D. 8√&lt;br /&gt;x - y = 2&lt;br /&gt;x - 3 = 2&lt;br /&gt;x = 2 + 3&lt;br /&gt;x = 5√&lt;br /&gt;Maka = x + y&lt;br /&gt;= 5 + 3&lt;br /&gt;= 8√&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;BUAH&lt;br /&gt;HARGA&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;B&lt;br /&gt;15.000,-&lt;br /&gt;30.000,-&lt;br /&gt;2D&lt;br /&gt;450.000,-&lt;br /&gt;X + Y &lt; 20 y= 0 →X = 20, … ( 20,0) dan x = 0 → Y = 20 …. ( 0,20 )&lt;br /&gt;15.000 X + 30.000 Y &lt; 450.000 15 x + 30 y ≤ 450 atau x + 2y ≤ 30 sehingga diperoleh:&lt;br /&gt;⇒ y = 0 →X = 30, didapat titik ( 30,0 )dan x = 0 →Y = 15 didapat titk ( 0,15) ( sebagai tambahan )&lt;br /&gt;Y&lt;br /&gt;X&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;15&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;25&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;35&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;X = 10&lt;br /&gt;Y = 10&lt;br /&gt;Jadi, buah A = 10 dan Buah B = 10√&lt;br /&gt;(10,10)&lt;br /&gt;Jawab : A 10 kg dan 10 kg√&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;X 8 6 5 8 9 Y&lt;br /&gt;Garis I = 9x + 6y ≥ 54 ⇔ 3x + 2y ≥ 18&lt;br /&gt;Garis 2 = 8x + 8y ≤ 64 ⇔ x + y ≤ 8 atau 2x + 2y ≤ 16&lt;br /&gt;Garis 3 = X ≤ 5&lt;br /&gt;Jawab : A. 3x + 2y ≥ 18, 2x + 2y ≤ 16, x ≤ 5&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Kendaraan&lt;br /&gt;Luas&lt;br /&gt;Harga&lt;br /&gt;Mobil&lt;br /&gt;Bus&lt;br /&gt;6&lt;br /&gt;24&lt;br /&gt;1.000&lt;br /&gt;1.500&lt;br /&gt;58&lt;br /&gt;600&lt;br /&gt;X + y ≤ 58 F (x, y) = 1.000x + 1.500y&lt;br /&gt;6x + 29 ≤ 600&lt;br /&gt;Pperhatikan perbaikan pada soal nomor 3 diatas !&lt;br /&gt;X = 58, y = 58&lt;br /&gt;X = 100, y = 25&lt;br /&gt;Y&lt;br /&gt;X&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;70&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;20&lt;br /&gt;10&lt;br /&gt;30&lt;br /&gt;40&lt;br /&gt;50&lt;br /&gt;60&lt;br /&gt;70&lt;br /&gt;80&lt;br /&gt;90&lt;br /&gt;100&lt;br /&gt;▪&lt;br /&gt;( 44,14)&lt;br /&gt;x + y = 58 6 6x + 6y = 348&lt;br /&gt;6x + 24 y = 600 1 6x + 24y = 600_&lt;br /&gt;-18y = - 252&lt;br /&gt;18y = 252&lt;br /&gt;y = 14√&lt;br /&gt;x + y = 58&lt;br /&gt;x + 14 = 58&lt;br /&gt;x = 58 – 14&lt;br /&gt;x = 44√&lt;br /&gt;F ( x, y ) = 1.000 x + 1.500 y&lt;br /&gt;= 1.000 (44) + 1.500 (14)&lt;br /&gt;= 44.000 + 21.000&lt;br /&gt;= 65.000√&lt;br /&gt;Jawab : C. Rp. 65.000&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;=&lt;br /&gt;2x – 4y 12 11&lt;br /&gt;4 13&lt;br /&gt;12 2&lt;br /&gt;0 11&lt;br /&gt;4 2(x-1) – y&lt;br /&gt;3x - 3y 2&lt;br /&gt;3x - 3y = 12&lt;br /&gt;2x - 2 - y = 13&lt;br /&gt;2x - y = 15&lt;br /&gt;3x - 3y = 12 2 6x - 6y = 24&lt;br /&gt;2x - y = 15 3 6x - 3y = 600_&lt;br /&gt;- 3y = - 21&lt;br /&gt;y = 7√&lt;br /&gt;2x - 4y + z = 0&lt;br /&gt;22 - 28 + z = 0&lt;br /&gt;-6 + z = 0&lt;br /&gt;z = -6√&lt;br /&gt;3x - 3( 7 ) = 12&lt;br /&gt;3x = 12 + 21&lt;br /&gt;3x = 33&lt;br /&gt;X = 11√&lt;br /&gt;Maka = x + y + 2 = 11 + 7 + 6&lt;br /&gt;= 24√&lt;br /&gt;8 2&lt;br /&gt;13 -4&lt;br /&gt;6. A =&lt;br /&gt;AT =&lt;br /&gt;AT = 26 + 32&lt;br /&gt;= 58√&lt;br /&gt;Jawab : B. 58√&lt;br /&gt;7. Diketahui : =&lt;br /&gt;x - 3y = 12 2 2x + 6y = 10&lt;br /&gt;2x - y = 15 1 2x + 4y = 8_&lt;br /&gt;13 8&lt;br /&gt;-4 2&lt;br /&gt;1 3&lt;br /&gt;2 4&lt;br /&gt;x&lt;br /&gt;y&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;8&lt;br /&gt;2y = 2&lt;br /&gt;y = 1√&lt;br /&gt;x + 3 (1) = 5&lt;br /&gt;x = 5 -3&lt;br /&gt;x = 2√&lt;br /&gt;Jadi : x dan y adalah 2 dan 1&lt;br /&gt;Jawab : B. 2 dan 1√&lt;br /&gt;8. 2A - B = C&lt;br /&gt;2 - =&lt;br /&gt;- =&lt;br /&gt;2a - b = 3&lt;br /&gt;2b - a = 0&lt;br /&gt;Maka :&lt;br /&gt;2a - b = 3 1 3a - b = 3&lt;br /&gt;-a + 2b = 0 -2 2a - 4b = 0 _&lt;br /&gt;a 3&lt;br /&gt;a b&lt;br /&gt;b 5&lt;br /&gt;4 a&lt;br /&gt;3 1&lt;br /&gt;4 0&lt;br /&gt;2a 6&lt;br /&gt;8 2b&lt;br /&gt;b 5&lt;br /&gt;4 a&lt;br /&gt;3 1&lt;br /&gt;4 0&lt;br /&gt;3b = 3&lt;br /&gt;b = 1√&lt;br /&gt;2a - 1 = 3&lt;br /&gt;2a = 2&lt;br /&gt;a = 2&lt;br /&gt;a + b = 2 + 1&lt;br /&gt;= 3√&lt;br /&gt;Jawab : E. 3√&lt;br /&gt;Binjai Desember 2008&lt;br /&gt;M.Yus Efendi,S.Pd&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6652436045368238173-5294989798445249733?l=nyotomathematic.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/feeds/5294989798445249733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6652436045368238173&amp;postID=5294989798445249733&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5294989798445249733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6652436045368238173/posts/default/5294989798445249733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nyotomathematic.blogspot.com/2009/10/contoh-soal-dan-penyelesaianya.html' title='CONTOH SOAL DAN PENYELESAIANYA'/><author><name>Nyoto Adi Saputro</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01573666312815550678</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_ljpo4YFakg0/Ss4P2qBAGdI/AAAAAAAAAAc/3J_dMSt8Sbs/S220/Copy+of+DSCN0699.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
